Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Umumnya cerah, 27.8 ° C

Demi BIJB Kertajati, Rugi pun Dijalani

Ani Nunung Aryani
SUASANA Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati yang lengang di Majalengka, Jawa Barat, Sabtu, 15 Juni 2019. PT BIJB menyatakan pemindahan 12 rute penerbangan dari Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) yang seharusnya pada tanggal 15 Juni 2019 dibatalkan karena adanya masalah administrasi.*/ANTARA
SUASANA Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati yang lengang di Majalengka, Jawa Barat, Sabtu, 15 Juni 2019. PT BIJB menyatakan pemindahan 12 rute penerbangan dari Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) yang seharusnya pada tanggal 15 Juni 2019 dibatalkan karena adanya masalah administrasi.*/ANTARA

CIREBON, (PR).-Demi memaksimalkan operasional Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati Majalengka, bisnis transportasi rugi pun tetap dijalani. Semua dilakukan demi lancarnya konektivitas dan kemudahan masyarakat menjangkau BIJB.

Menurut koordinator Sobat Trans Cirebon Rahmat Suherman, selama dua hari pemindahan penerbangan domestik dari Bandara Husein Sastranegara ke BIJB Kertajati, penumpang dari dan ke Cirebon sepi. Sobat trans sementara ini menyiapkan dua unit kendaraan dengan kapasitas 10 orang penumpang, untuk melayani Cirebon-Kertajati, dengan titik keberangkatan dari Hotel Ibis Budget di Jalan Siliwangi Kota Cirebon.

Sepinya penumpang juga diungkapkan Andi Ridwan, petugas loket bus Damri rute Cirebon-Kertajati. Damri menyiapkan tiga armada bus dengan kapasitas maksimal 40 orang penumpang, untuk melayani rute Cirebon-Kertajati, dengan pool keberangkatan di Terminal Harjamukti Kota Cirebon. Hingga Selasa, 2 Juli 2019 sore, dari dua moda transportasi Damri dan Sobat Trans, baru lima orang penumpang yang berangkat dari Cirebon menuju BIJB. 

Tiga orang dilayani Damri pada pukul 6.00 dan dua orang dari Sobat Trans dalam dua kali pemberangkatan pukul 6.00 dan 10.00. Sementara pada hari pertama operasional BIJB Senin, 1 Juli 2019, jumlah penumpang total baik yang berangkat dari Cirebon maupun dari BIJB, sebanyak 25 orang. Sebanyak 15 orang dilayani Damri, dan 10 orang dilayani Sobat Trans dari lima rit (pulang-pergi).

Rahmat mengakui, secara hitungan bisnis, bukan hanya tidak untung tetapi rugi besar. Menurutnya, untuk sekali jalan saja, setidaknya harus membeli 6 liter solar, membayar sopir dan membayar tarif tol Cirebon-Kertajati.

Namun demi BIJB, lanjutnya, sementara bisnis rugi pun tetap dijalani. "Demi operasional BIJB lancar dan tidak ada kendala, kami siap membantu memberikan pelayanan untuk kelancaran konektivitas dan kemudahan masyarakat menjangkau BIJB," jelasnya.

Menurutnya, dengan komitmen memberikan pelayanan itu pula, meski hanya satu orang penumpang, Sobat Trans tetap mengangkutnya. Saat ini dengan kondisi penumpang yang sepi, katanya, ibarat kerja sosial untuk memberikan service atau pelayanan kepada penumpang BIJB.

Sehingga meski memiliki jadwal keberangkatan tetap, baik Sobat Trans maupun Damri, saat ini jadwal keberangkatan, menyesuaikan ada tidaknya penumpang yang diangkut. "Kalau jadwal kami di Damri, mulai melayani penumpang sejak pukul 3.00 pagi, setelahnya setiap dua jam sekali ada jadwal keberangkatan. Namun ketika jam keberangkatan tidak ada penumpang, kami tidak berangkat. Sebaliknya, meski hanya satu orang penumpang, kami tetap memberangkatkan bus," ujar Andi Ridwan.

Menurut Andi, ada sejumlah faktor penyebab sepinya penumpang dari Cirebon. Selain belum banyak warga yang tahu, jarak tempuh Cirebon-Kertajati yang pendek, boleh jadi membuat warga memiliki pilihan untuk mengantar jemput sendiri anggota keluarganya yang bepergian melalui Kertajati.

Meski saat ini sepi penumpang, Rahmat Suherman optimistis, kondisi seperti ini tidak akan berlangsung lama. Bahkan untuk semakin memberikan kenyamanan kepada pengguna jasa, lanjut Rahmat, bulan Juli ini Sobat Trans akan menambah unit kendaraan satu lagi dan jenis kendaraan diganti yang lebih besar, agar bisa menampung barang bawaan penumpang lebih banyak.

"Maka dari itu pimpinan Sobat Trans Bapak Ferdinan Haryanto juga berlapang dada dan berbesar hati, sementara ini demi lancarnya operasional BIJB saja dulu," jelasnya.

Rahmat berharap selama angkutan penumpang sepi, barangkali ada subsidi dari pemerintah daerah untuk sedikit membantu operasional moda transportasi yang ada. "Karena tidak seperti ke Bandung yang penumpangnya ramai sampai overload, kalau penumpang yang ke Cirebon atau dari Cirebon nyaris sepi," katanya.***

Bagikan: