Pikiran Rakyat
USD Jual 14.260,00 Beli 14.162,00 | Sebagian cerah, 28 ° C

Anggota DPRD Tasikmalaya Tak Jadi Tersangka Penyelewengan Bantuan Keuangan, Warga Heran

Bambang Arifianto
BEKAS ambrolnya tembok penahan tebing terlihat di lapangan Desa Sukahening, Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu 26 Juni 2019. Kejari Kabupaten Tasikmalaya hanya menetapkan dua tersangka tanpa menyeret anggota DPRD yang ditengarai tersangkut korupsi bantuan sarana dan prasarana Desa Sukahening 2017.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
BEKAS ambrolnya tembok penahan tebing terlihat di lapangan Desa Sukahening, Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu 26 Juni 2019. Kejari Kabupaten Tasikmalaya hanya menetapkan dua tersangka tanpa menyeret anggota DPRD yang ditengarai tersangkut korupsi bantuan sarana dan prasarana Desa Sukahening 2017.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

SINGAPARNA, (PR).- Kejaksaan Negeri Kabupaten Tasikmalaya telah menetapkan dua tersangka kasus dugaan penyelewengan dana bantuan keuangan untuk peningkatan sarana dan prasarana Desa Sukahening, Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya.

Akan tetapi, kasus tersebut tak menyeret seorang anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya yang diduga menerima potongan bantuan tersebut dari para tersangka.

Penetapan tersangka diumumkan Kejari Kabupaten Tasikmalaya pada Selasa 25 Juni 2019. Dua tersangka itu adalah UD dan FG.

UD adalah Kepala Desa Sukahening periode 2013-2019 sedangkan FG adalah anggota pelaksana teknis di tim pegelola kegiatan atau TPK Desa Sukahening.

FG telah ditetapkan sebagai tersangka sejak sepekan lalu tetapi belum ditahan. Sementara UD baru menyandang status tersangka dan langsung ditahan.

Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Tasikmalaya Sri Tatmala Wahanani menyatakan, bantuan keuangan yang diduga dikorupsi tersebut bersumber dari APBD Kabupaten Tasikmalaya senilai Rp 2,1 miliar pada 2017‎. Laku lancung itu menimbulkan kerugian negara sebesar Rp 878.747.654.

Modus FG, tutur Sri, adalah melaksanakan pekerjaan berupa pembangunan tembok penahan tebing tetapi mutunya tak sesuai sehinga merugikan negara senilai lebih dari  Rp 472 juta.

Sementara UD bermasalah karena pajak yang mesti dibayarkannya kepada kas negara kurang Rp 116 juta.

Jadi tersangka?

Seorang anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya diduga menerima setoran dari potongan 30 persen bantuan keuangan senila Rp 2,1 miliar itu. Potongan diserahkan UD kepada FG guna diberikan kepada sang anggota dewan.

Alih-alih menetapkan tersangka dan menahannya, Kejari Kabupaten Tasikmalaya justru menyebut wakil rakyat tersebut masih berstatus saksi.

Korupsi.*/DOK. PR

Saat memberikan keterangan penetapan tersangka, ‎Sri Tatmala Wahanani menyatakan, Kejari telah memeriksa anggota DPRD tersebut dengan kapasitas sebagai saksi. Sri tak memastikan Korps Adhiyaksa bakal menetapkannya segera sebagai tersangka.

‎"Nanti kita lihat, ya. Tentu kalau ada bukti baru dalam proses penyidikan itu yang nanti kita lihat, apakah kemungkinkan untuk jadi tersangka atau tidak," ujarnya.

Kejari Kabupaten Tasikmalaya juga tak mengungkap identitas sang anggota DPRD tersebut. Hal itu menimbulkan sorotan dari warga Sukahening.

Jadi lapangan sepak bola

Di area proyek tembok penahan tebing yang berada di Lapang Jati, Kampung Kujangsari, Desa Sukahening, Rabu 26 Juni 2019, Ua (40), warga setempat heran lantaran kejaksaan tak menjerat anggota DPRD yang diduga bermain dalam penggunaan dana aspirasi itu.

"Hanya kepala desa yang kena," ucap Ua.

Ia meminta kejaksaan mengusut tuntas para pelaku yang terlibat. Menurut dia, kepala desa bisa jadi bukan pelaku utama atau yang mengetahui penyewengan itu. Kades, kata dia, berkemungkinan terseret karena ikut menandatangani dokumen-dokumen dalam proyek tersebut.

Kini, kondisi lapangan itu tampak tak terurus. Kendati digunakan warga untuk bermain sepak bola, permukaan lapangan tersebut minim ditumbuhi rerumputan.

Dulu, tutur Ua, Lapang Jati ukurannya sangat luas. Namun sejak proyek bermasalah itu berlangsung, ukurannya mengecil. Lapangan untuk bermain sepak bola dipindahkan ke bagian bawahnya.

Tembok penahanan tebing di area tersebut ambrol dan terdapat sisa-sisa tembok yang ambrol tersebut.

Emot (70), warga lain menyebut ambrolnya tembok terjadi saat musim hujan tahun lalu. Ia juga tak mengenal para pekerja proyek itu. "Tidak tahu dari mana dari mananya," ujar dia.***

Bagikan: