Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sedikit awan, 24.7 ° C

Berwisata Sejarah Kuburan Punden Kuno Walahir Kabupaten Tasikmalaya

Bambang Arifianto
KOMPLEKS kuburan Walahir, Desa Sukamulih, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu, 28 April 2019 lalu. Kuburan tersebut diduga merupakan sisa punden kepercayaan Sunda kuno.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
KOMPLEKS kuburan Walahir, Desa Sukamulih, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu, 28 April 2019 lalu. Kuburan tersebut diduga merupakan sisa punden kepercayaan Sunda kuno.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

KOMPLEKS pemakaman itu berada di rerimbunan pepohonan di wilayah Desa Sukamulih, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya. Menuju ke lokasi itu mesti melintasi jalur menanjak dari arah Singaparna. Area kuburan itu memang berada di kaki Gunung Galunggung.

Sunyi dan hening menyergap saat pemukiman terakhir warga terlintasi. Kebun dan hutan mulai menghadang di medan menanjak hingga tiba di gapura pemakaman tersebut. Batu-batu bertonjolan di kuburan-kuburan itu. Kesan tua tampak lantaran lumut ikut memenuhi permukaan batu-batu tersebut.

Tumpukan batu tak hanya berada di atas beberapa kuburan saja. Sejumlah kuburan lain juga dalam kondisi serupa. Tampak para peziarah dengan pakaian putih berada di sana saat "PR" menyambangi lokasi itu, beberapa waktu lalu.

Warga menyebut kompleks pemakaman tersebut dengan nama Walahir.‎ Syarif (45), warga Kampung Pangkalan, Desa Sukamulih, Kecamatan Sariwangi menuturkan, Walahir merupakan pemakaman yang dikeramatkan warga. "Memang makam besar, sejarahnya dari dulu," ujarnya.

Menurut dia, kuburan-kuburan tua berada di area dalam pemakaman. Sedangkan kuburan warga biasa di luarnya. Perbedaan bisa terlihat dari kuburan warga yang bernisan dan sebagian telah ditembok. Sementara kuburan lama hanya berupa gundukan batu.

Pengelola Walahir juga telah memberikan keterangan nama-nama setiap kuburan tua tersebut. Nama-nama itu tertera dalam plakat seng yang ditancapkan pada setiap makam seperti Eyang Haji Sembah Dalem Wirahadi Kusumah, Eyang Ganasoli, Eyang Semprana, Eyang Sapta.

Walahir pun menjadi tujuan peziarah yang bukan hanya berasal dari Tasikmalaya. "(Dari) Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan," ujarnya. Mereka, lanjutnya, biasanya datang setiap malam. "Kebanyakan (datang) Jumat Kliwon," ucapnya.

WARGA tengah menyapu di kompleks kuburan Walahir, Desa Sukamulih, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu, 28 April 2019 lalu. Kuburan tersebut diduga merupakan sisa punden kepercayaan Sunda kuno.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Lalu betulkah gundukan batu Walahir merupakan makam? Laman www.disparbud.jabarprov.go.id menyebut lokasi tersebut merupakan situs sejarah para leluhur Galunggung periodesasi Islam. Walahir diperkirakan berkaitan dengan situs sejarah lain seperti Geger Hanjuan dan Batu Mahpar yang lokasinya tak terlalu jauh.

Staf Pengajar Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Agus Aris Munadar menduga lain. "Bisa jadi semula tumpukan batu itu bukan makam, tetapi punden megalitik atau punden religi Sunda kuno," ucap Agus. Setelah Islam berkembang, lanjutnya, punten diubah bentuknya menjadi seperti makam Islam. ‎

Penulis buku Siliwangi, Sejarah, Dan Budaya Sunda Kuno tersebut memperkirakan, Walahir merupakan tempat yang disakralkan di masa lalu. "Ada menhir tegak berdiri di atasnya. Tentu yang dipuja ‎arwah nenek moyang," ucapnya.

Ritus itu, tutur Agus, merupakan tradisi yang berlanjut dari masa prasejarah (megalitik) ke era sejarah. "Di Jawa Barat, agama Hindu-Budha tidak dominan, tetapi bercampur dengan religi asli yang memuja karuhun. Kerajaannya Sunda kuno," ujarnya. 
Terkait dekatnya  Walahir dengan dengan Geger Hanjuang yang menjadi lokasi penemuan prasasti di bawah Gunung Galunggung, Agus menduga keduanya memiliki kesamaan kebudayaan. Geger Hanjuang ditengarai merupakan kabuyutan yang disucikan di masa lalu. Keberadaan Walahir mendapat dukungan para resi dan kaum pertapa brahmana di wilayah kabuyutan tersebut.

Letak situ-situs yang berada di bawah Galunggung terkait pula dengan orientasi kepercayaan atau penyucian terhadap gunung di masa lalu. "Semua bentuk punden di kawasan itu berorientasi ke Mahameru Galunggung," ucap Agus.

Tak hanya Walahir, Tasikmalaya memiliki lingga yoni. Benda bersejarah tersebut ditemukan di puncak bukit bernama‎ Gunung Kabuyutan di Kampung Sindanglengo, Kelurahan Sukamaju Kidul, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya.

Lingga yoni merupakan perlambang pemujaan Hindu Saiwa di Tasikmalaya pada masa silam. Diperkirakan, ada‎ komunitas pemeluk Hindu Saiwa di kawasan Indihiang di masa silam. Konsep kepercayaan komunitas tersebut merupakan perpaduan dengan pemujaan arwah leluhur.

Nama Indihiang sebagai lokasi keberadaan lingga yoni punya kaitan dengan keberadaan komunitas dan peninggalan kepurbakalaannya.  Komunitas itu mungkin berasosiasi dengan perkembangan Kerajaan Galuh di sekitar Priangan Timur.‎ Lingga Yoni pun merupakan bentuk pemujaan atas kesuburan lahan di kawasan tersebut.***

Bagikan: