Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sebagian cerah, 30 ° C

699 Hektare Padi Kekeringan, Petani Siap-siap Menghitung Kerugian

Nuryaman
SEJUMLAH lahan persawahan di Kuningan terancam kekeringan.*/NURYAMAN/PR
SEJUMLAH lahan persawahan di Kuningan terancam kekeringan.*/NURYAMAN/PR

KUNINGAN, (PR).- Ratusan hektare tanaman padi di Kabupaten Kuningan saat ini terancam mati puso dilanda kekeringan akibat kemarau. Sejumlah petani pun siap-siap menghitung kerugian.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kuningan Dodi Nurohmatudin didampiingi Sahibul, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Jumar, Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan menyebutkan luas tanaman padi kekeringan pada musim kemarau ini terdata hingga pekan kemarin sudah mencapai lebih kurang 699 hektare.

Mereka menjelaskan, tanaman padi kekeringan seluas itu semuanya masih dalam kategori kekeringan ringan berada pada areal sawah tadah hujan beragam usia tanam tersebar di 11 kecamatan. Terdiri atas di Kecamatan Darma 3 Ha, Ciniru (1 Ha), Hantara (18), Selajambe (5), Ciwaru (3), Karangkancana (5), Kalimanggis (59), Ciawigebang (568), Japara (12), Pancalang (20), dan di Kecamatan Cigandamekar (5 Ha).

Dodi Nurohmatudin dan Sahibul mengaku untuk mendukung gerakan Luas Tambah Tanam (LTT) Dinas Pertanian Kabupaten Kuningan selama ini terus mendorong petani agar selama di sawahnya masih ada air  terus menanami sawahnya dengan tanaman padi. Dan, itu pun banyak diikuti petani termasuk petani padi sawah tadah hujan. Namun, tanpa bisa diprediksi pasti ternyata cuaca pergantian musim hujan ke musim kemarau sekarang berbeda dengan tahun lalu. 
  
Meskipun berdasarkan prakiraan cuaca musim hujan tahun ini diperkirakan akan berakhir di bulan Mei, tetapi pada bulan tersebut sawah-sawah tadah hujan yang baru panen padi pun, banyak yang langsung diolah dan kembali ditanami padi. Dan, itu pun banyak dilakukan petani sejalan dengan dorongan gerakan LTT dari Dina Pertanian Kabupaten Kuningan.

“Kalau pas masih ada air dan masih ada hujan petani sawah tadah hujan kami anjurkan jangan menanami sawahnya dengan adi karena akan datang musim kemarau, kami salah juga. Bagaimana jika ternyata hujan masih berlanjut. Kami sarankan ditanami juga siapa yang bisa memprediksi pasti hujan masih akan berlanjut,” kata Sahibul.

Ditanya upaya apa saja yang dilakukan Dinas Pertanian Kabupaten Kuningan untuk menyelamatkan tanaman padi yang sudah mengalami kekeringan ringan dan yang masih dalam kategori terancam kekringan di daerahnya, Dodi Nurohmatudin, menyatakan Dinas Pertanian Kuningan kini sedang melakukan sejumlah upaya. Namun, tuturnya kalau tidak ada lagi hujan, tanaman padi terancam dan yang sudah mengalami kekeringam pada areal sawah tadah hujan akan sulit untuk bisa terselamatkan.

“Namun kalau memungkinkan di sekitaranya ada sumber air memadai bisa dibantu dengan mesin pompa air. Kalau mesin pompa airnya tidak ada tetapi di sekitarnya ada sumber air memadai dan memungkinkan dialirkan dengan mesin pompa air, mesin pompa airnya bisa saja meminjam. Atau mungkin juga menggunakan pompa air yang sedang tidak terpakai di UPTD-UPTD,” kata Dodi Nurohmatidin, seraya menyarankan  untuk menghindari kerugian akibat terkena kekeringan di musim kemarau para petani padi di Kabupaten Kuningan setiap musim tanam mengasuransikan tanaman padinya melalui program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

Terkait hal itu Dodi menyatakan, dengan asuransi itu jika tanaman padinya puso karena kekeringan akan mendapatkan penggantian berupa uang dari AUTP. “Makanya kami sarankan petani padi untuk ikut  AUTP. Bayarnya cuma Rp 36.000/Ha/musim. Namun kalau tanaman padinya puso karena kekeringan petani bersangkutan akan mendapat penggantian dari AUTP sebesar Rp 6 juta,” ujarnya lalu menambahkan tanaman padi yang diasuransikannya bisa sawah irigasi juga sawah tadah hujan.***
 

Bagikan: