Pikiran Rakyat
USD Jual 13.961,00 Beli 14.059,00 | Cerah berkabut, 28.4 ° C

Ridwan Kamil Apresiasi Kualitas Layanan Haji Jawa Barat

Advertorial
RIDWAN Kamil saat menghadiri pengukuhan Pengurus Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) sekaligus melakukan 'Meal Test' Penerbangan Haji Embarkasi/Debarkasi Jakarta-Bekasi di Aula Asrama Haji Bekasi, Kota Bekasi, Kamis 20 Juni 2019.*/DOK HUMAS PEMPROV JABAR
RIDWAN Kamil saat menghadiri pengukuhan Pengurus Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) sekaligus melakukan 'Meal Test' Penerbangan Haji Embarkasi/Debarkasi Jakarta-Bekasi di Aula Asrama Haji Bekasi, Kota Bekasi, Kamis 20 Juni 2019.*/DOK HUMAS PEMPROV JABAR

BEKASI,(PR).- Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menghadiri pengukuhan Pengurus Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) sekaligus melakukan 'Meal Test' Penerbangan Haji Embarkasi/Debarkasi Jakarta-Bekasi di Aula Asrama Haji Bekasi, Kota Bekasi, Kamis 20 Juni 2019.

Menurut Emil, jumlah jemaah haji asal Jawa Barat terbanyak se-Indonesia, yakni sekisar 39 ribu jemaah atau 19 persen dari jumlah jemaah haji nasional. Maka, dia meminta penyelenggara memberikan pelayanan terbaik, supaya jemaah bisa melaksanakan ibadah haji dengan khusyuk dan kembali ke Tanah Air dengan selamat.

"Semua bersemangat memfasilitasi sebuah kegiatan keagamaan yang menjadi wajah kita semua. Kita mengurusi agar para jemaah bisa mabrur dan mabruroh," ucapnya.

Emil pun berharap daftar antre atau waktu tunggu bagi masyarakat yang ingin beribadah haji bisa dikurangi. Saat ini, di Indonesia waktu tunggu jemaah untuk bisa berangkat ke tanah suci mencapai 40 tahun.

Sedangkan, waktu tunggu jemaah haji di Jawa Barat sekisar 12 sampai 20 tahun. Emil mengajak semua pihak, termasuk Pemerintah Daerah Provinsi (Pemdaprov) Jawa Barat, mengupayakan agar waktu tunggu jemaah bisa terus ditekan.

"Sudah punya kemampuan, tapi karena sebuah aturan administrasi mereka harus menunggu 40 tahun, padahal umurnya belum tentu cukup," katanya.

Terlebih Presiden Republik Indonesia Joko Widodo telah menjalin komunikasi dengan Pemerintah Arab Saudi terkait penambahan kuota haji. Kemudian, diharapkan akan ada upaya maupun kebijakan-kebijakan soal penambahan kuota haji Indonesia.

"Kita ketauhi Indonesia negara Muslim paling besar di dunia. Populasi besar, dikombinasikan dengan ekonomi yang baik, bisa dilihat dari banyaknya masyarakat yang ingin melaksanakan ibadah haji dan umrah," ucap Emil.

Selain itu, Emil juga menjelaskan mengapa pemberangkatan haji belum bisa dilakukan melalui Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati Majalengka. Menurutnya, hal itu terjadi karena sejumlah persoalan administrasi. Padahal, untuk infrastruktur bandara sendiri sudah sangat siap.

"Mudah-mudahan tahun depan BIJB Kertajati bisa jadi Embarkasi/Debarkasi haji untuk Jawa Barat," katanya.


 

Soal ‘Meal Test’, Emil menyatakan bahwa makanan yang disediakan untuk jemaah haji sudah sangat layak. Apalagi, di Tanah Suci akan juga disediakan makan khas kedaerahan atau sesuai asal Embarkasi.

Selain itu, panitia haji juga akan memperbanyak makanan berbahan ikan untuk jemaah yang mayoritas berusia di atas 50 tahun. Emil tidak lupa memberikan apresiasi kepada penyelenggara haji, terlebih dengan adanya layanan antar koper dari bandara ke hotel jemaah menginap.

"Kami juga titip, bulan Agustus secara klimatologi sangat panas, suhu tinggi, dehidrasi, saya titip ekstra minum diberikan pilihan tambahan agar lebih banyak konsumsi minum jemaah," katanya.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat A Buchori menyebut, masalah selalu datang silih berganti. Namun, permasalahan yang datang setiap tahunnya berbeda-beda. Hal itu, kata dia, menunjukkan betapa dinamisnya aktivitas haji di Indonesia maupun Jawa Barat.

Oleh karena itu, inovasi menjadi suatu kenicayaan, supaya pelayanan haji setiap tahunnya terus membaik. Buchori mengatakan bahwa jumlah petugas PPIH Jawa Barat pada 2019 sekisar 355 orang dengan rincian 22 unsur pimpinan dan 332 PPIH pembantu.

Menurut Buchori, unsur yang terlibat pada PPIH Embarkasi Jakarta-Bekasi, yakni Kementrian Agama, Kementerian Kesehatan, Kementerian Perhubungan, Kementerian Hukum dan HAM, Pemprov Jawa Barat, Kepolisian Metro Kota Bekasi, dan unsur Pemerintah Kota Bekasi.

"Masa operasional pemberangkatan jemaah haji, tinggal 20 hari lagi. Yaitu tepatnya tanggal 6 Juli 2019, kloter pertama mulai masuk asrama dan diberangkatkan mulai 7 Juli 2019," katanya.

Buchori mengatakan, jumlah jemaah haji Jawa Barat kali ini mencapai 38.913 jemaah. Selain itu, ada sekisar 285 TPHD, 485 petugas kloter, dan terbagi dalam 97 kelompok terbang (kloter). Sehingga, total keseluruhan yang diberangkatkan dari Jawa Barat sekisar 39.683 orang.

"Sebelum keberangkatan menuju Arab Saudi, seluruh jemaah haji akan dikarantina selama lebih kurang 12-14 jam di asrama haji. Guna memastikan kesiapan jemaah haji, dan hal-hal yang diperlukan oleh jemaah haji," katanya.

Pada keberangkatan haji 2019, Kanwil Kemenag Jawa Barat melaksanakan pelatihan terintegerasi untuk seluruh petugas haji. Hal itu dilakukan guna meningkatkan sinergi antara petugas kloter dan ketua rombongan.


 

Buchori menambahkan, Provinsi Jawa Barat sudah memiliki pembimbing ibadah haji tersertifikat sebanyak 1.097 orang. Sehingga, pihaknya tidak sulit untuk mencari pembimbing jemaah haji.

Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri, Direktorat Jendral Ibadah Haji dan Umroh, Kementerian Agama Republik Indonesia, Sri Ilham Lubis, mengatakan bahwa penyelenggaraan haji terbagi pada dua fase.

Fase pertama adalah keberangkatan yang direncanakan dimulai dari tanggal 6 -19 Juli 2019, untuk gelombang pertama, dengan tujuan bandar udara Amir Muhammad bin Abdul Azis Madinah. Untuk gelombang dua yakni tanggal 20 Juli-5 Agustus 2019 dengan tujuan bandar udara King Abdul Azis Jeddah.

Kemudian, fase kedua adalah pemulangan, untuk gelombang pertama akan dimulai pada tanggal 17-31 Agustus 2019, dan jemaah haji akan dipulangkan melalui bandar udara King Abdul Azis Jeddah. Untuk gelombang dua yakni mulai tanggal 30 Agustus -15 September 2019 dari bandar udara Amir Muhammad bin Abdul Azis Madinah.

"Dan rencananya wukuf 9 Dzulhijjah 1440 H/ 2019, diperkirakan akan jatuh pada hari Sabtu tanggal 10 Agustus 2019," ucapnya.

Jemaah haji pada 2019 diterbangkan melalui 13 Embarkasi haji. Secara nasional, total jumlah jemaah haji reguler plus petugas adalah 216.645 orang, yang terbagi pada 529 kloter. "Setelah dilakukan proses negosiasi dan seleksi. Kemenag RI menetapkan dua maskapai penerbangan, yaitu Garuda Airlines dan Saudia Airlines," kata Sri.

Garuda Airlines akan memberangkatkan jemaah haji dari Embarkasi Aceh, Medan, Padang, sebagian Jakarta Pondok Gede, Solo, Banjarmasin, Balikpapan, Makasar, dan Lombok. Sementara Saudia Airlines akan menerbangkan jemaah yang berasal dari Embarkasi Batam, Palembang, sebagian Jakarta Pondok Gede, Jakarta-Bekasi, dan Surabaya.

Untuk fasilitas selama penerbangan, jemaah haji akan mendapatkan bagasi yang dapat diisi maksimal 32 kilogram, tas maksimal 7 kg, serta tas passport. Jemaah juga akan mendapatkan air zam zam sebanyak 5 liter/galon.

"Selama kepulangan, jemaah haji akan mendapatkan dua kali makan dan satu kali makanan ringan, serta minuman sesuai dengan standar penerbangan internasional," kata Sri.

Selain itu, Sri menyebut pihaknya memberikan extra cover sebagai asuransi bagi jemaah yang wafat dalam pelaksanaan ibadah haji. Ekstra cover senilai Rp. 120 juta. Pun pihaknya juga siap memfasilitasi jemaah haji yang sakit.

Kementerian Agama, Ditjen PHU khususnya, setiap tahun melakukan peningkatan pelayanan ibadah haji. Tahun lalu, pihaknya mendapat indeks layanan haji di Arab Saudi sebesar 85,23. Hal itu bisa diraih berkat kerja keras berbagai pihak terkait.

"Indeks kepuasan jemaah haji untuk tahun 2019 semoga meningkat seusai kontrak kinerja yang telah ditandatangani antara Ditjen PHU dan Menteri Agama yakni 85,3," kata Sri.

"Jemaah tidak perlu menunggu bagasi di gate, tapi bisa langsung ke hotel. Maka perlu diperhatikan standarisasi penandaan koper," lanjutnya.

Selain itu, ada kebijakan baru bahwa seluruh jemaah haji akan mendapatkan layanan angkutan selawat selama 24 jam. Kementerian Agama juga berupaya memberikan kenyamanan dengan menyediakan pendingin di tenda saat berada Arafah.

"Untuk katering akan disediakan menu lokal, kita akan masukan menu satu minggu 2-3 kali menu kedaerahan," tutupnya.***

Bagikan: