Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Cerah berawan, 21 ° C

RSUD Gunungjati Berhasil Pisahkan Bayi Kembar Siam

Ani Nunung Aryani
DIREKTUR RSUD Gunungjati Cirebon Bunadi (tengah) didampingi tim dokter dari Pusat Pelayanan Kembar Siam Terpadu RSUD Dr Soetomo Surabaya, yang membantu melakukan operasi pemisahan kembar siam, memberikan keterangan kepada wartawan seusai operasi, Kamis 20 Juni 2019. Meski salah satu pasangan bayi kembar siam tidak selamat karena infeksi paru yang parah, RSUD Gunungjati Cirebon untuk pertama kalinya berhasil melakukan operasi pemisahan bayi kembar siam.*/ANI NUNUNG ARYANI/PR
DIREKTUR RSUD Gunungjati Cirebon Bunadi (tengah) didampingi tim dokter dari Pusat Pelayanan Kembar Siam Terpadu RSUD Dr Soetomo Surabaya, yang membantu melakukan operasi pemisahan kembar siam, memberikan keterangan kepada wartawan seusai operasi, Kamis 20 Juni 2019. Meski salah satu pasangan bayi kembar siam tidak selamat karena infeksi paru yang parah, RSUD Gunungjati Cirebon untuk pertama kalinya berhasil melakukan operasi pemisahan bayi kembar siam.*/ANI NUNUNG ARYANI/PR

RSUD Gunungjati Cirebon untuk pertama kalinya berhasil melakukan operasi pemisahan bayi kembar siam, Kamis 20 Juni 2019. Dlam melakukan pemisahan tersebut para dokter RSUD Gunungjati dibantu tim dokter dari Pusat Pelayanan Kembar Siam Terpadu RSUD Dr Soetomo Surabaya.

Rahmah Rizqiyyanah Azahra dan Rahimah Rizqiyyanah Azahraari yang dempet di bagian perut, memanjang dari atas ke bawah, berhasil dipisahkan.  

Lima dokter dari RSUD Dr Soetomo Surabaya diketuai dokter spesialis anak Agus Harianto, yang khusus datang ke Cirebon untuk membantu operasi pemisahan, tiba di Cirebon Kamis sekitar pukul 2.00 dini hari.

Pukul 10.30 mereka langsung bekerja, karena melihat kondisi bayi Rahimah yang menderita infeksi paru-paru berat. Operasi berlangsung selama hampir empat jam.

Direktur Utama RSUD Gunungjati Cirebon Bunadi menjelaskan operasi pemisahan pasangan bayi kembar siam asal Desa Megu Gede Kecamatan Weru Kabupaten Cirebon yang baru berusia 8 bulan, bersifat emergency atau darurat.

Kondisi darurat karena satu dari pasangan bayi kembar siam menderita penyakit gawat yang mengancam jiwa.

"Kalau tidak segera dipisahkan, dua-duanya tidak bisa tertolong," ungkap Bunadi dalam jumpa pers seusai pelaksanaan operasi, Kamis sore.

Sayangnya, akibat penyakit infeksi paru-paru yang parah, salah satu pasangan bayi kembar siam, Rahimah tidak bisa diselamatkan.

Sementara Rahmah dalam kondisi stabil meski dalam pemantauan intensif, akibat tercemar racun dari Rahimah.

"Meski salah satu pasangan bayi tidak selamat, namun kami nyatakan operasi ini berhasil. Karena kalau terlambat satu jam saja pelaksanaan operasi, dua-duanya bisa tidak selamat," katanya.

Menurut Poerwadi, salah satu tim dokter dari RSUD Soetomo, saat ini bayi yang selamat dalam kondisi stabil.

Tercemar racun kembarannya

Namun akibat tercemar racun dari bayi Rahimah, ada pembengkakan sejumlah organ yang masih harus terus dipantau secara intensif. "Secara struktural organ-organya oke, tetapi secara fungsional karena ada pembengkakan akibat substrat racun dari bayi yang tidak sehat, sehingga masih memerlukan perbaikan dan pemulihan," katanya.

Menurutnya, begitu rongga perut dibuka, diketahui organ dari pasien yang tidak selamat sudah membiru semua.

Tim dokter segera melakukan operasi pemisahan hati yang menyatu sepanjang 8 cm dan sedalam 5 cm. Untuk memisahkan hati yang menyatu, tim dokter memerlukan waktu hampir 30 menit.

"Ketika rongga dada dibuka, jantung juga sudah sangat lemah sehingga langsung dilakukan pijat jantung. Berbagai upaya dilakukan, tetapi tidak bisa menolong," jelasnya.

Agus Hariyanto menambahkan, operasi pemisahan bayi kembar siam yang ditangani di Cirebon, merupakan kasus ke-99 yamg ditangani RSUD Soetomo. "Untuk di Jawa Barat, ini kasus keempat, yang tiga kasus sebelumnya di RSHS Bandung," katanya.

Menurutnya, prevalensi kelahiran bayi kembar siam sangat langka, yakni satu dibandingkan 5 juta, kelahiran dan 75 persen adalah perempuan.

Selama ini tim dari RSUD Dr Soetomo sudah keliling Indonesia untuk melakukan pemisahan bayi kembar siam, yang hampir semua dari golongan keluarga tidak mampu.

Pusat Pelayanan Kembar Siam Terpadu RSUD Dr Soetomo Surabaya bahkan sudah memiliki standar operasi atau protokol operasi yang diakui dunia. "Singapura bahkan tidak punya, karena memang tidak pernah ada kasusnya," katanya.

Sebagai informasi, pasangan bayi kembar siam ini dilahirkan di RSUD Arjawinangun Kabupaten Cirebon delapan bulan lalu. Sempat dirujuk ke RSHS Bandung untuk operasi pemisahan, namun karena usia dan berat badan belum memenuhi akhirnya kembali dirawat di RSUD Arjawinangun.

Sampai akhirnya beberapa hari lalu dirawat di RSUD Gunungjati akibat infeksi paru-paru yang sudah parah.***

Bagikan: