Pikiran Rakyat
USD Jual 14.048,00 Beli 14.146,00 | Cerah berawan, 31.2 ° C

Aksi Vandalisme Merusak Pelestarian Cagar Alam Pangandaran

Tim Pikiran Rakyat
WISATWAN asal dari Subang dan Banjarmasin Kalimantan Selatan tengah mengunjungi lokasi gua Jepang di cagar alam Pangandaran. Mereka menyayangkan adanya aksi vandalisme yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, Jumat, 5 Juli 2019.*/AGUS KUSNADI/KABAR PRIANGAN
WISATWAN asal dari Subang dan Banjarmasin Kalimantan Selatan tengah mengunjungi lokasi gua Jepang di cagar alam Pangandaran. Mereka menyayangkan adanya aksi vandalisme yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, Jumat, 5 Juli 2019.*/AGUS KUSNADI/KABAR PRIANGAN

PANGANDARAN,(PR).- Upaya pelstarian cagar budaya di Pangandaran terkendala vandalisme. Beberapa bunker yang dibuat pada masa pendudukan Jepang yang berada di kawasan Cagar alam Pangandaran dirusak dengan aksi corat-coret oleh orang tidak bertanggung jawab.

Setidaknya pada 2 bunker di Blok Pasir Putih, sang vandalism membuat tulisan atau gambar pada pintu masuk dan dinding bunker. Tulisan dan gambar  dibuat menggunakan cat semprot (pilox) berwarna biru, merah, dan putih.

Juru Pelestari dari Balai Pelestari Cagar Budaya Serang-Banten Haris Yanto (38) mengatakan, aksi vandalisme dilakukan oleh wisatawan yang datang ke lokasi tersebut melalui jalur laut dengan menggunakan perahu peaiar.  Pasalnya, jika wisatawan masuk melalui pintu pantai barat atau timur, barang bawaan diperiksa petugas. 

"Tampaknya, kedatangan mereka ke lokasi cagar alam (bunker) melalui jalur laut dengan menumpang perahu pesiar. Karena, wisatawan yang masuk cagar alam melalui pantai barat atau timur diperiksa petugas,"  papar Haris, Jumat, 5 Juli 2019.

Dituturkan Haris, terkait vandalisme yang dilakukan oleh wisatawan yang tidak bertanggung jawab tersebut, dirinya sangat menyayangkan.  Pasalnya, aksi vandalisme akan merusak fisik bunker sekaligus nilai sejarah yang terkandung pada bangunan cagar budaya menjadi hilang.

"Jujur saja dengan aksi vandalisme pada fisik bunker menjadikan nilai sejarah pada benda cagar budaya tersebut menjadi berkurang," ujar Haris.

Pasalnya, kata Haris, aksi penambahan dengan cara mencoret-coret berupa tulisan, gambar atau pengurangan dengan memindahkan atau mengambil objek tertentu dari sebuah benda bersejarah dapat mengurangi bahkan menghilangkan nilai sejarahnya.

Menyimpan amunisi

Saat dikonfirmasi Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Kab. Pangandaran Aceng Hasim membenarkan adanya aksi vandalisme terhadap benda bersejarah (bunker) yang terdapat di kawasan cagar alam Pangandaran. 

Menurut Aceng, bunker tersebut dibuat pada masa pendudukan Jepang, yang digunakan untuk menyimpan amunisi dan persenjataan perang.

"Menurut hasil penelitian, bunker yang dibuat bangsa Jepang di cagar alam peruntukkannya untuk gudang amunisi dan senjata. Sekaligus sebagai benteng pertahanan dalam memata-matai fihak Belanda yang kala itu kekuatannya masih cukup kuat di Pangandadan," papar Aceng.

Aceng menegaskan, jika aksi vandalisme yang dilakukan orang atau pengunjung memiliki konsekuensi hukum berupa ancaman pidana dan atau perdata. 

Merujuk pada Undang-undang No 11 tahun 2010, kata Aceng, kepada pelaku dapat dilakukan pendekatan berupa sanksi hukum dan atau denda.

"Kepada pelaku vandalisme dapat disangkakan sebagai upaya pengrusakan benda cagar budaya sebagaimana diatur dalam UU No 11 tahun 2010 pasal 105 tentang Cagar Budaya.  Ancaman bagi para perusak benda cagar budaya dapat dikenai denda paling sedikit Rp 500 juta dan paling banyak Rp 5 milyar dan atau pidana paling singkat 1 tahun dan paling lama 15 tahun," jelasnya.

Sulit dihilangkan

Aceng mengatakan, upaya membersihkan dampak dari aksi vandalisme pada bunker, dirasakan sangat sulit, karena ternyata, tulisan dan gambar yang tertera pintu masuk dan dinding bunker, sulit dihilangkan walaupun dengan menggunakan beberapa bahan kimia. 

"Kami akan menyampaikan laporan ke BPCB Serang Banten untuk mendatangkan tim ahli pemeliharaan dari Candi Borobudur. Karena upaya pembersihan yang dilakukan kami, tidak memuaskan walaupun menggunakan peralatan dan bahan kimia tertentu," ucap Aceng.

Di cagar alam, menurut Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Resort Pangandaran, Uking Iskandar, sepertinya aksi vandalisme dilakukan oleh pelaku baru-baru ini.

"Soal setiap kami keliling belum ada coret-coretan pada bangunan bunker atau gua Jepang," ujar Uking kepada wartawan Kabar Priangan, Agus Kusnadi.

Kurangnya pengawasan terhadap pengunjung si pembawa peralatan cat berupa pilox di pintu masuk ke cagar alam, Uking mengaku petugas telah dilakukan penjagaan yang sangat ketat.

"Tapi kan tidak mungkin setiap pengunjung yang mau masuk ke cagar alam kita geledah satu persatu," ujarnya, seraya Uking mengatakan, dengan SDM yang minim di BKSDA Pangandaran menjadi kendala dalam melakukan pengawasan di cagar alam yang sangat luas itu.***
 

Bagikan: