Pikiran Rakyat
USD Jual 14.426,00 Beli 14.126,00 | Sedikit awan, 21.9 ° C

Tradisi Syawalan, Melebur Dosa Menyucikan Diri

Ani Nunung Aryani
TAMU-TAMU dan warga pulang sambil membawa berkat yang sudah diberkahi dengan doa-doa dalam prosesi tawasulan di masjid Benda Kerep.  Lebaran yang identik dengan hidangan kupat atau ketupat dan semarak bersalam-salaman dan saling memaafkan yang identik dengan suasana Hari Raya Idul Fitri, justru berlangsung pada 8 Syawal yang jatuh pada hari Rabu 12 Juni 2019.*/ ANI NUNUNG/PR
TAMU-TAMU dan warga pulang sambil membawa berkat yang sudah diberkahi dengan doa-doa dalam prosesi tawasulan di masjid Benda Kerep. Lebaran yang identik dengan hidangan kupat atau ketupat dan semarak bersalam-salaman dan saling memaafkan yang identik dengan suasana Hari Raya Idul Fitri, justru berlangsung pada 8 Syawal yang jatuh pada hari Rabu 12 Juni 2019.*/ ANI NUNUNG/PR

BAGI warga kampung religi Benda Kerep yang bermukim di kawasan perbukitan paling tinggi di Kota Cirebon, semarak Lebaran Idulfitri bukan pada hari H atau bertepatan dengan 1 Syawal.

Kemeriahan Lebaran yang identik dengan hidangan kupat atau ketupat dan semarak bersalam-salaman dan saling memaafkan, justru berlangsung pada 8 Syawal yang jatuh pada hari Rabu 12 Juni 2019.

Tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun sejak tahun 1826 saat Kiai Soleh pertama kali membuka perkampungan, lebih dikenal warga dengan sebutan syawalan atau Lebaran Kupat.

Kampung Benda Kerep yang berlokasi sekitar 8 km dari pusat Kota Cirebon, ada di titik paling tinggi di ujung Selatan Kota Cirebon. Lokasi kampung Benda Kerep berada di daerah perbukitan. Untuk bisa mencapai kampung Benda Kerep, warga harus menyeberang sungai selebar 20 meter.

Deretan balok-balok beton besar di dasar sungai dan tali baja yang dibentangkan menjadi alat bantu warga untuk menyeberang, karena tidak ada jembatan.

Lebaran Kupat bukan hanya dirayakan warga setempat, namun juga warga dari wilayah Cirebon dan sekitarnya. Bahkan dari seluruh Indonesia. Warga yang datang bukan hanya alumni dari sejumlah pesantren tradisional yang ada di kampung Benda Kerep, namun juga membawa serta kerabatnya, muridnya, koleganya dan lainnya.

Kemeriahan Lebaran Kupat di Kampung Benda bahkan mampu menarik puluhan pedagang dadakan untuk menggelar dagangannya di tepi sungai sebelum memasuki kawasan Kampung Benda Kerep.

Ribuan paket berkat yang berisi nasi lengkap dengan lauk, plus ketupat dan kerupuk dalam wadah ember maupun keranjang plastik disediakan sesepuh, kiai, dan warga untuk dibawa pulang tamu yang datang.

Perayaan Lebaran Kupat diawali dengan pembacaan tawasulan oleh tamu dan warga laki-laki di satu-satunya masjid yang ada di kampung benda.

Namun karena daya tampung salah satu dari sedikit masjid kuno yang ada di Kota Cirebon sangat kecil, peserta tawasulan membeludak sampai ke rumah-rumah kiai dan sesepuh sekitar masjid.

Yanto, salah seorang santri dari Pesantren Pabedilan Kabupaten Cirebon mengungkapkan, dia datang bersama rombongan lebih dari 100 orang dari kampungnya, untuk ikut Syawalan di Benda Kerep.

Meski tidak pernah nyantri di Pesantren Benda Kerep, namun guru-guru atau ustaz di pesantrennya banyak yang alumni Pesantren Benda Kerep.

"Makanya sejak masuk pesantren 10 tahun lalu, setiap tahun kami selalu datang bersilaturahmi saat Syawalan Benda Kerep," katanya.

Seperti tamu-tamu lain yang datang, Yanto dan rombongan besarnya juga berharap bisa membawa pulang hidangan, yang sudah diberkahi dengan doa-doa tawasulan ribuan orang.

Hari berbuka puasa syawal

Menurut sesepuh Kampung Benda Kerep yang juga pengasuh Pondok Pesantren Benda Kerep, M Miftah, perayaan Lebaran Kupat bersamaan dengan hari berbuka setelah mereka melaksanakan puasa sunah Syawal, enam hari setelah Lebaran Idul Fitri. Karenanya, tak heran jika perayaan Syawalan justru lebih semarak jika dibandingkan perayaan Idulfitri.

Menurutnya, saat Idulfitri, warga tidak membuat ketupat. Warga baru membuat ketupat saat Syawalan.

"Saat Idulfitri, silaturahmi hanya dilakukan dengan sesama warga Kampung Benda Kerep saja, seusai salat id. Namun perayaan Idulfitri sesungguhnya ya saat Syawalan ini, karena  silaturahmi justru dilakukan dengan warga lain dari berbagai daerah," kata M Miftah yang akrab disapa Kang Miftah di sela-sela kesibukannya menerima tamu-tamu yang datang.

Menurut Kang Miftah, sesuai dengan ajaran Kanjeng Sunan Kalijaga, Lebaran Kupat sarat makna filosofis.

Dalam filosofi Jawa, kupat memiliki makna khusus. Kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari ngaku lepat atau mengakui kesalahan dan laku papat artinya empat tindakan.

"Laku papat yakni lebar, lebur, luber dan labur," kata Kang Miftah.

Lebar atau selesai menjalani puasa Ramadan sebulan penuh, sehingga disebut lebaran, sudahan.

Sedangkan luber atau melebihi atau lebih, mengandung makna wajib menyisihkan harta kita untuk membayar zakat fitrah.

Sementara lebur atau musnah, bermakna saling memaafkan segala kesalahan agar dosa lebur. Sedangkan labur, adalah cat putih yang terbuat dari batu gamping, bermakna membersihkan jiwa raga, kembali ke fitrah. ***

 

 

 

Bagikan: