Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Cerah berawan, 29.1 ° C

Kolontong Cisayong, Oleh-oleh Antimainstream dari Tasikmalaya

Bambang Arifianto
PEMBUATAN kolontong dalam loyang di dapur rumahnya di Kampung Cantigi, Desa Cisayong, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu 9 Juni 2019. Kolontong Cisayong merupakan kudapan tradisional yang bertahan di tengah menjamurnya panganan instan dan modern.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
PEMBUATAN kolontong dalam loyang di dapur rumahnya di Kampung Cantigi, Desa Cisayong, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu 9 Juni 2019. Kolontong Cisayong merupakan kudapan tradisional yang bertahan di tengah menjamurnya panganan instan dan modern.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

CISAYONG, wilayah di Kabupaten Tasikmalaya itu memiliki kudapan khas yang masih tetap bertahan di tengah serbuan panganan instan dan modern. Warga menyebutnya kolontong.

Pada momen Lebaran dan  tahun baru, pesanan kolontong membludak. Kudapan tersebut menjadi salah satu makanan favorit sejumlah warga untuk dihidangkan menyambut tamu atau kerabat yang berdatangan.

Pikiran Rakyat mendatangi langsung sentra pembuatan kolontong untuk melihat produksi dan berbagai bentuk panganan trasional itu di Desa Cisasong, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu 9 Juni 2019.

Tangan Siti Ruyat mulai menata potongan kolontong berbentu persegi empat memanjang dalam sebuah loyang di dapur rumahnya, Minggu siang.

Perempuan 80 tahun yang tinggal di Kampung Cantigi, Desa Cisayong, Kecamatan Cisayong tersebut memeragakan bagaimana proses pembuatan kolontong hingga akhirnya bisa di santap.

PEMBUATAN kolontong dalam loyang di dapur rumahnya di Kampung Cantigi, Desa Cisayong, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu 9 Juni 2019. Kolontong Cisayong merupakan kudapan tradisional yang bertahan di tengah menjamurnya panganan instan dan modern.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Potongan kolontong mentah itu sebelumnya dikeringkan dengan dijemur di tengah terik matahari. Setelah kering, barulah kolontong masuk ke tempat pemanggangan. Proses produksi, tutur Siti, sangat bergantung ada tidaknya cahaya matahari. Jika mendung atau hujan, produksi pun molor.

Akan tetapi bila cuaca normal, Siti hanya perlu waktu satu hari untuk memproduksi kolontong. Ia menuturkan, kolontong merupakan panganan khas Cisayong sejak lama. "Dari saya kecil sudah ada," ucapnya.

Kemampuan membuatnya juga dimiliki warga Cisayong sejak dahulu dan menyebar di masyarakat. Tak heran, banyak warga Cisayong lain yang memiliki usaha pembuatan kolontong hingga kini. 

Ukuran dan rasa

Dulu, tutur Siti, bentuk kudapan tersebut tergolong besar. Kini, kolontong dibuat lebig kecil serta disesuaikan keinginan pembeli.

Makanan berbahan dasar ketan putih, gula merah dan putih tersebut sekilas mirip opak.

Ketika dicicipi, rasa kolontong memang seperti opak. Bedanya, kolontong lebih terasa manis dengan karena campura gula dengan warna kecoklatan.

PEMBUATAN kolontong dalam loyang di dapur rumahnya di Kampung Cantigi, Desa Cisayong, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu 9 Juni 2019. Kolontong Cisayong merupakan kudapan tradisional yang bertahan di tengah menjamurnya panganan instan dan modern.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Hingga sekarang, kolontong masih bertahan dan menarik minat para pembeli. Proses pembuatan juga terbilang tradisional. Warga Cisayong, kata Siti, lebih memilih menjemur ketimbang menggunakan pemanas buatan. Warga pun menggunakan alat sederhana untuk memipihkan adona ketan bercampur gula.

Akan tetapi, proses yang cukup panjang menjadi nilai khusus kolontong lantaran kualitas rasa  yang lebih terjaga.

Tak urung, para pembeli tetap berdatangan untuk memesan kudapan tradisional itu meskipun kue-kue instan dalam kemasan menjamur di toko-toko.

Para pemesan bahkan bisa meminta khusus kolontong sesuai seleranya masing-masing. Beberapa pemesan, misalnya, memesan kolontong dengan taburan biji wijen. Saat mendekati Lebaran merupakan momen tersibuk bagi Siti.

Dua bulan sebelum puasa, pesanan telah berdatangan. Ia cukup kewalahan dengan permintaan pembeli yang melonjak. "Yang pesan ada yang menggunakan SMS, ada yang datang langsung bawa mobil," ucapnya.

Harga dan lokasi penjualan

Selain warga biasa, pemesan merupakan para pengusaha oleh-oleh khas Tasikmalaya yang menjualnya kembali.

Distribusi kudapan tersebut masuk ke wilayah Kota Tasikmalaya seperti Pasar Cikurubuk dan toko-toko oleh-oleh di sepanjang Jalan Cisayong.

Makanan itu juga menjangkau wilayah Sumedang. Warga yang berminat bisa langsung mendatangi pusat oleh-oleh di Jalan Cisayong atau langsung menyambangi warga yang memproduksinya. Namun, mendapatkan kolontong langsung dari warga pembuat agak sedikit berbau keberuntungan. Warga hanya bisa menjual jika masih ada sisa dari pemesanan Lebaran.

Momen menjelang Idulfitri menjadi waktu tersibuk bagai pembuat kolontong. Dalam sehari, Siti membuat 20 kilogram kolontong. Bagi pembeli biasa atau eceran, satu plastik kolontong dengan berat sekitar satu kilogram dijual Rp 70.000.

Untuk pedagang di toko-toko oleh-oleh, harganya Rp 65.000. Saking lakunya kudapan tersebut membuat semua bahan-bahannya tak diproduksi semua. Siti kewalahan dan menghentikan produksinya satu hari sebelum Lebaran.

Tersohornya Cisayong sebagai sentra produksi kolontong diakui Tuti Masriah (62), warga Kampung Cantigi lainnya. "Khas Cisayong," ucapnya.

Banyak warga di kampung-kampung wilayah Desa Cisayong bergelut dalam pembuatan makanan tradisional tersebut. Tasikmalaya bukan hanya dikenal sebagai kota santri.

Tatar Sukapura memiliki beragam kuliner khas untuk dinikmati para pengunjungnya seperti nasi tutug oncom dan kupat tahu Mangunreja. Dan kolontong bisa menjadi pilihan oleh-oleh yang dibawa saat berkunjung atau mampir di Tasikmalaya.***

Bagikan: