Pikiran Rakyat
USD Jual 14.106,00 Beli 13.806,00 | Sebagian berawan, 20.3 ° C

Tujuh Daerah di Jabar Alami Kekeringan Cukup Berat

Novianti Nurulliah
FOTO ilustrasi kekeringan.*/ANTARA
FOTO ilustrasi kekeringan.*/ANTARA

BANDUNG, (PR). - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat menyebut tujuh kabupaten/kota di Jabar alami kekeringan yang cukup berat. Ketujuh daerah tersebut ialah Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kabupaten Subang, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cirebon dan Kota Tasikmalaya.

Pelaksana Harian BPBD Provinsi Jawa Barat Supriyatno mengatakan, kekeringan tahun ini berbeda dibanding tahun sebelumnya. Pasalnya Kota dan Kabupaten Bogor yang terkenal dengan curah hujan cukup tinggi masuk dalam daerah terdampak kekeringan.

"Jadi kalau analisis saya, air yang dimaksud ialah air minum, air dalam. Ini diindikasikan laporan kekeringan ini bahwa ada penurunan air. Rupanya air hujan yang turun tidak meresap ke dalam tetapi hampir 97 persen itu langsung mengalir ke sungai," kata dia dalam Jabar Punya Informasi (Japri), di Gedung Sate,  Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Rabu 9 Juli 2019.

Selain itu, kata dia, Kota Tasikmalaya juga termasuk daerah langganan yang terdampak kekeringan setiap musim kemarau tiba di Provinsi Jawa Barat. "(Kota) Tasikmalaya ini cukup menarik karena setiap tahunnya selalu (terdampak) kekeringan, khususnya untuk sumber air untuk minum," kata dia.

Menurut dia, fokus BPBD Provinsi Jawa Barat terkait penanganan kekeringan lebih kepada penanggulangan kebutuhan air untuk rumah tangga karena sesuai arahan Gubernur Jawa Barat kebutuhan air yang pertama ialah untuk kebutuhan rumah tangga, kedua untuk industri dan ketiga untuk persawahan. Pihaknya pun melibatkan petugas TNI dan Polri terkait pembagian air irigasi untuk para petani di wilayah Jawa Barat selama musim kemarau ini.

"Itu kan ada gilir giring (program irigasi), di mana ini ada konflik kepentingan sehingga petugas TNI dan Polri dilibatkan untuk mencegah hal tersebut," kata dia

Sementara itu, pada kesempatan yang sama Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Bandung, Tony Agus Wijaya menuturkan, saat ini musim kemarau yang terjadi di Indonesia berlangsung normal. Kemarau kemungkinan akan terjadi selama enam bulan di mana awal musim ini, Mei 2019. BMKG memprediksi puncak kemarau akan terjadi pada Agustus. Setelah itu pada September hingga Oktober perlahan hujan akan turun dan kemudian deras pada November.

"Perkiraan kita waktu iklim normal karena tidak ada El-Nino maupun La-nina yang bisa membuat pola iklim berubah," kata Tony.

Diakui dia meski di Kota Bandung dan berupa Daerah tengah diguyur hujan, namun intensitasnya singkat. Meskipun demikian, daerah seperti Subang, Indramayu, dan Cirebon yang berada di sekitar Pantai Utara kemungkinan tidak akan ada curah hujan hingga musim kemarau berakhir. Di Karawang dan Indramayu, bahkan terdapat tujuh kecamatan yang hingga dua bulan ini tidak pernah tersentuh air hujan.***

"Walaupun ini masih normal, kita coba lakukan antisipasi kekeringan agar warga masih bisa mendapatkan suplai air," ujar Tony.

Kepala Bidang OP Dinas Pemeliharaan Sumber Daya Air Provinsi Jawa Barat, Bambang Sumanta, mengatakan, jumlah air di wilayahnya masih mencukupi hingga puncak musim kemarau pada Agustus mendatang. "Air cukup memenuhi, 2,4 miliar meter kubik," katanya.

Dari jumlah tersebut, pemanfaatan untuk irigasi, air minum, dan industri mencapai 2,2 miliar kubik. "Jadi masih memenuhi," katanya.

Dia menyontohkan, untuk irigasi, Waduk Jatiluhur di Kabupaten Purwakarta masih mencukupi untuk mengairi sawah di kawasan utara seperti Cirebon, Indramayu, dan Subang. "Jadi kalau yang kekeringan, itu memang sawah tadah hujan," katanya.***

Bagikan: