Pikiran Rakyat
USD Jual 14.037,00 Beli 14.135,00 | Badai petir, 25 ° C

Diskon 50% Terbang dari Bandara Kertajati, Mau Sampai Kapan?

Yulistyne Kasumaningrum
Penerbangan/ANTARA
Penerbangan/ANTARA

BANDUNG, (PR).- Pemerintah harus menghitung secara matang efektivitas diskon khusus 50% yang akan diberikan untuk menarik penumpang agar terbang melalui Bandara Kertajati.

Sebelumnya dilaporkan, Direktur PT BIJB Singgih mengatakan, untuk menarik penumpang ke Bandara Kertajati, dia akan memberikan diskon khusus sebesar 50%.

Tidak menutup kemungkinan, penumpang akan kembali beralih terbang melalui bendara lain setelah pemberian diskon tersebut tak lagi dilakukan.

“Harus dihitung betul, mau sampai kapan? Apakah setelah itu akan kembali normal. Ketika kembali normal, apakah jumlah tamu akan tetap, naik, atau kembali berkurang?” kata Wakil Ketua Umum DPP Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Budijanto Ardiansjah di Bandung, Jumat 14 Juni 2019.

Budijanto menyadari rencana pemberian diskon 50% merupakan salah satu strategi pemerintah untuk meramaikan Bandara Kertajati.

null

Hanya, menurut dia, rencana tersebut harus disiapkan dan dipikirkan secara matang, mulai dari dana yang dipersiapkan, asal dana yang digunakan untuk menyubsidi diskon, dan jangka waktu pemberian.

Menurut dia, dalam jangka pendek, langkah tersebut tentunya akan mampu menarik minat penumpang karena ada sebagian masyarakat yang mengharapkan harga tiket murah.

Dengan demikian, bisa jadi kelompok tersebut tidak akan lagi terbang melalui Bandara Kertajati tatkala harga tiket kembali ke tarif normal.

“Pertanyaannya, yang akan meramaikan saat diskon khusus itu apakah yang sekali lewat atau heavy users, yang repeater? Kalau yang sekali lewat, akan sama saja. Jika wisatawan, apakah mereka mau?” ujar Budijanto.

Siapkan infrastruktur

Berdasarkan hal itu, Budijanto meminta pemerintah menghitung dengan cermat segala sesuatunya. Jangan sampai menimbulkan dampak negatif alih-alih mendulang perkembangan positif.

“Yang pasti, siapkan infrastruktur karena saat ini kendalanya adalah akses menuju ke Bandara Kertajati yang masih belum selesai,” katanya.

Budijanto juga kembali menegaskan agar rute yang dpindahkan bukan rute wisata seperti menuju Bali. Alasannya, hingga saat ini para pelaku wisata masih berupaya terus menarik kunjungan wisatawan ke Bandung. Jika ikut dialihkan, ia khawatir kunjungan ke Bandung dan Jabar secara umum akan anjlok.

“Jika (rute) Denpasar ikut dipindahkan, itu fatal. Rute-rute terkait wisata, seperti Denpasar jangan (dipindahkah) lebih baik tetap di Bandung karena kunjungan wisatawan bisa terpengaruh. Kalau untuk rute yang lain, seperti Kalimantan atau Sumatera boleh dicoba tetapi jangan semua dulu karena kita juga tidak yakin,” katanya.

Bagikan: