Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sebagian cerah, 30 ° C

Petani Garut tak Mau Bayar Pajak

Tim Pikiran Rakyat
SALURAN air yang digunakan warga Kelurahan Sukamenteri untuk mengairi sawahnya yang sudah tercemar limbah pengolahan kulit Sukaregang. Hal ini menyebabkan tanaman padi tumbuh tidak sempurna sehingga jumlah hasil panen selalu menurun bahkan kadang sampai gagal panen.*/AEP HENDY/KABAR PRIANGAN
SALURAN air yang digunakan warga Kelurahan Sukamenteri untuk mengairi sawahnya yang sudah tercemar limbah pengolahan kulit Sukaregang. Hal ini menyebabkan tanaman padi tumbuh tidak sempurna sehingga jumlah hasil panen selalu menurun bahkan kadang sampai gagal panen.*/AEP HENDY/KABAR PRIANGAN

GARUT, (PR).- Pencemaran yang diakibatkan oleh pembuangan limbah pengolahan kulit Sukaregang, kini kembali diprotes warga. Kali ini giliran para petani di wilayah Kelurahan Sukamenteri, Kecamatan Garut Kota yang meradang karena sawahnya terkena dampak dari limbah kulit Sukaregang.

Mereka mengeluhkan kondisi air yang digunakan untuk mengairi sawah mereka yang sudah sedemikian parahnya tercemar limbah kulit Sukaregang. Hal ini menyebabkan hasil panen padi mereka terus mengalami penurunan bahkan tak sedikit pula yang sampai gagal panen.

"Limbah dari pengolahan kulit Sukaregang benar-benar sudah sedemikian parah mencemari saluran air yang selama ini kami gunakan untuk mengairi sawah kami. Limbah kulit bukan hanya menyebabkan air menjadi bau tapi juga warnanya sudah sangat pekat," ujar Dede, salah seorang petani warga Kelurahan Sukamenteri.

Dikatakannya, hal ini tentu sangat berdampak terhadap pertumbuhan tanaman padai milik para petani. Bukan hanya lamban pertumbuhannya, tanaman padi juga tak membuahkan hasil yang maksimal bahkan ada juga yang sampai gagal penen.

Dengan terus menurunnya hasil produksi padi, diakui Dede tentu juga sangat berpengaruh terhadap pendapatan para petani. Akibatnya, jangankan untuk membayar pajak tanah, untuk pemenuhan kebutuhan sehari-haripun sangat sulit.

"Saya ini kan petani yang hanya mengandalkan pendapatan dari hasil panen padi di sawah. Jika produksinya terus menurun bahkan kadang gagal panen, darimana saya mau punya uang untuk bayar pajak?" katanya.

Ia dan petani lainnya di Sukamenteri, tuturnya, bukannya tak mau menjadi warga yang taat dengan cara memenuhi kewajiban membayar pajak. Namun kondisilah yang mengakibatkan para petani ini tak mampu membayar pajak.

Tak ada uang

Banyaknya warga terutama petani di wilayah Kelurahan Sukamenteri yang tak mau membayar pajak juga dibenarkan oleh petugas pajak lapangan Kelurahan Sukamenteri, Deni Herdiana. Hal ini memang ada kaitanya dengan penurunan hasil panen padi mereka akibat air yang mereka gunakan untuk mengairi sawah mereka tercemar limbah kulit.

"Sebagai petugas pemungut pajak, terus terang saya merasa kesulitan memungut pajak dari para petani yang ada di wilayah Sukamenteri. Mereka tak mau memenuhi kewajibannya membayar pajak karena lahan sawah mereka tercemari limbah kulit yang dibawa melalui air," ucap Deni kepada wartawan Kabar Priangan, Aep Hendy.

Menurutnya, sebenarnya mereka bukannya tak mau membayar akibat tak menyadari kewajibannya. Mereka memang tak ada uang untuk membayar pajak karena penghasilan mereka yang terus menurun seiring dengan terus menurunnya produksi padi hasil penen.

Deni menyampaikan, petani yang tidak membayar pajak di wilayah Kelurahan Sukamenteri itu jumlahnya cukup banyak. Lahan sawah mereka tersebar di empat kampung yakni Kampung Lengkong, Bojonglarang, Copong, dan Tanjungpura.

Masih menurut Deni, luas lahan sawah yang ada di empat kampung itu totalnya mencpai 90 hektare. Dari luas lahan tersebut, 60 persennya tidak lagi memenuhi kewajiban untuk membayar pajak.

Selama ini, tambahnya, dirinya seringkali menerima keluhan dari para petani tentang penghasilan mereka yang terus menurun bahkan merugi. Hal ini dikarenakan pencemaran yang terjadi pada air yang mereka gunakan untuk mengairi sawah mereka sehingga tanaman padi tidak tumbuh secara sempurna bahkan sering gagal penan.
  
Diungkapkan Deni, limbah pengolahan kulit dari kawasan Sukaregang memang mengalir ke sungai yang selama ini airnya digunakan para petani di Kelurahan Sukamenteri untuk mengairi sawahnya. Selain mencemari aliran sungai, limbah cair kulit juga menyebabkan air sumur warga kotor sehingga tidak bisa digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.***

Bagikan: