Pikiran Rakyat
USD Jual 14.024,00 Beli 14.122,00 | Umumnya berawan, 20.1 ° C

Sawah Kekeringan, Kerugian Capai Miliaran Rupiah

Tommi Andryandy
WARGA terpaksa mengambil air dari sungai yang mulai mengering di Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi. Sejak sepekan terakhir, tiga desa di Cibarusah mengalami kekeringan.*/TOMMI ANDRYANDY/PR
WARGA terpaksa mengambil air dari sungai yang mulai mengering di Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi. Sejak sepekan terakhir, tiga desa di Cibarusah mengalami kekeringan.*/TOMMI ANDRYANDY/PR

CIKARANG, (PR).- Petani di Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, mengaku rugi lantaran kekeringan yang mulai melanda lahan mereka. Setidaknya, 1.155 hektare sawah mengering hingga tidak bisa ditanami. Bahkan, kerugian ditaksir mencapai Rp 3,75 miliar.

“Karena hitung saja, dari jumlah lahan itu, 500 hektar sudah ditanami tapi gagal panen. Tiap hektare itu ongkosnya Rp 7,5 juta, ya habis banyak, Rp 3,75 miliar,” ucap Sekretaris Kelompok Tani dan Nelayan Andalan Kecamatan Cibarusah, Kusnaedi, Kamis, 27 Juni 2019. 

Diungkapkan Kusnaedi, lahan kekeringan itu terdapat di tiga desa yakni Ridhomanah, Ridhogalih dan Sirnajati di Kecamatan Cibarusah. Jumlah lahan pertanian di tiga desa tersebut mencapai 1.655 hektare. Hanya saja, akibat kekeringan hanya 1.000 hektare yang ditanam.

“Kalau yang sisanya 655 hektare tidak bisa ditanam karena sudah mengering dari bulan-bulan lalu. Jadi petani pilih enggak ditanam. Yang ditanam kan cuma 1.000 hektare, tapi setengahnya, 500 hektar gagal panen. Jadi ada sekitar 1.155 hektar yang sawahnya enggak hidup,” kata dia.

Kondisi ini, kata Kusnaedi, dialami oleh sedikitnya 29 kelompok tani yang terdiri dari 25 petani per kelompok.

Dari hasil penghitungannya, jumlah kerugian akibat kekeringan itu mencapai miliaran rupiah. Nilai itu dikalkulasikan dari biaya operasional petani yang mencapai Rp 7,5 juta per hektare. 

Biaya itu digunakan untuk membeli bibit sekitar Rp 200 ribu, pupuk Rp 1 juta hingga sewa traktor Rp 2 juta. “Terus sisanya buat ongkos makan sama jasa kuli,” kata dia.

Diungkapkan Kusnaedi, kekeringan disebabkan karena sawah di Cibarusah mayoritas tadah hujan. Aliran air ke sawah terlalu mengandalkan hujan, sehingga ketika kemarau sawah mengering. 

“Belum lagi bendungan yang di Jonggol kan katanya lagi dibenerin karena jebol. Jadi aliran ke Kali Cipamingkis juga kering,” ucap dia.

Kusnaedi berharap agar Pemerintah Kabupaten Bekasi turun tangan dalam masalah ini. Terutama memberi bibit baru atau subsidi secara penuh untuk para petani kembali menanam pada musim penghujan bulan November mendatang.***

Bagikan: