Pikiran Rakyat
USD Jual 14.060,00 Beli 14.158,00 | Sebagian cerah, 20.8 ° C

Meski Gagal Panen dan Alami Puso, Harga Gabah di Majalengka Belum Naik

Tati Purnawati
SEORANG pekerja di pabrik penggilingan padi di Kelurahan Cijati, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka tengah mengemas beras ke dalam karung. Ribuah hektare sawah di Kabupaten Majalengka alami gagal panen namun harga gabah dan beras di tingkat petani masih tetap rendah, harga gabah hanya mencapai Rp 350.000 untuk kualitas rendah dan Rp 420.000 untuk kualitas bagus.*/TATI PURNAWATI/KC
SEORANG pekerja di pabrik penggilingan padi di Kelurahan Cijati, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka tengah mengemas beras ke dalam karung. Ribuah hektare sawah di Kabupaten Majalengka alami gagal panen namun harga gabah dan beras di tingkat petani masih tetap rendah, harga gabah hanya mencapai Rp 350.000 untuk kualitas rendah dan Rp 420.000 untuk kualitas bagus.*/TATI PURNAWATI/KC

MAJALENGKA,(PR).- Terjadinya gagal panen hingga mengalami puso di sejumlah kecamatan belum berdampak pada peningkatan harga gabah dan beras di Kabupaten Majalengka. Dampak kekeringan yang berakibat gagal panen diprediksi baru akan terasa di bulan Oktober dan November mendatang.

Harga gabah di tingkat petani saat ini masih sangat rendah terutama untuk gabah hasil panen MT I yang kualitasnya cukup rendah dengan kondisi gabah berwarna hitam. Kualitas seperti ini di wilayah Kecamatan Ligung hanya dipatok tengkulak sebesar Rp 350.000 per kuintal, untuk gabah kualitas sedang seharga Rp 420.000 per kuintal. Kondisi yang sama juga terjadi di wilayah Kecamatan Jatitujuh harga gabah hanya mencapai Rp 420.000 per kuintal, malah harga sebesar itu termasuk gabah hasil panen MT II.

Sedangkan harga beras di pabrik di kedua wilayah tersebut untuk kualitas rendah atau sedikit berwarna kuning atau hitam yang diproduksi dari gabah yang terendam hanya seharga Rp 6.500 per kg. Kemudian beras lualotas sedang seharga Rp 7.500 per kg dan kualitas bagus seharga Rp 9.000 per kg.

Inin, petani di Kecamatan Ligung, dan Muamar serta Rohim, petani di Jatitujuh menyebutkan, saat ini para tengkulak belum bersedia menaikkan harga gabah milik petani. Harga terus rendah sejak panen rendeng lalu. Apalagi saat ini alasanya gabah kembali banyak karena petani sudah panen kembali hasil musim tanam ke II.

“Tengkulak mah terus mempermainkan petani. Sekarang walaupun gagal panen masih belum bersedia menaikkan harga, alasannya panen geus katimpah deui kunu anyar, pare loba. Antukna harga angger murah cenah (alasanya panen sudah ditampah oleh gabah hasil panen yang baru, jadi gabah banyak. Jadi harga tetap murah),” ungkap Muamar.

Menurut Rohim, petani saat ini sulit untuk bisa bangkit dari keterpurukan terutama di tahun ini. Pada musim tanam rendeng gabah petani terkena banjir sehingga kualitas gabah dan beras kurang baik, akibatnya gabah petani dihargai rendah oleh tengkulak. Sementara di musim tanam ke dua yang harusnya gabah petani bagus, malah terjadi kekeringan, para petani mengalami gagal panen. Kondisi ini diperparah dengan harga yang terus rendah.

“Tengkulak selalu ada alasan untuk menakan harga gabah petani. Akibatnya harga gabah petani terus rendah. Alasannya kualitas gabah jelek karena hitam, sekarang alasanya gabah melimpah karena panen ke dua.” Kata Rohim.

Dia berharap salah satu solusi untuk menolong petani adalah menaikan HPP agar petani sedikit tertolong walaupun tidak besar.

Sementara itu Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Penguisaha beras Indonesia Kabupaten Majalengka Dedi Koswara membenarkan masih rendahnya harga gabah dan beras saat ini. Harga gabah di tingkat penggilingan mulai Selasa, 9 Juli 2019 baru mengalami kenaikan dari Rp 500.000 menjadi Rp 520.000 untuk kualitas bagus serta hasil panen MI II. Sedangkan harga beras medium di tingkat penggilingan mencapai Rp 8.000 hingga Rp 8.600 per kg, sedangkan untuk beras premium seharga Rp 9.400 hingga Rp 9.500 per kg.

Menurutnya harga gabah tidak berbanding lurus dengan harga beras, karena beras bisa disuplai dari  wilayah lain yang juga mengalami masa panen. Apalagi menurut Dedi kualitas gabah dari petani kurang baik bahkan cenderung jelek.

“Kualitas kurang baik, rendemen juga tinggi. Padahal harusnya MT II bisa bagus, sekarang malah 61, harusnya panen MT II bsia 67, makanya harga juga belum berubah walaupun panen banyak yang puso.” Ungkap Dedi.

Menurutnya terjadinya gagal panen baru akan teras pada bulan Oktober dan November mendatang. Karena saat ini beras di pasaran cukup melimpah. Kemungkinan beras di pasaran disuplai dari wilayah lain.***

Bagikan: