Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sebagian cerah, 21 ° C

Banyak Orang Meninggal karena Ular di Jawa Barat, Pakar Ungkap Penyebabnya

Muhammad Fikry Mauludy
ULAR kobra/REUTERS
ULAR kobra/REUTERS

BANDUNG, (PR).- Dalam 7 bulan terakhir, terdapat 10 kematian dari 51 kasus gigitan ular berbisa di Jawa Barat. Kelalaian saat memelihara hingga kesalahan penanganan korban akibat penanganan tradisional berdasarkan mitos mengantarkan korban kepada kematian.

“Dari 10 yang meninggal, ternyata 60% di antaranya keeper, yang memelihara. Kami ingin orang yang memelihara punya awareness, apalagi memelihara ular berbisa sekarang sedang jadi tren,” kata Anggota Yayasan Sioux Ular Indonesia Jawa Barat Albiansyah di Bandung, Minggu 7 Juli 2019.

Jenis ular yang paling banyak memakan korban di Jawa Barat adalah kobra dan king kobra. Berdasarkan data, terdapat 3 orang meninggal akibat ular jenis kobra yakni di Bekasi pada Desember 2018 dan Mei 2019, serta di Sukabumi pada Maret 2019.

Sementara 4 korban meninggal akibat terkena gigitan ular jenis king kobra terjadi di Rajamandala pada Februari 2019, Bekasi pada Maret 2019, Sumedang pada April 2019, dan Kiaracondong Bandung pada Juni 2019.

FOTO ilustrasi ular sanca.*/ANTARA

Korban meninggal akibat konflik dengan ular paling banyak terjadi di Kabupaten Sukabumi. Kebanyakan dari mereka merupakan petani.

Meski begitu, data kematian akibat ular berbisa juga banyak ditemukan pada pemelihara atau kolektor ular. Seringkali, pemelihara lalai karena sudah terlalu percaya terhdap ular. Hal itu membuat standar penanganan diabaikan.

“Kategori pemelihara itu ada hobi, ada yang atraksi atau snake show. Sejak ada organisasi, Sioux tidak menyarankan pemeliharaan ular. Namun jika memang tetap ingin merawat ular, diharapkan keeper memenuhi prosedur pemeliharaan,” ujarnya.

Salah penanganan

Berbagai mitos penanganan korban gigitan ular berbisa kerap menjadi pemicu kematian. Ada yang meyakini bahwa kematian bisa dihindari dengan penghentian aliran darah dari titik gigitan dengan mengikat bagian tubuh. Padahal, bisa terjadi pembusukan yang berakibat fatal hingga harus mengamputasi bagian tubuh.

“Ada juga yang percaya kepada dukun. Ada juga yang disedot mulut. Padahal secara keilmuan, tidak terlalu berpengaruh. Apalagi bisa memicu bahaya jika kondisi mulut terdapat luka,” katanya.

WHO telah merilis standar penanganan pertama terhadap gigitan ular, salah satunya adalah dengan membidai bagian tubuh yang terkena bisa mirip penanganan patah tulang.

ULAR sanca/HANDRI HANDRIANSYAH/PR

Penggunaan papan terikat itu adalah untuk mengurangi pergerakan bagian tubuh yang terkena bisa. Sebab, semakin banyak digerakkan, apalagi panik, dapat memicu jantung dan mempercepat reaksi bisa.

Bagian tubuh yang terkena gigitan sebisa mungkin diposisikan berada di bawah jantung. Guna menghindari terserang gagal jantung, jangan biarkan korban tertidur.

“Jadi, upayakan tenang dan segera ke rumah sakit. Masih banyak rumah sakit yang belum memahami cara penanganannya tapi sudah ada beberapa rumah sakit yang berkoordinasi dengan kami serta dokter ahli yang tahu ilmu penanganan terhadap korban yang terkena bisa,” ujarnya.

Alih fungsi

Alih fungsi ekosistem area hidup ular menjadi salah satu pemicu bertambahnya angka konflik antara ular dengan manusia. Kebanyakan ular berbisa yang masuk ke rumah adalah kobra. 

“Mereka pada dasarnya menghindari manusia dan tidak mendeteksi manusia sebagai mangsa. Ketika ular masuk musim kawin dan musim bertelur, dia menyebar dan penyebarannya tidak menentu. Ada kemungkinan masuk ke rumah karena mencari makan, kebetulan di rumah berantakan, apalagi banyak tikus,” ujarnya.

Banyak tempat yang awalnya hutan, seperti Kawasan Bandung Utara yang terbentang hingga Manglayang berubah fungsi menjadi wilayah hunian manusia serta bangunan komersial. Padahal, wilayah utara termasuk ekosistem ular. “Wajar kalau ada kehadiran ular di wilayah itu,” ujarnya.

Bagi warga yang menemukan ular liar, direkomendasikan tidak menyentuh langsung menggunakan tangan kosong. Usahakan menggunakan sapu atau tongkat agar terdapat jarak dengan ular. Jika tidak dalam keadaan terdesak, kata dia, upayakan tidak membunuh ular agar peranannya di ekosistem tetap terjaga.

“Dengan tongkat, digeser-geser saja badannya. Atau boleh juga ditutup memakai ember, ditimpuk batu, atau memakai pemberat. Lalu, bisa menghubungi kami atau yang lebih umum ke pemadam kebakaran. Pemadam kebakaran juga berkoordinasi dengan Sioux. Kami memang terus berkoordinasi,” kata Albiansyah.***

Bagikan: