Pikiran Rakyat
USD Jual 14.426,00 Beli 14.126,00 | Sedikit awan, 22.6 ° C

Macan Kumbang Turun ke Permukiman, Ridwan Kamil Diminta Bertindak

Gita Pratiwi
MACAN Kumbang asal Subang yang sudah siuman dari pengaruh bius saat akan dibawa ke Bandung.*/DALLY KARDILAN/GALAMEDIA
MACAN Kumbang asal Subang yang sudah siuman dari pengaruh bius saat akan dibawa ke Bandung.*/DALLY KARDILAN/GALAMEDIA

BANDUNG, (PR).- Warga Kampung Cimalingping, Desa Sindangsari Kecamatan Kasomalang, Subang dikejutkan oleh turunnya seekor macan kumbang ke permukiman, Sabtu, 1 Juni 2019. Warga sempat melakukan pengejaran beramai-ramai dan menangkapnya.

Macan kumbang tersebut diduga kelaparan sehingga sempat menerkam warga. Menyikapi hal itu, aktivis lingkungan dan pemerhati binatang menyoroti kerusakan habitan macan kumbang dan kelangkaan makanan hewan tersebut. Pembangunan properti dan wisata alam yang masif di Subang dan sekitarnya tak luput dari sorotan.

"Turunnya macan dari habitatnya, biasanya disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya rusaknya habitat potensial, tidak adanya keersediaan makanan akibat perburuan, dan intervensi manusia yang berlebihan. Atau, alih fungsi kawasan yang mengakibatkan daerah teritori macan terganggu," kata Dedi Kurniawan, Ketua Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Jabar, Senin 3 Juni 2019.

Lebih lanjut, pegiat kamapanye Wawasan Lingkungan Hidup (Walhi) Jabar itumemandang, tidak ada sinergitas kerja sama kebijakan pemerintah pusat dan daerah.

Berdasarkan catatan FK3I Jabar, ada puluhan ekor macan yang keluar dari habitatnya dan berakhir tewas atau berada di kebun binatang sebagai hewan titipan. Ia menyayangkan, hewan-hewan menjadi tontonan berbayar. Alih-alih habitatnya dilestarikan.

Tidak sedikit, terdapat korban manusia dalam kejadian turunnya macan tersebut. Oleh karena itu, Dedi memandang agar seluruh pihak terkait bertanggung Jawab. Kawasan potensial dan teritorial macan tidak hanya beradadi kawasan konservasi, katanya, tetapi juga di kawasan lindung perhutani dan kawasan perkebunan besar seperti PTPN VIII.

Ridwan Kamil harus bertindak

Kawasan Bandung utara khusunya Subang dan Bandung Barat, sebagai potensi daya dukung ekologi, sudah rusak. "Hal itu dampak dari maraknya pengembangan properti dan wisata alam. Sehingga, alih fungsi kawasan terus terjadi," katanya.

Dedi meminta Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil melakukan langkah-langkah konkret mitigasi konflik serta upaya pelestarian kawasan dan ekosistem di dalamnya. Kemudian, pemerintah kota dan kabupaten segera mengeluarkan regulasi dan kebijakan terkait penyadaran terhadap masyaraka akan mitigasi konflik.

Pemerintah Pusat, melalui UPT dan Direktorat terkait, diminta segera membentuk tim sarana dan prasarana dalam upaya pencegahan dan penanganan kasus serupa.

Dedi juga meminta beberapa hal kepada perusahaan yang mengeruk keuntungan dari kawasan tersebut. Baik kawasan hutan, perkebunan, maupun kawasan lainnya yang berpotensi dihuni satwa liar dilindungi. Menurut dia, perusahaan-perusahaan mempunyai beban besar atas keuntungan ekonominya dan wajib bertanggung jawab melakukan upaya sosial terhadap lingkungan terdampak.***

Bagikan: