Pikiran Rakyat
USD Jual 14.130,00 Beli 13.830,00 | Sebagian cerah, 27.1 ° C

Irigasi Cikunten Ditutup untuk Rehabilitasi, Petani Bersuara

Bambang Arifianto
PENGENDARA melintasi saluran irigasi Cikunten di Kampung Ceungceum, Desa Jayamukti, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu, 10 Juli 2019. Penutupan irigasi Cikunten untuk pelaksanaan rehabilitasi mengancam kegiatan pembudidayaan ikan tawar dan pertanian di sejumlah kecamatan Kabupaten Tasikmalaya.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
PENGENDARA melintasi saluran irigasi Cikunten di Kampung Ceungceum, Desa Jayamukti, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu, 10 Juli 2019. Penutupan irigasi Cikunten untuk pelaksanaan rehabilitasi mengancam kegiatan pembudidayaan ikan tawar dan pertanian di sejumlah kecamatan Kabupaten Tasikmalaya.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

SINGAPARNA, (PR).- Pemerintah harus mencarikan solusi agar proyek rahabilitas irigasi Cikunten tak berdampak kepada para petani Kabupaten Tasikmalaya akibat kehilangan pasokan air. Rencana penutupan aliran irigasi Cikunten dengan waktu pengerjaan selama 200 hari bisa berdampak kegagalan panen hingga menyulut konflik antarpetani.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya ‎Roni  A. Sahroni mengatakan, rencana rehabilitasi saluran irigasi tersebut memunculkan dilema. Di satu sisi, perbaikan irigasi bisa menguntungkan karena fungsi saluran air bakal lebih optimal.

Ujung-ujungnya, lanjut Roni, petani akan merasakan manfaat lantaran saluran air lancar setelah direhabilitasi. Akan tetapi, durasi pengerjaan proyek yang berlangsung 200 hari serta penutupan total saluran selama empat hari dalam seminggu juga berdampak negatif bagi petani.

Apalagi, petani tengah menghadapi musim kemarau. Terhentinya pasokan air otomatis mengganggu pertumbuhan padi dan bisa membuat gagal panen.

Roni mengaku telah mendapat masukan dari petani yang mengeluhkan proyek pemerintah pusat itu. Di wilayah Padakembang, lanjutnya, ada petani yang meminta rencana penutupan irigasi selama empat hari dan dibuka dua hari itu ditinjau ulang.

"Berat karena air tidak mencukupi, bagi (pengguna air) di hulu cukup, tetapi yang di hilir tidak sampai (dapat pasokan air)," tuturnya kepada Pikiran Rakyat, Kamis, 11 Juli 2019.

Aliran irigasi bisa habis di jalan karena dipakai pengguna air lain. Akibatnya, petani dan warga di kawasan hilir tak memperoleh pasokan air yang dibutuhkan. Roni mengungkapkan, petani Padakembang tersebut mengusulkan agar penutupan irigasi berlangsung tiga hari dan dibuka juga selama tiga hari.

Meski demikian, Roni menilai para petani dari wilayah kemungkinan memiliki aspirasi atau usulan yang berbeda. Untuk itu, Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya beserta perwakilan petani berencana menyambangi Kanto Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy di Kota Banjar untuk berkonsultasi, Jumat, 12 Juli 2019. 

"Karena memang itu (rehabilitasi irigasi Cikunten) bukan kewenangan kita, tetapi kita tetap menyambungkan (suara) petani," ujarnya. Kendati terkait langsung dengan kepentingan petani, Roni menyebut belum mendapat sosalisasi mengenai proyek kepada instansinya. 

‎"Betul kita cukup paham bahwa proyek itu dilaksanakan dalam rangka perbaikan, tetapi dalam kondisi kekeringan (kemarau) kita berkehendak juga si pelaksana kegiatan mendengar juga keinginan petani yang saat ini sedang butuh (air)," ucapnya.

Tak pelak, perlu solusi agar perbaikan irigasi tak berdampak negatif bagi petani. ‎ "Harus ada solusi (agar) proyek dilaksanakan, kebutuhan air petani kacumponan (terpenuhi)," tuturnya.

Peran dominan

Peranan irigasi Cikunten sangat dominan dalam mengairi pesawahan Kabupaten hingga Kota Tasikmalaya. Lahan-lahan pesawahan Kabupaten Tasikmalaya yang teraliri irigasi itu berada di Kecamatan Sariwangi, Leuwisari, Sukarame, Singaparna, Padakembang. Irigasi tersebut juga mengalir ke wilayah Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya.

Sawah-sawah dengan usia padi 45 hari ke bawah paling terdampak jika pasokan air berkurang.‎ "Karena padi itu varietas yang membutuhkan air yang cukup, kalau misalnya kurang akan berpengaruh kepada pertumbuhan buah padinya," kata Roni.

Pertumbuhan buah padi tidak optimal dengan daun yang menguning kendati belum masa panen. Kondisi paling buruk bisa terjadi berupa kegagalan panen karena persoalan pasokan air tersebut.

Tak hanya itu, urusan air bisa menimbulkan gesekan sesama petani. Konflik terpicu saat ada petani yang mendapatkan air dan tidak.

Dari penelusuran laman https://lpse.pu.go.id, terdapat dua paket pengerjaan yakni rehabilitasi jaringan irigasi di Cikunten 1 dan II. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menjadi instansi pengelola proyek dengan sumber dana dari APBN 2019.

Nilai pagu paket Cikunten 1 dan 11 mencapai Rp 52.972.220.000,00. Paket Cikunten 1 berlokasi di Leuwisari Kabupaten Tasikmalaya. Sementara Cikunten 11 di Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya dan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya.  

Di tempat terpisah, Analis Sumber Daya Air Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Ciwulan-Cilaki Iman Setiana mengonfirmasi proyek rehabilitasi irigasi Cikunten merupakan kewenangan pemerintah pusat melalui BBWS Citanduy.

"Kita di Cikunten 1 dan 11 sebagai petugas pembantuan," ujar Iman di kantornya, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kawalu, Kota Tasikmalaya, Kamis siang.

Petugas PSDA Ciwulan-Cilaki bertanggung jawab pada pintu-pintu air saluran irigasi. Menurutnya, irigasi Cikunten mengalami sedimentasi dan persoalan sampah. Terkadang, air yang melalui irigasi berbalik karena persoalan sedimentasi dan sampah tersebut.***

Bagikan: