Pikiran Rakyat
USD Jual 14.106,00 Beli 13.806,00 | Umumnya berawan, 20 ° C

Penambangan Musnahkan Bukit-bukit, Krisis Air di Tasikmalaya Kian Parah

Bambang Arifianto
PENAMBANGAN pasir dan tanah gerogoti bukit di kawasan Kelurahan Cibunigeulis, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, Minggu 23 Juni 2019. Hancurnya perbukitan oleh penambangan berdampak pada krisis air di Tasikmalaya.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
PENAMBANGAN pasir dan tanah gerogoti bukit di kawasan Kelurahan Cibunigeulis, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, Minggu 23 Juni 2019. Hancurnya perbukitan oleh penambangan berdampak pada krisis air di Tasikmalaya.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

TASIKMALAYA, (PR).- Setelah banjir pada musim hujan, hancurnya perbukitan akibat menjamurnya aktivitas penambangan pasir dan tanah juga menimbulkan krisis air di ‎sejumlah wilayah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya saat kemarau. Warga mulai kesulitan memperoleh air bersih lantaran sumur dan mata air mulai mengering.

Penyusutan air terjadi di beberapa tempat seperti Kecamatan Mangkubumi dan Bungursari di Kota Tasikmalaya, serta Sukaratu  di Kabupaten Tasikmalaya.

Lokasi-lokasi tersebut merupakan pusat aktivitas penambang pasir yang menggerogoti kawasan perbukitan. Tak hanya rusak, beberapa bukit bahkan telah rata karena kegiatan tersebut.

Ai (46), warga Kampung Cimanggu, Kelurahan Cipawitra, Kecamatan Mangkubumi mengakui kekeringan mulai terasa di tempatnya. Setelah Lebaran, sumur di kediamannya mulai menyusut. Ia mesti berhemat dalam kondisi air yang mulai terbatas."Air masih ada, tapi sedikit," kata Ai saat ditemui di rumahnya, Minggu 23 Juni 2019.

Selain menyusut, air sumur Ai juga keruh. Untuk konsumsi keluarga, ia memilih membeli air kemasan. Ai mulai khawatir dengan kekeringan yang melanda tempat tinggalnya pada musim kemarau.

PENAMBANGAN pasir dan tanah gerogoti bukit di kawasan Jalan Mangkubumi-Indihiang, Kota Tasikmalaya, Minggu 23 Juni 2019. Hancurnya perbukitan oleh penambangan berdampak pada krisis air di Tasikmalaya.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Sejumlah warga lain, tuturnya, bahkan mulai mengambil air di sumur yang berlokasi di luar kampung mereka. Ia menduga, kekeringan terjadi lantaran bukit-bukit di sekitar Cimanggu ditambang. "Bukit-bukit ditambang alat berat, dulu masih subur," ucap Ai.

Aktivitas penambangan menggunakan alat berat mulai menggerogoti bukit-bukit di Cimanggu sejak 2010. Bukit-bukit lenyap dan menyisakan persoalan krisis air. Kini, satu bukit tersisa bernama Gunung Malang juga mulai terkelupas oleh kegiatan penambangan pasir.

Gunung yang lenyap

Kelangkaan air juga dirasakan sejumlah warga di Kampung Cihideung, Desa Gunungsari, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya. Hani (20), warga Cihideung kesulitan mendapat air karena sumurnya mulai mengering.

Untuk menyiasatinya, Hani hanya menggunakan air yang tersisa di sumurnya guna keperluan mandi dan masak. "Airnya juga berwarna agak kuning," ucap Hani.

Untuk mencuci, ia memilih memakai jamban umum. Kondisi serupa terjadi di Kampung Gunung Mareme, Kelurahan Cibunigeulis, Kota Tasikmalaya.

Beberapa warganya kesulitan beroleh air. Letak Cihideung dan Gunung Mareme memang tak terlalu jauh dan menjadi wilayah perbatasan Kabupaten dan Kota Tasikmalaya.

Kedua lokasi tersebut terkepung bukit-bukit dengan kondisi bopeng akibat penambangan. Bahkan Gunung Mareme, bukit yang namanya dilekatkan menjadi nama kampung telah lenyap ditambang.

Aktivitas penambangan kini menggerus bukit lain dekat Gunung Mareme bernama Gunung Goong. Bukit itu telah terbelah dengan sejumlah alat berat dan truk mengeruk dan mengangkuti pasir-pasirnya.

Bencana yang tak terputus

Penghancuran bukit-bukit tersebut dipastikan berdampak pada krisis air di Tasikmalaya. T Bachtiar, Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung menyatakan, keberadaan bukit-bukit di Tasikmalaya berfungsi sebagai kawasan serapan air hujan.

"Sekecil apapun bukit, bila bukit tersebut ditumbuhi kayu-kayuan yang rapat, air hujan akan diresapkan," ujar T Bachtiar.

Resapan itu akan menjadi mata air-mata air yang muncul di perbukitan. Hancurnya bukit berarti hilang pula mata air-mata air tersebut.

Hal senada dikemukakan Ketua Badan Pengurus  Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Jawa Barat Dedi Kurniawan.

"Tanah, perbukitan, dan hutan fungsinya sebagai daya tampung air. Kalau di tanah menyerap, di perbukitan juga sama. Karena daya tampungnya tidak ada, air juga tidak ada," tutur Dedi.

Siklus hujan, katanya, relatif tetap. Masalahnya, air hujan tak menyerap karena bukit-bukitnya menghilang sehingga ketersedian air ikut lenyap. Dampak lain adalah banjir yang menerjang pemukiman warga.

Tak pelak, Tasikmalaya menghadapi potensi bencana beruntun yakni banjir pada musim hujan dan kekeringan saat kemarau karena kehancuran bukit-bukitnya.

Dedi menegaskan, pemerintah sudah saatnya melakukan kajian ulang izin serta melaksanakan moratorium tambang di Tasikmalaya. Keuntungan dari aktivitas penambangan dengan kerusakan alam dan dampak negatif terhadap masyarakat tak sebanding. Masyarakat lebih dirugikan akibat kegiatan pengerukan pasir tersebut. 

"Anggaran penanganan bencana dan lain-lain tidak sebanding dengan PAD dari tambang, apalagi kalau tambang liar, tidak masuk PAD," ucapnya.

Penambangan pasir di Tasikmalaya banyak yang masuk kategori liar karena izinnya bermasalah.***

Bagikan: