Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Langit umumnya cerah, 17.1 ° C

Sensen Komara Leluasa Sebarkan Ajaran Sesat di Garut karena Tak Dapat Perawatan Kejiwaan

Tim Pikiran Rakyat
NABI palsu.*/CANVA
NABI palsu.*/CANVA

GARUT, (PR).- Munculnya kasus penistaan agama serta makar yang dilakukan pengikut Sensen Komara di Kecamatan Caringin, Garut mendapatkan tanggapan Ketua Majelis Ulama Indonesia Garut, A Sirodjul Munir. Ia menilai kasus seperti itu akan terus berulang selama Sensen Komara beraktivitas dengan bebas.

Menurut Munir, hingga saat ini Sensen Komara belum pernah direhabilitasi di rumah sakit jiwa. Padahal berdasarkan putusan pengadilan pada persidangan kasus yang sama beberapa tahun lalu, Sensen Komara dinyatakan mengalami gangguan kejiwaan sehingga tak bisa dihukum.

"Majelis hakinm saat itu memerintahkan agar Sensen direhabilitasi di rumah sakit jiwa tapi hal itu tak pernah dilakukan karena Pemkab Garut tak mengeluarkan anggaran," ujar Munir, Rabu 19 Juni 2019.

Karena tak direhabilitasi, tutur Munir, usai putusan Pengadilan Negeri Garut hingga saat ini Sensen Komara leluasa terus menyebarkan ajaran sesatnya. Tak heran kalau setiap tahun selalu muncul kasus penistaan agama sekaligus makar seperti yang dilakukan warga Caringin bernama Hamdani baru-baru ini.

Menurut Munir, pola penistaan agama yang terjadi di Garut selalu sama yakni mendeklarasaikan diri atau membuat surat pernyataan yang menyebutkan mereka meyakini bahwa Sensen Komara merupakan rasul.

Mengubah nama Muhammad

Bahkan saking yakinnya, mereka berani mengubah setiap kata Muhammad termasuk dalam kalimat syahadat dengan kata ‘Sensen Komara’.

Tak hanya itu, Munir juga menerangkan bahwa para pengikut Sensen Komara selalu melaksanakan salat menghadap ke timur. Mereka berulah dengan cara meminta izin kepada para tokoh pimpinan kampung setempat untuk melaksanakan salat sesuai keyakinannya tersebut.

"Kejadiannya selalu berulang dan modusnya selalu sama. Ajaran yang mereka dapatkan memang seperti itu sehingga kejadian ini akan terus berulang selama pemberi ajarannya masih bisa berkeliaran dengan bebas," katanya kepada wartawan Kabar Priangan Aep Hendy.

Munir menilai, untuk mencegah kejadian serupa, Pemkab Garut dan Kejaksaan Negeri Garut harus segera mengeksekusi Sensen Komara sesuai putusan pengadilan.

Munir juga mempertanyakan hasil pemeriksaan kondisi kejiwaan Sensen Komara setelah rehabilitasi yang menurut dia sampai sekarang tak pernah diketahui. Dia menyesalkan sikap Pemkab Garut yang tak mau mengeluarkan anggaran untuk rehabilitasi.

sejak lama MUI Garut sudah mengeluarkan fatwa bahwa ajaran Sensen Komara sesat, menyesatkan, serta di dalamnya terdapat unsur makar.***

Bagikan: