Pikiran Rakyat
USD Jual 13.961,00 Beli 14.059,00 | Cerah berkabut, 25.1 ° C

Rehabilitasi Irigasi Cikunten Akan Tutup Saluran, Budidaya Ikan dan Pertanian di Tasikmalaya Terancam

Bambang Arifianto
PENGENDARA sepeda motor melintasi saluran irigasi Cikunten di Kampung Ceungceum, Desa Jayamukti, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu, 10 Juli 2019. Penutupan irigasi Cikunten untuk pelaksanaan rehabilitasi mengancam kegiatan pembudidayaan ikan tawar dan pertanian di sejumlah kecamatan Kabupaten Tasikmalaya.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
PENGENDARA sepeda motor melintasi saluran irigasi Cikunten di Kampung Ceungceum, Desa Jayamukti, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu, 10 Juli 2019. Penutupan irigasi Cikunten untuk pelaksanaan rehabilitasi mengancam kegiatan pembudidayaan ikan tawar dan pertanian di sejumlah kecamatan Kabupaten Tasikmalaya.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

SINGAPARNA, (PR).- Rencana pengerjaan rehabilitasi jaringan irigasi Cikunten menuai persoalan. Proyek yang berlangsung selama 200 hari tersebut bakal menutup saluran irigasi sehingga berpotensi membuat pembudidaya ikan dan petani tak mendapat pasokan air.

Akibatnya, kepanikan sudah melanda sejumlah warga yang menjual ikannya kendati belum masa panen lantaran takut kekeringan. Ini karena, rencana penutupan irigasi sudah mengemuka beberapa waktu lalu dan diketahui warga.

Kepala Seksi Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan Wilayah Selatan Dinas Kelautan dan Perikanan Pemerintah Provinsi Jawa Barat Asependi mengonfirmasi rencana pelaksanaan proyek itu. Asependi sempat kedatangan tamu dari pengelola irigasi serta perkumpulan petani di Kabupaten Tasikmalaya yang mengajaknya rembuk terkait pelaksanaan proyek pada 26 Juni 2019.

Dari sana terkuak, proyek itu akan berlangsung selama 200 hari atau sekitar tiga bulan. "Selama pekerjaan karena (hasilnya) harus bagus, aliran (irigasi) akan total mati berapa hari," kata Asependi di kantornya, Jalan Raya Cigadog, Kampung Kubangsari, Desa Arjasari, Kecamatan Leuwisari, Rabu, 10 Juli 2019.

Dalam sepekan, aliran irigasi hanya dibuka dua hari. Empat hari sisanya ditutup total.

Kondisi tersebut akan berdampak pada para pembudidaya ikan dan petani. Soalnya, irigasi Cikunten mengairi kolam ikan dan lahan pertanian warga di sejumlah kecamatan seperti Leuwisari, Sariwangi, Singaparna, Leuwisari, Sukarame. Kegaduhan dipastikan terjadi lantaran irigasi itu merupakan satu-satunya sumber pasokan air di wilayah tersebut. "Sebetulnya kami juga sebagai pengurus ikan juga berat," kata Asependi. Ia berharap, penutupan irigasi tak dilakukan secara total.

Warga pembudidaya ikan juga bernasib serupa. Tak adanya pasokan air berpengaruh terhadap usaha budi daya ikan milik warga. Ikan peliharaan warga rentan mengalami stress hingga mati karena kekurangan oksigen. Jenis-jenis ikan yang rentan itu yakni mas, nilem dan tawes. Menurut Asependi, ada ratusan warga yang menjadi pembudidaya ikan dan mendapat pasokan air Cikunten.

Hal senada dikemukakan Ramadhan, staf Asependi yang mengikuti rembuk rencana pelaksanaan proyek. "Yang hadir dari pihak pemborong, dari pihak PSDA (balai pendayagunaan sumber daya air), ada tokoh masyarakat," ucap Ramadhan mengenai pertemuan yang berlangsung di Kampung Kubang, Leuwisari. Dalam rembuk itu terkuak, perbaikan saluran irigasi dilakukan dengan mengecor saluran dasar dan kirmir irigasi.

Rencananya, titik pengerjaan berlangsung dari Kampung Ceuri kawasan Peteuyjaya di Kabupaten Tasikmalaya  hingga Situ Gede Kota Tasikmalaya. Meskipun instansinya mendukung proyek pemerintah tersebut , Ramadhan pun meminta sosalisasi dilakukan hingga tingkat desa-desa bukan sekadar perwakilannya. Soalnya, penutupan irigasi bersentuhan langsung dengan kepentingan warga dalam perikanan dan pertanian.

Warga sempat panik

Kepanikan dan kegelisahan mulai dialami sejumlah warga setelah mendengar rencanan penutupan irigasi Cikunten. Wahyu Setiawan, Ketua Kelompok Budidaya Ikan Air Tawar Bina Mekar, di Kampung Cinangsi, Desa Ciawang, Kecamatan Leuwisari mengungkapkan, sejumlah warga pembudidaya ikan telah menjual ikannya sebelum panen.

Dalam sehari, 4-5 kolam ikan bisa diambil atau dipanen sebelum waktunya. "Warga takut kekeringan" tutur Wahyu. 

Dampaknya, kelompok budidaya Wahyu kebanjiran tawaran dari warga yang ingin menjual ikan. Wahyu pun kebingungan guna menyalurkannya kembali ke pasar. "Ikannya nanggung belum laik dikonsumsi," ujarnya.

Ia menyoroti penutupan total saluran irigasi yang berlangsung lama. Menurutnya, perbaikan irigasi Cikunten memang berlangsung rutin setiap tahun. Akan tetapi, pelaksanaan tak pernah menutup total saluran irigasi dengan waktu yang lama. "Di siang hari ditutup, malam hari dikocorkeun (dibuka)," ucapnya.

Ia pun tak habis pikir karena sosialisasi proyek terbilang minim. "Kita tidak pernah dikasih informasi yang jelas," ucapnya.

Terdapat sekitar 1000 pembudidaya mitra kelompok Wahyu yang akan terdampak pengeringan irigasi Cikunten. Sementara itu, Iyan Sofyan, warga Kampung Ceungceum, Desa Jayamukti, Kecamatan Leuwisari berharap saluran irigasi tetap mengalir meskipun rehabilitasi dilakukan. Iyan telah menjual ikan peliharaannya sejak 2-3 hari lalu. Padahal usia ikannya baru satu bulan atau belum masuk panen dengan durasi dua bulan.‎ "Takut kering (saluran irigasi)," ucapnya.***

Bagikan: