Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Cerah berawan, 28.7 ° C

Warga Minta Perbaikan Bendungan Peninggalan Belanda

Shofira Hanan
SEJUMLAH warga berada di area bendungan irigasi yang jebol pada awal 2019 lalu, di Kecamatan Cibeber, Kamis 27 Juni 2019. Ribuan warga mulai terdampak kekeringan karena aliran air terhenti pascajebolnya bendungan.*/SHOFIRA HANAN/PR
SEJUMLAH warga berada di area bendungan irigasi yang jebol pada awal 2019 lalu, di Kecamatan Cibeber, Kamis 27 Juni 2019. Ribuan warga mulai terdampak kekeringan karena aliran air terhenti pascajebolnya bendungan.*/SHOFIRA HANAN/PR

CIANJUR, (PR).- Jebolnya bendunganan irigasi di Kecamatan Cibeber yang terjadi sekitar empat bulan lalu mulai dirasakan dampaknya. Irigasi yang diketahui mengairi 1007 hektare sawah dan juga sumur warga itu, tak kunjung diperbaiki sehingga warga pun bergotong-royong untuk membuat sodetan pengairan baru.

Berdasarkan informasi, bendunganan irigasi itu mengalir ke sembilan desa, yaitu, Cimanggu, Cibaregbeg, Sukamaju, Cihaur, Sukaraharja, Cikondang, Cisalak, Peuteuycondong, dan Sukamanah. Salah satu warga setempat, Ujang (40) mengatakan, pada akhirnya warga menggunakan air dari sungai karena sumber air yang juga mulai mengering di sumur mereka masing-masing.

”Kalau musim kemarau wilayah Cibeber memang menjadi salah satu daerah yang terdampak. Biasanya, terjadi krisis air bersih karena sumur warga mengering sementara tidak ada sumber air lainnya,” kata dia, Kamis 27 Juni 2019.

Oleh karena itu, warga sangat mengharapkan bendungan peninggalan Belanda itu dapat segera diperbaiki. Apalagi, bendunganan yang jebol secara bertahap beberapa bulan lalu itu sudah dilaporkan kepada pemerintah pusat dan provinsi.

Sekitar 3.000 warga dari sembilan desa itu pun enggan menunggu proses perbaikan yang kabarnya baru diefektifkan pada 2021 mendatang. Soalnya, jika berbicara dampak, warga sudah merasakannya sejak saat ini sehingga perbaikan yang ditunda dinilai dapat memberikan efek berkepanjangan.

Diketahui, warga dari sembilan desa pun akhirnya mengambil keputusan untuk membuat sodetan. Warga menumpuk batu sungai dan membentuk saluran air baru yang dialirkan ke jalur irigasi, dengan begitu pengairan pun diharapkan dapat berjalan kembali.

Dana desa

Sementara itu, Camat Cibeber Ali Akbar mengatakan, lebih dari 3.000 orang menggantungkan hidupnya ke irigasi tersebut. Tidak heran, jika kerusakan bendunganan sangat terasa di musim kemarau.

”Pada akhirnya tidak cuma sawah, tapi kan sumur juga kering. Makanya, bersama muspika, kami mengoptimalkan dana desa dengan melakukan upaya ini sebagai antisipasi bencana,” ucapnya.

Petani dan warga sekitar harus tetap bertahan hidup meskipun kondisi bendunganan seperti itu. Maka dari itu, kegiatan gotong-royong untuk membuat pengairan baru itu dinilai perlu.

Ali menjelaskan, bendungan irigasi tersebut dibangun pada 1940 dan merupakan peninggalan zaman Belanda. Ketika jebol pada Januari lalu, diketahui terjadi penggerusan kemudian bendunganan ambruk ke bawah dan akhirnya terjadi banjir besar.

Menurut dia, pemerintah setempat sudah melaporkan kejadian tersebut kepada gubernur hingga presiden. Ali mendapatkan informasi, jika sedang dilakukan lelang untuk perbaikan bendunganan tersebut.

”Kemungkinan pembangunan fisik dilakukan pada 2020. Tapi, kemungkinan baru efektif pada 2021 mendatang. Pembangunan diperkirakan akan memakan biaya Rp 15 miliar,” kata Ali.

Selain itu, di wilayah Cibeber diketahui terdapat desa lain yang menjadi langganan kekeringan. Diantaranya, Desa Girimulya, Desa Salamnunggal, Desa Karangnunggal, dan Desa Kanoman.***

Bagikan: