Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Cerah berawan, 20.2 ° C

Tasini Pulang dari Arab dengan Tubuh Penuh Luka

Tim Pikiran Rakyat
TASINI (41) warga Blok Loji, Desa Ligung, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka, buruh migran yang bekerja di Arab Saudi selama 10 bulan sedang menjalani perawatan di RSUD Majalengka akibat luka di  sekujur tubuhnya.*/ TATI PURNAWATI/PR
TASINI (41) warga Blok Loji, Desa Ligung, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka, buruh migran yang bekerja di Arab Saudi selama 10 bulan sedang menjalani perawatan di RSUD Majalengka akibat luka di sekujur tubuhnya.*/ TATI PURNAWATI/PR

MAJALENGKA,(PR).- Seorang buruh mingran Tasini (41) yang bekerja di  Abha, Saudi Arabia selama 10 bulan, pulang ke kampung halamannya dengan kondisi mengenaskan akibat siksaan majikannya.

Warga Blok Loji, Desa Ligung, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka itu kini harus menjalani perawatan di RSUD Majalengka sejak tiba di Majalengka, sejak Jumat malam 5 Juli 2019, akibat luka yang dialaminya di sekujur tubuhnya. Akibat luka-lukanya tersebut badannya sulit digerakkan.

Tasini mengalami luka hampir di seluruh bagian tubuhnya terlebih di bagian paha serta pinggang, juga kaki dan wajah. Jari tangan bagian kanannya sulit digerakkan hingga tak bisa mengepal. Beberapa bagian tubuhnya menghitam akibat luka memar dan luka luar. Sedangkan rambutnya gundul karena katanya terus dijambak serta digunting majikan ketika melampiaskan kekesalannya.

Tasini tiba di rumahnya sekitar pukul 23.00 WIB diantar oleh petugas dari Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kabupaten Majalengka. Setengah jam kemudian langsung dibawa ke RS karena kondisi luka di tubuhnya yang sudah mengkhawatirkan.

“Saya sudah berbulan-bulan sakit di Arab akibat siksaan majikan. Karena sudah tidak berdaya, untuk bangun saja sudah sulit,saya terus menerus minta majikan untuk memulangkan. Hingga akhirnya dia bersedia membelikan tiket untuk pulang dan diantarkan ke bandara,” ungkap Tasini yang terbaring di ruang rawat inap Nusa Indah, RSUD Majalengka, Minggu 7 Juli 2019.

Tasini mengungkapkan, dia sudah 10 bulan bekerja di rumah majikannya Zahra di Abha. Kepergiannya ke Arab Saudi hanya berbekal paspor tanpa melalui PJTKI. Dia menyebut hanya melalui sponsor sehingga tidak melengkapi persyaratan apapun apalagi perjanjian kerja layaknya orang yang akan bekerja sebagai buruh migran.

Dia berangkat pada Agustus 2018 melalui sponsor yang masih tetangga desa juga tetangga kecamatan yang biasa memberangkatkan TKI ke Arab Saudi.

Selama dua bulan dia bekerja seperti biasa dengan gaji yang diterima tiap bulan sebesar 800 real. Di bulan ketiga dia baru mendapat siksaan yang tak terhingga, misalnya dipukul dengan tongkat rotan, sendok atau garpu panas yang kemudian ditempelkan ke wajahnya dan rahang hingga bagian wajah menghitam, atau terkadang diseret bermeter-meter.

Sikap seperti ini dilakukan majikan perempuan serta dua anak laki-lakinya yang berusia 8 dan 10 tahunan. Perlakuan tersebut manakala korban terlambat menyelesaikan perintah atau ada sesuatu yang masih kotor menurut penilaian majikan.

Handphone dirusak

Pada  bulan ketiga dia tak bisa lagi menghubungi keluarganya di Ligung karena HP miliknya dirusak majikan.

“Uang gaji 2 bulan tak sempat dikirim kepada keluarga di rumah, masih dipegang. Karena tidak boleh ke luar,” ungkap Tasini.

Setelah dirinya tidak berdaya dan terbaring di kamar, majikannya baru bersedia mengirimnya pulang dengan kondisi luka yang sudah menghawatirkan.

Ketika di pesawat ada sejumlah TKI lain yang merasa prihatin dengan kondisinya. Kemudian teman sesama TKI di pesawat tersebut berupaya mengabarkan kondisinya melalui media sosial Facebook dan menginformasikannya ke Kementrian Tenaga Kerja  serta Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Majalengka.  Tiba di Jakarta korban dijemput petugas dari Disnaker Majalengka.

Disampaikan Tasini sebetulnya dia berangkat ke Arab untuk keempat kalinya. Hanya tiga kali keberangkatan sebelumnya mendapat majikan yang baik dan berangkat melalui PJTKI sehingga keberangkatannya lebih terlindungi.

“Kemarin itu Tasini sendiri yang datang ke sponsor di Desa Majasari minta berangkat ke Arab. Karena dia merasa biasa bekerja di sana,” kata Mayinah, kerabatnya kepada Tati Purnawati, wartawan Kabar Cirebon.

Kini pihak keluarga berharap, gaji yang belum dibayar majikannya bisa dilunasi serta memenuhi biaya pengobatan. Para pelaku penganiayaan juga bisa diusut agar kejadian serupa tidak terulang menimpa buruh lainnya.

Ketua Bhayangkari Cabang Majalengka Ny Pujci Mariyono usai menjenguk korban, mengaku prihatin dengan kondisi buruh migran tersebut dan mendoakan untuk kesembuhannya. Dia berharap kepolisian setempat bisa mengusut kasus tersebut dan memberikan seluruh hak korban.

Di sisi lain dia mengimbau agar masyarakat yang akan bekerja menjadi buruh migran disarankan melalui PJTKI yang legal dan terdaftar di pemerintah. ***

 

Bagikan: