Pikiran Rakyat
USD Jual 14.130,00 Beli 13.830,00 | Sebagian cerah, 27.1 ° C

Situ Rancabeureum Mengering, Warga Tanam Cabai dan Kangkung

Tati Purnawati
KONDISI Situ Rancabeureum, di Desa Pilangsari, Kecamatan Jatitujuhm, Kabupaten Majalengka, kondisnya mengering. Di beberapa sudut yang permukaanya masih basah ditanami  sayuran oleh penduduk setempat.*/TATI PURNAWATI/KABAR CIREBON
KONDISI Situ Rancabeureum, di Desa Pilangsari, Kecamatan Jatitujuhm, Kabupaten Majalengka, kondisnya mengering. Di beberapa sudut yang permukaanya masih basah ditanami sayuran oleh penduduk setempat.*/TATI PURNAWATI/KABAR CIREBON

MAJALENGKA,(PR).- Situ Rancabeureum, di Desa Pilangsari, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka hampir setiap tahun menjelang musim kemarau langsung surut dan kering. Situ seluas lebih dari 57 hektaran yang diharapkan bisa menyimpan air untuk areal pertanian nyatanya tidak bisa diandalkan.

Menurut keterangan warga setempat, Situ Rancabeureum hanya berair di saat musim penghujan dengan curah hujan yang tinggi. Dan surut begitu memasuki musim kemarau. Makanya warga hanya bisa memanfaatkan air saat musm penghujan untuk pengairan areal sawah dan perkebunan.

“Air sudah mengering sejak dua bulan lalu, sekarang sebagian hanya basah beberapa bagian permukaan tanah,” ungkap salah seorang tokoh pemuda, Hasan.

Makanya, menurut Hasan, di saat musim kemarau sebagian kawasan situ dimanfaatkan warga untuk berkebun. Ada yang berkebun cabai, kangkung darat, tembakau dan sejumlah perkebunan sayur lainnya. Hanya sebagian besar lahan dibiarkan telantar karena tak ada air untuk mengairi tanaman.

Menurutnya, agar bisa menyimpan air permukaan tanah harus dikeruk, selain itu saat musim penghujan akan bisa lebih cepat menampung air hujan. 

“Sekarang saat hujan lama bisa menampung air, saat kemarau lebih cepat surut. Jika curah hujan tinggi air baru melimpah sebagian dibuang ke saluran pembuang melalui Cibuaya,” ungkap Hasan.

Menurutnya, normalisasi perlu dilakukan agar lebih banyak mengairi areal sawah dan menampung air saat musim kemarau sehingga para petani di wilayahnya bisa tetap bercocok tanam, baik sawah ataupun palawija. 

Menurut Nana warga lainnya, jika situ Rancabeureum saat kemarau masih berair maka warga setempat tdiak akan kesulitan air untuk mencuci. Karena air tersebut juga sering dimanfaatkan untuk mencuci di kala air sumur mulai mengering terutama bagi mereka yang tidak memiliki sumber air bersih dari PDAM.

Normalisasi situ Rancabeureum  juga menjadi harapan petani di Desa Jatitengah dan Jatitujuh, andai penampungan air terjadi cukup maksimal maka air tak hanya bisa dinikmati petani Pilangsari namun juga tetangga desa.

 Warem dan Yahya petani di Jatitujuh mengatakan, kalau daya rampung air cukup bagus maka areal sawah di wilayahnya bisa diairi dari Rancabeureum. Jika kemarau areal sawah tidak akan mengalami kekeringan seperti yang terjadi sekarang ini.

“Rancabeureum ini sudah parah, tak bisa menyimpan air. Begitu memasuki musim kemarau langsung menyusut dan kering. Sedangkan Situ Anggarararahan yang ada di ujung desa sebulan memasuki kemarau masih air masih tersisa, sekarang pun di bagian terendah masih ada air walaupun macak-macak,” ungkap Yahya.***
 

Bagikan: