Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Sebagian berawan, 18.4 ° C

Panen di Purwakarta, Harga Cengkeh Merosot

Hilmi Abdul Halim
PETANI cengkeh di Kabupaten Purwakarta mengeluhkan harga jual yang terus turun.*/HILMI ABDUL HALIM/PR
PETANI cengkeh di Kabupaten Purwakarta mengeluhkan harga jual yang terus turun.*/HILMI ABDUL HALIM/PR

PURWAKARTA, (PR).- Petani cengkeh di Kabupaten Purwakarta mengeluhkan harga jual yang terus merosot. Kondisi harga yang tidak menentu membuat banyak petani yang menyimpan hasil produksinya, rela menjual atau menggadaikannya sebelum panen.

"Harga cengkeh basah sekarang Rp 21.000 per kilogram. Yang kering Rp 70.000 per kilogram. Kalau kuintalan bisa Rp 72.000," kata salah seorang petani cengkeh di Kecamatan Kiarapedes, Enjang, Selasa, 9 Juli 2019. Harga yang ditawarkan tengkulak dinilai lebih rendah dari harga tahun lalu yang mencapai hingga hampir Rp 90.000 per kilogram.

Menurutnya, harga jual cengkeh bisa lebih tinggi apabila dijual ke perusahaan secara langsung. Namun, perusahaan seperti pabrik rokok biasanya hanya akan membeli dalam jumlah besar. Sedangkan, rata-rata petani hanya menanam dalam jumlah kecil.

Pohon cengkeh tersebut ditanam di kebun campuran atau halaman rumah warga. "Jumlah produksi berbeda-beda tergantung usia pohonnya. Ada yang baru berbuah usia delapan tahun sekitar lima kilogram cengkeh basah. Kalau yang usia 40 tahun mungkin sampai 50 kilogram," tutur Enjang.

Panen cengkeh sedang terjadi di Kabupaten Purwakarta seperti di Kecamatan Pasawahan, Pondoksalam dan Wanayasa. Bahkan di Kecamatan Kiarapedes dan sekitarnya memasuki masa panen raya.

"Hasil panen tahun ini terhitung lebih lebat atau panen raya. Panen raya katanya terjadi lima tahun sekali," kata Enjang. Musim panen cengkeh diperkirakan terjadi hingga akhir September 2019 dari dataran rendah hingga yang lebih tinggi.

Tidak ada bantuan khusus

Menurut data di Dinas Pangan Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Purwakarta pada 2018 lalu, terdapat 1.838 hektare perkebunan cengkeh secara keseluruhan. Hasil produksi dari lahan seluas itu mencapai 486 ton per tahun dengan harga jual rata-rata Rp 90.000 per kilogram.

Kepala Seksi Hortikultura di dinas tersebut, Tatang Sopian mencatat jumlah petani cengkeh di daerahnya saat ini mencapai 2.378 orang. "Upaya peningkatan hasil produksi cengkeh belum maksimal karena tidak ada program bantuan khusus dari pemerintah," ujarnya.

Pemerintah daerahnya selama ini hanya memberikan pelatihan kepada para petani cengkeh untuk memaksimalkan potensi yang ada. Salah satunya, memberikan pemahaman mengenai penyakit jamur akar akibat penanaman di kebun campuran.

"Jamur akar bisa menyebabkan tanaman mati bahkan tumbang. Itu risikonya kebun campuran, jadi jamurnya banyak inang dan beragam. Yang paling terpengaruh itu (pohon) yang tua," kata Tatang. Karena itu, para petani diminta membersihkan kebun dari rumput liar secara rutin.***

Bagikan: