Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian cerah, 30.7 ° C

Pria Paruh Baya Hidup Terlantar di TPU Cikampek Timur

Dodo Rihanto
null
null

KARAWANG, (PR).- Asep Tahyar (55), seorang penderita stroke tinggal sebatang kara di dalam gubuk yang didirikan di tempat pemakaman umum (TPU) Dusun Sukamaju, RT02, RW09, Desa Cikampek Timur, Karawang. Pria paruh baya itu diduga sengaja dibuang anak sendiri karena tidak mau merawatnya.

Setiap hari, Asep hanya bisa terbaring di atas dipan kayu. Kakinya tidak bisa digerakan akibat penyakit stroke.

Untuk makan, minum, dan buang air Asep hanya mengandalkan uluran tangan warga. Tak sedikit warga sekitar TPU yang memberi makan pria malang tersebut. Namun karena penyakit yang dideritanya, makanan itu tidak disentuh oleh Asep.

"Sudah enam bulan, Asep hidup di dalam gubuk ini," ujar Ujang Sujatna (54), salah seorang warga ketika ditemui Senin, 8 Juli 2019.

Menurut Ujang, Asep sebenarnya punya sejumlah anak. Namun mereka tidak mau mengurusi Asep karena alasan tertentu. "Dia ditelantarkan. Anak-anaknya enggak mau ngurus," kata Ujang.

Ujang mengaku dirinya yang membuatkan gubuk untuk ditempati Asep. Ujang pun mengaku orang yang membawa Asep saat mengemis di jalanan. "Dia teman sekolah saya waktu SD. Saya tahu betul perjalanan hidupnya sampai seperti ini," tutur Ujang.

Beruntung, penderitaan Asep masih ada memperhatikan yakni sepasang kakak beradik, Iis Susyanti (24) dan Tubagus Muhanmad Arif (19). Mereka yang kerap merawat  Asep, menyuapi, hingga membantu buang air. "Setiap pagi dan sore kami datang ke sini membawakan makanan untuk Pak Asep," kata Iis usai menyuapi Asep di gubuknya.

Iis mengaku sudah tiga pekan dia dan adiknya merawat Asep. Iis mengaku tak tega melihat kondisi Asep yang telantar. "Saya tahu kabar Pak Asep dari ayah saya. Kebetulan ayah dengan Pak Asep teman satu sekolah saat SMP. Jadi ini amanat dari ayah," kata Iis. 

Menurutnya, selain tak bisa berjalan, Asep pun tak bisa berbicara. Namun demikian, Iis selalu berupaya berdialog kendati harus menggunakan bahasa isyarat. "Saya mencoba berkomunikasi, tetapi Pak Asep sering sedih. Ditanya di mana keluarganya, dia hanya bisa nangis," tutur Iis. 

Sambil terbata, Iis juga mendengar keluhan Asep jika sering dikerubuti nyamuk setiap malam. Ini karena gubuk yang ditempati Asep terbuka, hanya kain terpal yang menjadi dindingnya. 

Menurut Iis, sebenarnya Asep ingin meminta maaf kepada anak-anaknya. "Sambil terbata-bata, Pak Asep bilang ingin cepet pergi dari gubuk ini. Dia berharap pengen diurus sama siapa aja yang ikhlas," tutur Iis.***

Bagikan: