Pikiran Rakyat
USD Jual 14.106,00 Beli 13.806,00 | Sebagian berawan, 20.3 ° C

Kekeringan, Warga Minta Digelar Doa Minta Hujan

Tommi Andryandy
WARGA terpaksa mengambil air dari sungai yang mulai mengering di Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi. Sejak sepekan terakhir, tiga desa di Cibarusah mengalami kekeringan.*/TOMMI ANDRYANDY/PR
WARGA terpaksa mengambil air dari sungai yang mulai mengering di Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi. Sejak sepekan terakhir, tiga desa di Cibarusah mengalami kekeringan.*/TOMMI ANDRYANDY/PR

CIKARANG, (PR).- Warga Desa Ridhomanah, Kecamatan Cibarusah, meminta Pemerintah Kabupaten Bekasi menggelar doa bersama untuk minta turun hujan. Soalnya, hingga kini kekeringan terus terjadi, sedangkan solusi yang dilakukan hanya sekadar pengiriman air bersih.

Saat ini, Ridhomanah bersama dua desa lainnya di Cibarusah yakni Ridhogalih dan Sirnajati masih dilanda kekeringan. Bahkan, daerah ini diyakini  menjadi yang terparah dilanda kekeringan.

“Sekarang air susah, paling nunggu kiriman. Angkut-angkut air juga tiap hari. Ya inginnya sih ada solusi lain. Saya juga inginnya itu dibuat doa bersama minta turun hujan biar gak ada kekeringan lagi,” kata Deden Hujaeni (25), salah seorang warga setempat, Rabu, 3 Juli 2019.

Selain meminta agar digelar doa bersama, Deden pun berharap kondisi kekeringan yang terjadi di daerahnya ditinjau langsung oleh Bupati Eka Supria Atmaja. Agar orang nomor satu di Kabupaten Bekasi itu paham dan langsung mengerahkan berbagai instansi untuk menanggulangi bencana  tahunan tersebut.

”Sebab kekeringan ini menjadi penderitaan kami setiap tahun, bahkan sulitnya air membuat tidak mandi seharian. (Pemerintah) Bekasi harusnya melihat seperti apa kondisinya, jadi setelah lihat bisa langsung bergerak. Ya langsung dibikin sumur bor, sumur artesis, sumur satelit atau sejenisnya. Karena kalau kirim air saja enggak ngebantu, tahun depan begini lagi,” ucapnya. 


Solusi berkesinambungan untuk mengatasi kekeringan, menurut dia, tidak dimiliki Pemkab Bekasi. Sejauh ini, solusi yang disiapkan bersifat instans, yakni menyiapkan air bersih untuk disalurkan pada warga terdampak.

Padahal, jika dirunut per tahun, kekeringan merupakan bencana rutin. Di hampir setiap musim kemarau, sejumlah kecamatan di Kabupaten Bekasi mengering. Warga kesulitan memeroleh air bersih sehingga hanya berharap pada kiriman air.

Kekeringan ekstrem

Teranyar, Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika bahkan menyebut bahwa dua daerah di Kabupaten Bekasi yakni Kecamatan Pebayuran serta Lemahabang di Kecamatan Cikarang Utara, diprediksi mengalami kekeringan ekstrem. Namun, tidak ada langkah khusus untuk mencegah kondisi  tersebut.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bekasi, Adeng Hudaya mengatakan, pihaknya masih melakukan koordinasi terkait prediksi kekeringan ekstrem tersebut. “Saat ini kami terus memantau kondisi kekeringan di Pebayuran dan Lemahabang itu. Karena memang, dari hasil laporan di lapangan kekeringannya belum terjadi. Meski begitu, pantauan terus dilakukan,” kata Adeng.

Diakui Adeng, persoalan kekeringan seharusnya ditanggulangi secara menyeluruh dan berkesinambungan. Soalnya, penanggulangan kekeringan  masih bersifat instan meski bencana terjadi secara rutin.

“Memang untuk Pebayuran dan Lemahabang, persiapan kami masih sama, yaitu penyiapan armada untuk mengirim air ke warga. Kami pun sudah berkoordinasi dengan PDAM Tirta Bhagasasi yang ada di sekitaran lokasi untuk pengiriman air. Namun demikian, memang harusnya ada  penanggulangan yang lebih menyeluruh,” ucap Adeng.

Selain karena bencana kekeringan bersifat tahunan, diperlukan juga solusi berkesinambungan karena di wilayah Pebayuran dan Lemahabang relatif memiliki sumber air yang memadai. Beda halnya dengan tiga desa di Kecamatan Cibarusah yakni Ridhogalih, Ridhomanah dan Sirnajati.

“Kalau yang di Cibarusah kan susah sumber airnya. Aliran air yang ada di Sungai Cipamingkis pun kering jadi susah ambil airnya. Belum lagi di  hulunya juga kan mengering. Jadi solusinya dikirimin air. Tapi kalau Pebayuran dan Lemahabang relatif lebih baik sumber airnya,” ucap dia.

Lebih lanjut, diungkapkan Adeng, solusi berkesinambungan ini sebenarnya telah disampaikan pada sejumlah dinas terkait, terutama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang yang membidangi infrastruktur. Namun, harus memerlukan kajian lebih lanjut.

“Kelanjutan solusi kekeringan ini masih belum diketahui. Saya sudah sampaikan ke Dinas PUPR untuk minimal dibangun sumur di titik-titik yang ada airnya, ataupun dibikin atau diperbaiki saluran yang ada,” ucapnya.***

Bagikan: