Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian cerah, 30.7 ° C

Banjar Water Park Tutup, Pemkot Tunggu Investor untuk Membukanya Lagi

Nurhandoko
SUASANA ikon wisata Banjar Water Park, Kota Banjar yang tidak terurus, ditutup sejak awal bulan puasa lalu. Beberapa investor mengurungkan niat untuk mengelola taman wisata air terbesar di kota ujung timur Provinsi Jabar itu.*/NURHANDOKO WIYOSO/PR
SUASANA ikon wisata Banjar Water Park, Kota Banjar yang tidak terurus, ditutup sejak awal bulan puasa lalu. Beberapa investor mengurungkan niat untuk mengelola taman wisata air terbesar di kota ujung timur Provinsi Jabar itu.*/NURHANDOKO WIYOSO/PR

BANJAR,(PR).- Ikon wisata Kota Banjar yakni Banjar Water Park (BWP) akhirnya ditutup setelah mengalami kesulitan keuangan. Beberapa investor yang sebelumnya tertarik mengelola taman wisata air terbesar di wilayah di kota paling ujung timur Provinsi Jawa Barat, ternyata mengurungkan niatnya.

 Tutupnya BWP sejak Bulan Mei yang bertepatan dengan bulan ramadan, ternyata masih menyisakan persoalan terkait dengan nasib pekerja yang dihentikan tanpa ada kepastian kembali kerja. Selain itu menunggak hutang gaji karyawan yang belum dibayar.

Pantauan di BWP pada Rabu, 10 Juli 2019, tutupnya ikon wisata tersebut mulai terlihat dari pintu gerbang yang tidak dijaga. Masuk lebih dalam lagi , terlihat pintu besi masuk lokasi juga ditutup. Beberapa bagian terlihat sudah rusak, sebagian lantai keramik menuju loket tidak ada.  

Dari sela pagar besi terlihat rumput tumbuh subur. Salah satu dari tiga gerbong kereta mini, posisinya miring. Selain itu tidak terlihat  adanya kucuran air dari wahana ember tumpah, yang selama ini menjadi lokasi favorit wisatawan.

“Beberapa kali datang investor yang tertarik untuk mengelola BWP dalam statusnya sebagai  perusahaan daerah (perusda). Ada  (investor) yang datang , mundur lagi. Ada yang datang kemudian juga mundur lagi. Belum rezeki kali ya,” kata Wali Kota Banjar Ade Uu Sukaesih, usai puncak HUT Bhayangkara ke-73 di Lapangan Bhkati.

Dia mengungkapkan saat ini pemerintah Kota Banjar juga tidak dapat ikut campur, karena statusnya sudah menjadi perusda. Dengan demikian pengelolannya secara otonomi. Apabila ada penyertaan modal, juga harus melalui prosesyang tidak mudah.

“Kendalanya adalah aturan, membatasi ruang gerak kami. Sebab kami tidak boleh lagi melakukan intervensi. Namun demikian, pemerintah Kota Banjar terus berupaya  membantu. Bagaimana pun BWP menjadi ikon wisata yang tetap harus dipertahankan,” ujarnya.

Terpisah, Yanto, salah seorang karyawan BWP mengungkapkan, sejak awal bulan puasa seluruh karyawan berjumlah 15 orang  dirumahkan, dihentikan. Pihak manajemen beralasan kebijakan tersebbut diambil karena kesulitan keuangan serta menunggu datangnya investor baru.

Beberapa kali perwakilan pekerja menemui pihak manajemen, pejabat berwenang termasuk Wali Kota Kota Banjar. Akan tetapi, lanjutnya, jawaban yang disampaikan semuanya sama, yakni karyawan diminta sabar, menunggu investor. Serta janjji hak pekerja bakal dibayar jika ada investor masuk.

“Kami diberhentikan secara sepihak, itu pun dilakukan secara lisan. Kami bingung harus kemana mengadu nasib. Kami juga enam bulan belum digaji, THR juga tidak ada, padahal kerja kami sudah lama, hingga delapan tahun,” tuturnya.

Seperti diketahui BWP dibangun mulai Tahun 2009. Wahana tersebut kemudian menjadi ikon wisata Kota Banjar dibangun di sisi Sungai Citanduy dengan luas sekitar 3,5 hektare. Dalam proses pembangunannya Pemerintah Kota Banjar melakukan penyertaan modal hingga Rp 26 miliar.

Awal dibuka, jumlah pengunjung membeludak. Akan tetapi lambat laun pengunjung berkurang dratsis, Keramaian hanya terjadi saat lebaran serta libur sekolah. Selain waktu tersebut, BWP sepi. Hingga akhirnya sejak awal bulan puasa 2019, tutup.***

Bagikan: