Pikiran Rakyat
USD Jual 14.039,00 Beli 14.137,00 | Umumnya cerah, 24.9 ° C

Eceng Gondok Tutupi 70 Persen Waduk Cirata

Shofira Hanan
KONDISI sejumlah jaring apung di perairan Jangari, Kabupaten Cianjur. Saat ini, eceng gondok terus memenuhi area perairan Jangari, sehingga dikhawatirkan menganggu budidaya ikan karena minimnya pasokan oksigen dapat membuat ikan mati.*/SHOFIRA HANAN/PR
KONDISI sejumlah jaring apung di perairan Jangari, Kabupaten Cianjur. Saat ini, eceng gondok terus memenuhi area perairan Jangari, sehingga dikhawatirkan menganggu budidaya ikan karena minimnya pasokan oksigen dapat membuat ikan mati.*/SHOFIRA HANAN/PR

CIANJUR, (PR).- Eceng gondok mulai menutupi hampir 70 persen area aliran Waduk Cirata, Perairan Jangari, Kabupaten Cianjur. Hal tersebut akhirnya berdampak pada kondisi budidaya perikanan dan pariwisata di kawasan Jangari.

Ketua Kompepar Pesona Wisata Jangari, Hendrawan mengatakan, pertumbuhan eceng gondok yang cepat mempengaruhi perkembangan ikan di area waduk. Nafsu makan ikan terganggu dan pasokan oksigen untuk mereka pun terhambat.

“Ke kolam jaring apung (KJA) sangat berdampak, pasokan oksigen berkurang. Malah berpotensi membuat ikan mati,” ujar Hendrawan, Jumat, 12 Juli 2019. 

Menurut dia, hal tersebut akan sangat merugikan petani jaring apung. Soalnya, ikan yang mati bisa mencapai ratusan ton akibat pertumbuhan eceng gondok.

Ia menjelaskan, sejak dua tahun terakhir pertumbuhan eceng gondok terus terjadi. Pada 2017 lalu, kematian ratusan ton ikan pun terjadi karena japung yang dekat dengan kumpulan eceng gondok. Saat itu, petani akhirnya diarahkan untuk mengatur tata kolam mereka agar tidak terlalu dekat dengan eceng gondok.

“Kami juga akhirnya berinisiatif untuk melakukan upaya kebersihan. Kami mengarahkan semua pihak, supaya membersihkan eceng gondok. Kalau ada, tolong diangkat dibawa ke daratan,” ucapnya.

Hal itu perlu dilakukan, karena hingga saat ini belum ada langkah besar dari pemerintah. Hendra mengatakan, pemerintah seringkali mengaku terbentur anggaran untuk mengatasi persoalan eceng gondok yang terjadi.

Menurut dia, Kompepar sudah mengajukan mesin pengangkat dan penghancur eceng gondok. Namun, belum ada realisasi sampai sekarang meskipun alat tersebut dibutuhkan.

Perubahan cuaca

Lebih lanjut dikatakan, selain eceng gondok, petani ikan juga dihadapkan pada fenomena upwelling yang berpotensi terjadi seiring perubahan cuaca. Soalnya, saat musim kemarau terkadang hujan masih tetap turun.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, dan Peternakan Cianjur, Parwinia menjelaskan, potensi upwelling saat ini relatif tidak begitu tinggi.

“Karena upwelling itu akan terjadi kalau hujan terjadi terus menerus, sehingga endapan di dalam air naik. Tapi kalau musim kering sekarang, sepertinya tidak akan terjadi,” ujar dia.

Ia mengungkapkan, dinas terus melakukan pengawasan agar tidak terjadi upwelling di Jangari. Sekaligus mengawasi dan mengatasi masalah eceng gondok di sejumlah titik perairan.

Parwinia menjelaskan, dinas terus melakukan antisipasi terkait eceng gondok dengan menggelar kegiatan bersih-bersih. Di pekan kedua setiap bulan, pihak terkait dikerahkan untuk membersihkan eceng gondok.

Selain itu, saat ini juga ada kelompok masyarakat pengawas yang dibentuk pemerintah provinsi untuk wilayah tersebut dan beberapa daerah di selatan. Di sana, mereka bertugas untuk menata dan memantau kondisi perikanan Jangari.

“Jangari ini juga kan potensi perikanannya jadi produksi kedua nasional. Makanya perlu diperhatikan dan ditata lebih lanjut,” ujar dia.

Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Cianjur juga mengharapkan, program Citarum Harum yang sedang berjalan tidak menganggu produksi perikanan. Namun, bisa menjadi jalan untuk membantu penataan wisata perairan tersebut.***

Bagikan: