Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya cerah, 26.2 ° C

Krisis Air Bersih, Warga Terpaksa Gunakan Air Sungai Keruh

Shofira Hanan
WARGA Desa Cimanggu mencuci di sungai sejak sumber air mereka mengering, di Cibeber. Kekeringan di sejumlah wilayah Cianjur memaksa warga mengoptimalkan sumber air yang ada, meskipun air seringkali keruh atau tidak layak pakai karena tidak ada pilihan lain.*/SHOFIRA HANAN/PR
WARGA Desa Cimanggu mencuci di sungai sejak sumber air mereka mengering, di Cibeber. Kekeringan di sejumlah wilayah Cianjur memaksa warga mengoptimalkan sumber air yang ada, meskipun air seringkali keruh atau tidak layak pakai karena tidak ada pilihan lain.*/SHOFIRA HANAN/PR

KEKERINGAN membuat warga di dua dusin di Desa Jayagiri, Kecamatan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur, terpaksa membendung aliran susukan atau sungai kecil agar memperoleh air. Selama dua bulan terakhir, warga bergantian mengambil air yang dari kejauhan pun terlihat sangat keruh.

Namun, tak ada pilihan. Warga Kampung Pasir Manggah dan Gelar Pawitan tetap mengantre dan menampung air untuk digunakan.

Sumur mereka kering dan sumber air yang biasa mereka sebut susukan itu adalah satu-satunya yang tersisa. Setiap harinya, warga harus berhati-hati saat menampung air dan memasukannya ke wadah, karena air bisa semakin keruh.

”Ini satu-satunya sumber air yang tersisa, kami terpaksa menggunakannya untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK),” kata seorang warga, Obar (50), Rabu, 3 Juli 2019. 

Perjuangan warga untuk mendapatkan air yang seadanya itu juga sebenarnya cukup panjang. Soalnya, mereka harus berjalan jauh untuk menjangkau sungai yang memang airnya tidak mengalir itu.

Pasokan seadanya

Hingga saat ini, warga memang masih bisa bertahan dengan pasokan seadanya. Namun, warga tetap dihantui rasa khawatir jika sumber yang ada pun lama-lama bisa saja mengering.

Kepala Dusun Pasir Manggah, Hendarsah mengatakan, jika sungai kering maka warga tidak tahu harus mencari sumber air kemana lagi.

”Ada 1.500 kepala keluarga di empat kedusunan yang terdampak musim kemarau saat ini. Sebenarnya kekeringan dan krisis air bersih ini sudah terjadi sejak awal Ramadan lalu, jadi hampir tiga bulan lamanya,” ucapnya.

Ia menjelaskan, kekeringan yang terjadi saat ini lebih parah dibandingkan dua tahun lalu saat wilayah tersebut dilanda krisis air bersih. Biasanya, jika kemarau terjadi selama dua bulan, masih terdapat air di sumur-sumur warga. Namun kali ini, benar-benar kering.

Oleh karena itu, diharapkan pemerintah dan pihak terkait cepat tanggap dalam menyikapi kondisi tersebut. Setidaknya, pemerintah dapat mengirimkan tangki air bersih untuk kebutuhan warga.

Aliran Leuwi Jambrong

Sementara itu, di sudut lain Cianjur, warga terus hilir mudik untuk mendapatkan air bersih di Desa Cimanggu, Kecamatan Cibeber. Aliran Leuwi Jambrong sangat diandalkan selama sebulan terakhir.

Ketika disambangi, beberapa warga terlihat sedang mencuci pakaian dan mandi di sungai tersebut. Setelah selesai beraktifitas, warga bahkan terlihat membawa ember penuh berisi air untuk kebutuhan lain di rumah.

”Terpaksa, setiap hari harus jalan setidaknya 1,5 kilometer sampai 3 kilometer paling jauh. Seharinya bisa sampai 12 ember, jadi pagi ambil enam ember dan sore enam ember dari sungai untuk persediaan,” ujar salah satu warga Kampung Legok, Atikah (55).

Tidak hanya harus bersusah payah mengangkut air dari sungai, warga juga harus membeli air galon jika sungai terlalu keruh. Dalam sehari, setidaknya dibutuhkan empat galon air bersih untuk kebutuhan mandi dan memasak.

Besar harapan, bantuan akan segera didapatkan sehingga warga tidak mengandalkan sumber pengairan yang seadanya. Apalagi, melihat dari segi kesehatan, air yang rata-rata keruh itu tidak layak untuk dikonsumsi ataupun digunakan mandi.***

Bagikan: