Pikiran Rakyat
USD Jual 14.130,00 Beli 13.830,00 | Sebagian cerah, 27.1 ° C

Berstatus Awas, 15 Kecamatan Kekeringan Kategori Ekstrem

Agung Nugroho
ILUSTRASI kekeringan.*/NURYAMAN/PR
ILUSTRASI kekeringan.*/NURYAMAN/PR

SUMBER, (PR).- Kekeringan makin meluas, sedikitnya lima belas dari empat puluh kecamatan di Kabupaten Cirebon berstatus awas. Memasuki pertengahan bulan Juli 2019 ini, kekeringan di lima belas kecamatan itu sudah memasuki kategori ekstrem.

Data di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, Kamis  12 Juli 2019 menyebutkan, kekeringan ekstrem berlangsung merata. Tidak hanya di wilayah pantai utara (pantura), tetapi juga telah meluas ke wilayah tengah dan selatan.

Lima belas kecamatan yang berstatus awas karena kekeringan ekstrem masing-masing, Susukan, Weru, Mundu, Lemah Abang, Pabuaran, Sumber, Talun, Ciwaringin, Klangenan, Beber, Greged, Astanajapura, Plumbon, Palimanan dan Karangsembung. Bersama waktu, bila sampai akhir Juli belum juga turun hujan, status awas kemungkinan akan meluas sampai Gebang, Losari, Ciledug, Kapetakan, Suranenggala, Kedawung, Gunungjati hingga Dukuhpuntang.

“Kita antisipasi perkembangan berikutnya. Jika kemarau terus berlangsung, kekeringan akan terus meluas,” tutur Kepala BPBD, Dadang Suhendar.

BPBD terus memantau perkembangan kekeringan di lapangan. Seluruh Tim Reaksi Cepat (TRC) yang tersebar di tiap kecamatan, sudah diminta memantau secara intensif.

“Laporkan bila dampak kekeringan mulai membuat masyarakat resah. TRC terus memantau di lapangan. Laporkan sedetail mungkin perkembangan dampak kekeringan,” tuturnya.

Dadang menjelaskan, secara umum, kekeringan berdampak pada areal pertanian. Mulai banyak areal sawah yang kekurangan air, bahkan sudah lebih dari 500 hektare yang terancam gagal panen alias puso.

Dampak lain ialah krisis air bersih yang mulai dirasakan masyarakat. Data sementara, krisis air bersih terjadi di 29 desa di sejumlah kecamatan.

Mobilisasi bantuan

BPBD juga mulai memobilisasi bantuan kepada daerah terdampak. Untuk krisis air bersih, berkoordinasi dengan PDAM, telah disiapkan sejumlah unit tangki untuk mengirimkan air bersih.

“Saat kemarau tahun lalu, koordinasi BPBD dengan PDAM mampu mengirimkan 500 tangki air bersih ke desa-desa terdampak. Tahun ini, jika kemarau berlangsung lebih lama, kita akan persiapkan cadangan air bersih dalam jumlah lebih besar,” tuturnya.

BPBD juga berkoordinasi dengan instansi lain, di antaranya Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung (BBWS). Kini, BBWS tengah mengejar perbaikan dua bending karet yang jebol di Kecamatan Gunungjati dan Losari.

“Selama perbaikan, BBWS membuat bending darurat. Ini berarti mencegah intrusi air laut. Instalasi PDAM bisa kembali mengolah air karena  air tawarnya sudah terpisah dari air laut. Ini untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Gunungjati, Suranenggala, dan Kapetakan. Di Losari, selain Losari, bendung darurat bisa memenuhi kebutuhan warga Gebang, Susukan dan sekitarnya,” tutur Dadang***

Bagikan: