Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sebagian cerah, 27.2 ° C

Gelombang Laut Tinggi, Nelayan Pilih Tak Melaut

Bambang Arifianto

ILUSTRASI nelayan.*/DOK. KABAR BANTEN
ILUSTRASI nelayan.*/DOK. KABAR BANTEN

SINGAPARNA, (PR).- Tingginya gelombang laut yang mencapai enam meter membuat nelayan di pantai selatan Kabupaten Tasikmalaya memilih tak melaut. Akibatnya, pasokan ikan laut pun terhenti. 

"Sekarang lagi buruk, tidak ada nelayan yang ke laut," kata Kepala Unit Pelaksana Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Dinas Ketahanan Pangan dan Perikananan Kabupaten Tasikmalaya Tata Rusmana saat dihubungi Pikiran Rakyat, Sabtu (29/6/2019) siang. 

Gelombang tinggi, dituturkan dia, mulai terasa sejak Kamis, 27 Juni 2019. Tata memperkirakan, kondisi tersebut akan terjadi sampai 4 atau 6 hari ke depan. 

Gelombang tinggi berdampak pada aktivitas nelayan menangkap ikan. Nelayan tak memaksakan diri melaut guna menghindari risiko kecelakaan karena perahu dihantam ombak besar. 

"Dan ikan pun sulit untuk ditangkap," ucap Tata. 

Akibatnya, kegiatan lelang ikan di pangkalan pendaratan ikan pun terganggu sehingga masyarakat sulit mendapatkannya.  "Tidak ada lelang. Pasokan ikan tidak ada," ujar Tata. 

Jika kondisi normal, ikan yang dilelang di PPI Pamayangsari, Kabupaten Tasikmalaya bisa mencapai 200 kilogram perhari. Kini, nelayan hanya menunggu gelombang laut kembali membaik. Aktvitas keseharian mereka, kata Tata, hanya memperbaiki perahu.

Panen setelah Lebaran

Informasi mengenai tingginya gelombang di wilayah selatan Perairan Jawa telah disampaikan BMKG. BMKG menyebut kecepatan angin di kawasan pesisir selatan itu mencapai 4 hingga 25 knot sehingga menyebabkan gelombang tinggi. 

Informasi tersebut pun langsung disampaikan PPI Kabupaten Tasikmalaya kepada nelayan melalui para pengurus kelompok nelayan. Tata menuturkan, para nelayan sempat mengalami masa panen setelah Lebaran. 

"Setelah Lebaran lumayan produksi naik terus," ujarnya. 

Ikan jenis tongkol paling banyak diperoleh para nelayan. Namun, keadaan itu hanya berlangsung dua pekan setelah Lebaran. Saat ini, nelayan mesti mengaso dulu menunggu gelombang laut kembali normal.

Selain persoalan gelombang laut, nelayan pantai selatan di Kabupaten Tasikmalaya juga terkendala minimya PPI di wilayahnya. Para nelayan sangat bergantung kepada PPI Pamayangsari untuk menurunkan muatan ikan tangkapannya. 

Sedangkan pembangunan PPI Nusa Manuk di Desa Cimanuk, Kecamatan Cikalong, malah mangkrak. Sejumlah nelayan pun beralih profesi karena persoalan itu.

"Sebagian jadi penyadap, kana tani (jadi petani)," kata Suharman (50), warga Desa Cimanuk.***

Bagikan: