Pikiran Rakyat
USD Jual 14.285,00 Beli 14.187,00 | Sebagian berawan, 19.6 ° C

Kekeringan Ancam 2.000 Hektare Sawah Gagal Panen

Gelar Gandarasa
PETANI di Kandanghaur mengecek lahan sawah mereka yang mengering, belum lama ini. Kekeringan disebabkan oleh minimnya ketersediaan air bagi petani.*/ GELAR GANDARASA/PR
PETANI di Kandanghaur mengecek lahan sawah mereka yang mengering, belum lama ini. Kekeringan disebabkan oleh minimnya ketersediaan air bagi petani.*/ GELAR GANDARASA/PR

INDRAMAYU, (PR).- Bencana kekeringan mulai melanda wilayah Kecamatan Kandanghaur dan Losarang Indramayu. Akibatnya lahan pertanian terancam mati. Jadwal gilir giring air belum bisa mengatasi kekeringan.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu Waryono mengatakan, penyebab kekeringan cukup kompleks. Sejak bulan Mei kemarin pasokan air ke persawahan di wilayahnya sudah mulai berkurang. Ditambah saat ini hujan sudah tidak pernah lagi mengguyur wilayah Kabupaten Indramayu. “Tanaman mulai layu dan retakan-retakan terjadi di tanah,” ungkap Waryono, Rabu 12 Juni 2019.

Sulitnya pengairan juga diperparah dengan jebolnya tanggul di Wanguk, Kecamatan Anjatan. Saat ini, tanaman padi di wilayahnya terancam mati akibat kurangnya pasokan air. “Di Kandanghaur yang terancam gagal panen ada seluas 2.000 hektare. Tersebar di wilayah Desa Karangmulya, Wirakanan, Karanganyar, dan Wirapanjunan,” ujar Waryono.

Meski kondisi tanaman masih hijau, tanah persawahan sudah mulai mengering. Ketersediaan air di irigasi pun nihil. Padahal untuk sekarang ini tumbuhan padi di wilayahnya tengah membutuhkan pasokan air yang cukup banyak. Sebab baru beberapa minggu ke belakang petani di Kandanghaur  kembali memulai proses tanam padi.

Dia mengatakan, pemerintah daerah memang sudah membuat jadwal gilir giring air supaya seluruh petani Indramayu kebagian air. Namun sayangnya air belum tiba di wilayahnya. Jatah air yang ditunggu-tunggu belum sampai ke Kandanghaur. Menurut dia, terhambatnya pasokan air disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu kasus yang ia temukan adalah adanya balok-balok penahan air di beberapa titik lokasi. Tak ayal air pun terhambat untuk tiba ke tujuan.

Waryono tak menampik, ada kebijakan penggelontoran air selama sepuluh hari ke daerah kekeringan terparah. Upaya penyelamatan itu diperkirakan hanya bisa menyelamatkan setengah areal pertanian di Kandanghaur. Sebagian lainnya terancam mati akibat tak teraliri air. Petani pun berharap ada solusi terkait permasalahan pelik yang tengah dihadapi mereka saat ini.

TNI kawal irigasi

Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu Sutatang mengatakan, kekeringan mulai dirasakan petani di Indramayu. Dia pun berharap, ada penanganan segera supaya tanaman padi para petani tidak mati begitu saja akibat kurangnya pasokan air. Jika hal itu terjadi maka sudah dipastikan para petani akan menelan kerugian cukup banyak.

Persoalan pasokan air bagi para petani sebelumnya menjadi perhatian serius dari pemerintah daerah. Kodim 0616 Indramayu pun turun tangan untuk mengawal para petani. Dandim 0616 Indramayu Letkol Agung Nur Cahyono menuturkan, TNI siap mengawal irigasi pengairan dari tangan-tangan jahil. Dia pun meminta warga untuk segera melapor kepada Koramil jika menemukan indikasi tak benar di lapangan. Babinsa pun sudah diterjunkan untuk mengawal para petani. ***

Bagikan: