Pikiran Rakyat
USD Jual 14.106,00 Beli 13.806,00 | Sebagian berawan, 21 ° C

Petani di Kabupaten Bekasi Diminta Ajukan Klaim Asuransi Bila Gagal Panen

Tommi Andryandy
ILUSTRASI kekeringan di persawahan.*/GELAR GANDARASA/PR
ILUSTRASI kekeringan di persawahan.*/GELAR GANDARASA/PR

CIKARANG, (PR).- Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi mengimbau petani agar tidak terburu-buru menanam padi pada musim kemarau untuk menghindari gagal panen. Sedangkan, petani yang menderita kerugian akibat kekeringan dapat segera mengajukan ganti rugi melalui asuransi pertanian.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Kabupaten Bekasi, Nayu Kulsum, mengatakan, program asuransi pertanian sudah mulai diminati di Kabupaten Bekasi. Beberapa kelompok tani bahkan sudah mengajukan klaim ganti rugi atas lahan yang gagal panen.

“Maka dari itu, kami dorong untuk memanfaatkan asuransi pertanian. Di kecamatan, seperti di Bojongmangu sudah dilakukan. Petani mendapat uang modalnya kembali. Melalui para petugas di lapangan, hal ini pun kami sampaikan pada petani di kecamatan lainnya,” kata Nayu di komplek Perkantoran Pemerintah Kabupaten Bekasi, Cikarang Pusat, Jumat, 28 Juni 2019.

Pengajuan ganti rugi ini disarankan setelah sejumlah kelompok tani di Kecamatan Cibarusah mengaku merugi hingga miliaran rupiah. Tiga desa di kecamatan tersebut, yakni Ridhogalih, Ridhomanah, dan Sirnajati, mengalami kekeringan. Tidak hanya kekurangan air bagi kebutuhan rumah tangga, namun juga kekeringan pada areal persawahan.

Diungkapkan Nayu, pihaknya masih melakukan pendataan terbaru untuk mengetahui secara pasti kondisi sawah di Cibarusah. Berdasarkan data Dinas Pertanian per 15 Juni 2019, kekeringan area persawahan justru mayoritas tidak terjadi di Cibarusah, melainkan di Bojongmangu.

Dari total 22.174 hektare luas tanam yang tersebar di 23 kecamatan di Kabupaten Bekasi, kekeringan terluas terjadi di Bojongmangu. Kekeringan di kecamatan yang berdampingan dengan Cibarusah itu mencapai 716 hektare, namun baru dikategorikan sebagai kekeringan ringan.

Kekeringan lainnya juga berada di Sukatani dengan luas mencapai 28 hektare untuk kekeringan ringan dan 16 hektare untuk kekeringan sedang. Selanjutnya, kekeringan terjadi di Cibarusah dengan total luas 28 hektare.

FOTO ilustrasi kekeringan.*/ANTARA

Sosialisasi dan distribusi air dilakukan untuk mencegah dampak kekeringan meluas

Kendati jumlah luas sawah yang kekeringan cenderung rendah, namun Dinas Pertanian mencatat luas tanaman yang terancam cenderung tinggi. Sedikitnya 3.203 hektare sawah di 13 kecamatan terancam kekeringan. Ancaman kekeringan paling luas berada di Cibarusah (1.466 hektare) dan Bojongmangu (888 hektare).

Untuk mencegah kekeringan terus meluas, kata Nayu, pihaknya terus menyosialisasikan pada petani untuk menahan diri agar tidak menanam padi. Kendati terdapat kandungan air di dalam tanah, namun jumlahnya tidak akan mencukupi untuk kebutuhan selama menanam hingga panen.

“Yang kami khawatirkan yakni dipaksa terus menanam akhirnya tidak jadi panen. Kecenderungan yang terjadi, karena melihat ada air jadi langsung ditanam, tapi ternyata tidak mencukupi,” ucap dia.

Dinas Pertanian, lanjut Nayu, turut membantu distribusi air untuk areal persawahan. Namun, bantuan tidak dapat diberikan kepada seluruh daerah.

“Bantuan yang kami berikan seperti pompa dan bentuk lainnya agar sawah teraliri air. Tapi itu pun untuk daerah yang ada sumber airnya. Sedangkan beberapa daerah yang tidak ada sumber airnya justru itu yang sulit, seperti halnya Cibarusah. Maka dari itu, kami imbau untuk menahan agar tidak dulu menanam,” ucap dia.***

Bagikan: