Pikiran Rakyat
USD Jual 14.130,00 Beli 13.830,00 | Sebagian cerah, 27.1 ° C

Ada 4 Macan Baru di Hutan Margasatwa Ciamis

Nurhandoko
PETUGAS memantau pergerakan macan di Hutan Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis, Jumat, 5 Juli 2019.*/NURHANDOKO.PR
PETUGAS memantau pergerakan macan di Hutan Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis, Jumat, 5 Juli 2019.*/NURHANDOKO.PR

CIAMIS,(PR).- Populasi macan tutul Jawa (Panthera pardusmelas) dan macan kumbang penghuni kawasan Hutan Margasatwa Gunung Sawal Ciamis bertambah empat ekor. Penambahan individu macan diketahui dari hasil rekaman kamera pemantau yang dipasang di titik yang biasa dilewati binatang buas tersebut.

Sebanyak 18 kamera pemantau yang dipasang di delapan titik, berhasil merekam sembilan macan, terdiri dari macan yang sudah dewasa maupun remaja. Dari sembilan macan, salah satunya adalah Si Abah, macan tutul yang sempat masuk perangkap yang dipasang warga, serta kembali dilepasliarkan.

“Survei tahun 2016 terlacak hanya lima ekor macan, akan tetapi survei 2019 terlacak sembilan ekor macan tutul dan macan kumbang, bertambah empat ekor. Kondisi macan tampak sehat,” kata Kepala Bidang BKSDA Wilayah III Ciamis , Himawan Sasongko, Jumat, 5 Juli 2019.

Dia mengatakan, empat ekor macan baru yang terlacak yakni tiga ekor macan tutul dan seekor macan kumbang. Sedangkan lima lainnya adalah macan yang sebelumnya pernah terekam.

Rinciannya adalah seekor macan tutul besar jantan, seekor macan tutul remaja jantan, seekor macan tutul remaja jantan serta seekor macan kumbang dewasa.

Apabila melihat hasil rekaman, lanjutnya, tidak menutup kemungkinan populasi macan di hutan suaka margasatwa Gunung Sawal lebih dari sembilan. Apalagi, hanya delapan titik yang dipasangi kamera perekam, sedangkan kawasan hutan sangat luas.

“Lokasi pemasangan kamera ada yang di dalam hutan, ada pula yang di pinggir hutan. Pemantauan berlangsung selama tiga bulan, terakhir Bulan Juni 2019. Terekam sembilan individu macan yang berbeda,” tuturnya.

Himawan mengatakan, dari sembilan ekor individu macan yang terekam, paling dominan adalah Si Abah, macan tutul yang masuk perangkap yang dipasang warga, tahun lalu, di hutan Blok Cilumpang, Cikupa. Macan tersebut memiliki daya jelajah yang sangat luas di kawasan Hutan Margasatwa Gunung Sawal yang luasnya mencapai 5.400 hektare.

 ‘Si Abah paling tua, dilepasliarkan pada hari Selasa, 2 Oktober 2010 di kawasan hutan Blok Pasir Tamiang, Cihaurbeuti. Salah satu ciri khas yang mudah dikenali yakni memiliki biji salak (skrotum) yang besar. Si Abah menguasai tiga ekor betina, terdiri dua macan tutul dan seekor macan kumbang,” katanya.

Masuk perkampungan

Lebih lanjut, Himawan mengatakan saat ini kondisi Hutan Margasatwa Gunung Sawal masih terjaga. Kondisi tersebut sangat membantu keberadaan macan di wilayah tersebut.

Sebab, keberadaan hewan yang menjadi mangsa seperti babi hutan dan rusa masih ada. Dengan demikian macan tidak turun gunung, dan masuk ke perkampungan.

“Macan yang menyasar masuk perkampungan, biasanya masih remaja yang tengah belajar berburu, atau macan tua yang kemampuan berburunya sudah menurun sehingga mencari mangsa yang mudah diterkam, yakni ternak,” tutur Himawan.

Menghadapi kondisi tersbeut, dia mengimbau agar warga tidak menangkapnya. Lebih baik, lanjutnya, macan dihalau kembali masuk hutan. Selain itu juga segera melaporkan kepada petugas BKSDA.

“Kami juga pernah berhasil menghalau macan tutul yang menyasar permukiman. Jika memergoki, jangan ditangkap atau dijerat, akan tetapi dihalau kembali masuk hutan. Bisa dengan bunyi-bunyian,” katanya.***

Bagikan: