Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Sebagian berawan, 18.4 ° C

Ribuan Petani Cianjur Terancam Menganggur

Shofira Hanan
PETANI memanen hasil tanam terakhir mereka memasuki musim kemarau, di Cibeber Kab. Cianjur.*/SHOFIRA HANAN/PR
PETANI memanen hasil tanam terakhir mereka memasuki musim kemarau, di Cibeber Kab. Cianjur.*/SHOFIRA HANAN/PR

CIANJUR, (PR).- Ribuan petani di wilayah Kecamatan Cibeber terancam menganggur setelah lahan pertanian mereka tak bisa digarap. Musim kemarau yang ditambah dengan rusaknya irigasi, membuat lahan mereka berpotensi tidak bisa lagi digunakan untuk bercocok tanam karena minim air.

Padahal, para petani berencana untuk mulai beralih ke palawija saat musim kemarau berlangsung agar lahan digunakan bergantian. Hanya saja, hal itu dirasa tidak memungkinkan setelah melihat kondisi terakhir. Apalagi, memang tidak ada air sama sekali untuk digunakan bertani.

”Kondisi kekeringan saat ini, membuat petani tidak bisa berbuat apa-apa. Terutama di musim tanam berikutnya,” ujar seorang petani, Imas (52), Jumat 5 Juli 2019.

Menurut dia, sampai sekarang pun hasil panen petani menurun drastis hingga 50 persen. Biasanya mereka bisa memperoleh 8 ton per hektare, tapi kini setidaknya hanya 4-5 ton per hektare yang bisa diperoleh. Hal itu, sedikit banyak dipengaruhi oleh minimnya pengairan sejak dua bulan lebih.

Ia mengaku, pada akhirnya petani di kawasan tersebut hanya bisa memanen padi meskipun hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Imas menilai, musim kemarau juga diprediksi akan terus berlangsung dan kemungkinan petani tidak bisa menanam padi untuk masa tanam berikutnya.

”Petani di sini berharap pemerintah bisa secepatnya memperbaiki  bendungan irigasi Cikondang. Selama belum diperbaiki, sawah pasti sulit dapat air, tidak bisa cuma mengandalkan hujan yang tidak bisa diperkirakan kapan akan turun,” ucapnya.

Kehilangan produksi

Sementara itu, Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan, Dinas Pertanian, Perkebunan, Pangan dan Hortikultura Kabupaten Cianjur, Henny Iriani Winata mengatakan, sebenarnya jebolnya irigasi diperkirakan menyebabkan petani kehilangan produksi sekitar 13.369 ton gabah kering giling (GKG).

”Sebelum bendungan jebol, dalam satu tahun para petani bisa tanam padi 2.518 hektar dengan dua kali tanam. Perhitungan dengan asumsi indek pertanaman 2,5,” ujar dia.

Menurut dia, kembali berfungsinya jaringan irigasi yang kemungkinan baru terjadi pada 2021, maka Cianjur terancam akan kehilangan lebih dari 35 ribu ton padi. Oleh karena itu, dapat dikatakan jika bendungan Cikondang sangat dibutuhkan dan perlu segera diperbaiki agar dapat digunakan para petani. 

”Karena kita sama-sama tahu, bendungan Cikondang Cibeber itu bisa menjadi andalan petani untuk mengairi sawah melalui irigasi yang ada. Kalau sekarang kan hanya mengandalkan air hujan,” kata Henny.

Seperti diketahui sebelumnya, irigasi yang berasal dari bendungan Cikondang tersebut dapat mengairi sawah dengan luas 1.007 hektare di sembilan desa yang berada di Kecamatan Cibeber. Namun, pada Januari 2019 lalu bendungan tersebut jebol karena termakan usia. Keberadaan bendungan tersebut, biasa membantu pengairan lahan sawah milik petani yang bisa melakukan tanam padi minimal dua kali tanam dalam satu tahun. ***

Bagikan: