Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Cerah berkabut, 31.2 ° C

Misteri Nama Gentong, Daerah yang Kerap Macet Saat Mudik Lebaran

Bambang Arifianto
GAPURA Kampung Gentong di kawasan jalan lingkar Gentong, Desa Buniasih, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu 29 Mei 2019.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
GAPURA Kampung Gentong di kawasan jalan lingkar Gentong, Desa Buniasih, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu 29 Mei 2019.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

SIAPA tak kenal tanjakan atau turunan Gentong. Pada musim mudik dan arus balik Lebaran, ruas jalan di wilayah Kabupaten Tasikmalaya itu menjadi salah satu titik sorotan utama.

Ribuan pemudik melintasi medan berkelok nan elok yang diapit perbukitan tersebut. Pemandangan jurang di tepi jalur sudah cukup membuat pemudik berkonsentrasi melintasinya.

Kecelakaan kendaraan bukanlah peristiwa baru di sana. Untuk itu, pemerintah selalu menjadikan Gentong sebagai wilayah pantauan dan memastikannya laik dilintasi setiap menjelang musim libur hari-hari besar.

Akan tetapi, apa yang menyebabkan jalur curam yang rawan kecelakaan itu bernama Gentong? Apakah Gentong dulu merupakan sentra pembuatan gerabah? Adakan hubungan jalur tersebut dengan tempayan penampung air dari tanah liat itu?

Ternyata, penamaan Gentong terkait erat dengan kampung yang berada di area jalur curam itu. Namanya Kampung Gentong, Desa Buniasih, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya. Terdorong rasa penasaran atas nama yang unik, Pikiran Rakyat mendatangi Kampung Gentong, Rabu 29 Mei 2019.

Lokasi kampung itu tepat berada di bagian bawah jalur lingkar Gentong. Jika bertolak dari Bandung atau Garut, kampung tersebut berlokasi di titik paling akhir selepas menuruni jalan. Sementara jika bertolak dari Kota Tasikmalaya, Kampung Gentong menjadi titik awal kendaraan mendaki. Letak kampung bersebelahan dengan  Jembatan Gentong Sungai Cikidang.

JALAN lingkar Gentong, Desa Buniasih, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

FOTO udara Lingkar Gentong di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis, 9 Mei 2019. Sejumlah perbaikan jalur Lingkar Gentong telah dilakukan untuk persiapan bagi pemudik yang melintasi di jalur selatan tersebut.*/ANTARA

Nama kampung terlihat langsung dari tulisan gapura yang berdiri di tepi jalan.‎ Berada di lereng bukit, kampung itu memiliki  pola pemukiman yang menyebar. Sebagian warga bermukim di bagian bawah dekat jembatan, yang lainnnya berada di bagian atas perbukitan.

Tak terlihat sama sekali aktivitas pembuatan gerabah di sana. Hamparan pesawahan di lereng bukit justru menunjukkan warga Gentong adalah petani.

Cerita Suta bin Haji Sujai

Penelusuran mempertemukan Pikiran Rakyat dengan ‎Suta bin Haji Sujai, sesepuh Kampung Gentong. Pria berusia 87 tahun itu menampik asal mula nama Gentong berasal aktivitas pembuatan gerabah tersebut.

Soalnya, tak ada warga kampung  yang melakoni aktivitas membuat tempat pembuangan air tersebut. Warga Gentong adalah petani bukan perajin gerabah atau tembikar. Musabab penamaan Gentong  lebih terkait dengan adanya mata air yang berada di kampung itu.

"Karena banyak air," ucap Suta. Kaitan Gentong dengan nama kampung diperkirakan berhubungan dengan fungsinya sebagai penampung air.

WARGA menggunakan air penampungan mata air di Kampung Gentong yang berada di kawasan jalan lingkar Gentong, Desa Buniasih, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu 29 Mei 2019.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Kampung Gentong memang memiliki mata air yang tak pernah kering dan ditampung warga. Ada dua mata air yang masih dipakai warga di Gentong.

Salah satunya berada di belakang rumah Suta. Ia menunjukkan langsung mata air yang dialirkan ke rumahnya. Untuk keperluan warga, Suta membuat lubang penampungan mata air yang bisa digunakan setiap saat. Warga cukup mencabut penutup pada pancuran penampungan dan mewadahi menggunakan ember.

Mata air yang ditampung dan digunakan warga memiliki fungsi yang sama seperti Gentong. Gentong adalah tempayan penampung air yang juga dipakai untuk keperluan masyarakat. Suta membantah penggambaran kampung tersebut seperti yang dilakukan sebuah rumah makan kawasan itu yang memakai simbol gentong dan menaruh barang asli di halamannya. Pasalnya, kaitan nama kampung adalah fungsi gentong sebagai penampung limpahan mata air bukan wujud asli gerabah tersebut.

Penamaan berdasaran rona bumi

Akan tetapi, penjelasan Suta belum cukup memuaskan. Mengingat penampung air baik dalam definisi maupun wujud asli bukan hanya gentong. Kenapa tak diberi nama gayung, kendi, atau sekalian saja jolang yang lebih khas istilah kesundaannya?

Pendapat lain muncul dari T Bachtiar, Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung.

JALAN lingkar Gentong, Desa Buniasih, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Penamaan Gentong, tutur T Bachtiar, merujuk pada morfologi kawasan yang cekung. ‎"Banyak sekali nama geografi yang menunjukan rona bumi yang cekung," kata T Bachtiar. Ia menyebut penamaan tempat berdasaran rona bumi lazim di Jawa Barat.

"Kalau dibuat penampangnya, pasti rona buminya cekung, seperti Gentong, Cijolang, Cipariuk, Sukajadi, Salopa, Cangkorah," ucapnya.

Demikian pula penamaan Gentong. "Dilihat dari jauh seperti penampang Gentong," ujar T Bachtiar.

Bentukan morfologi yang cekung pun dianalogikan dengan benda-benda yang populer pada masyarakat pada zaman itu.

"Ketika melihat rona bumi (masyarakat) langsung ingat terhadap kemiripan dengan benda zaman waktu tersebut," ucapnya.

Bentukan mirip gentong terlihat dari ketinggian jalur yang melintasi perbukitan dengan dasar di titik terendahnya. Permukaan yang cekung bisa dinikmati pemudik atau pengendara saat melintasi titik tertinggi Jalur Gentong yang berada di dekat perlintasan kereta api.

Dari titik itu, deretan bukit-bukit mengapit Gentong dengan pemukiman warga terlihat di bawahnya. Deretan bukit kemudian berganti pemandangan Gunung Cakrabuna di utara dan Talagabodas serta Galunggung di Selatan yang memagarinya.***

Bagikan: