Pikiran Rakyat
USD Jual 14.027,00 Beli 14.125,00 | Sedikit awan, 20.7 ° C

Sistem Terbuka di Tol Jakarta-Cikampek Membebani Pengendara Jarak Pendek

Hilmi Abdul Halim
PENERAPAN sistem transaksi terbuka di gerbang tol Jakarta - Cikampek yang baru dinilai membebani pengendara jarak pendek.  Masyarakat lokal diarahkan untuk menggunakan jalur arteri agar jalan tol lebih leluasa digunakan pengendara jarak jauh.*/ HILMI ABDUL HALIM/PR
PENERAPAN sistem transaksi terbuka di gerbang tol Jakarta - Cikampek yang baru dinilai membebani pengendara jarak pendek. Masyarakat lokal diarahkan untuk menggunakan jalur arteri agar jalan tol lebih leluasa digunakan pengendara jarak jauh.*/ HILMI ABDUL HALIM/PR

PURWAKARTA, (PR).- Kenaikan tarif jarak dekat di ruas jalan tol Jakarta-Cikampek merupakan dampak dari pemerataan tarif pada sistem transaksi terbuka. Masyarakat lokal diarahkan untuk menggunakan jalur arteri agar jalan tol lebih leluasa digunakan pengendara jarak jauh.

Kepala Departemen Komunikasi PT Jasa Marga Irra Susiyanti meminta maaf atas ketidaknyamanan tersebut. "Jalan tol ini yang sebelumnya menggunakan sistem terbuka dan tertutup, kini menjadi sepenuhnya sistem terbuka dengan empat wilayah pentarifan," katanya dalam keterangan pers, Sabtu 25 Mei 2019.

Hal itu sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Nomor 481/KPTS/M/2019 Tentang Penetapan Tarif dan Perubahan Sistem Pengumpulan Tol pada Jalan Tol Jakarta-Cikampek. Surat yang bertanggal 15 Mei 2019 itu menyusul pemindahan Gerbang Tol Cikarang Utama ke perbatasan Purwakarta-Karawang mulai 23 Mei 2019.

Dampak pemerataan tarif itu membuat biaya tol jarak dekat menjadi sama seperti biaya tol jarak jauh. Irra mencontohkan dalam Wilayah Pentarifan 3 -- setelah GT Cikarang Utama yang dibongkar, yaitu antara Cibatu-Cikarang Timur-Karawang Barat-Karawang Timur saat ini dikenakan tarif merata sebesar Rp 12.000

Sebelumnya, pengguna jalan hanya membayar tarif tol sesuai dengan jarak yang ditempuhnya, karena saat itu masih menggunakan sistem transaksi tertutup. Sistem tersebut dapat membedakan asal tujuan perjalanan.

"Sama halnya dengan pengendara asal Gerbang Tol Karawang Barat dan keluar di Gerbang Tol Karawang Timur yang sebelumnya dikenakan tarif tol sebesar Rp1.500, kini harus membayar tarif merata sebesar Rp12.000," tutur Irra menambahkan.

Sementara itu, pengguna jalan tol dari arah Bandung yang akan meneruskan perjalanan ke Cirebon secara langsung melalui tol Cikopo-Palimanan juga akan merasakan perbedaan. Pengendara yang sebelumnya hanya melakukan dua kali tapping kini diharuskan empat kali tapping setelah adanya perubahan sistem transaksi dan pentarifan.

Untuk tarif Jalan Tol Jakarta-Cikampek bagi pengendara yang meneruskan perjalanan dari Bandung menuju Jalan Tol Cikopo-Palimanan ditetapkan secara merata sebesar Rp15.000 Saat masih menerapkan sistem tertutup, besaran harganya tergantung jarak tempuh mereka.

Begitu pula dengan pengguna jalan di sekitar Kota Bukit Indah yang biasanya membayar tarif Jalan Tol Jakarta-Cikampek sebesar Rp1.500 untuk ruas tol Kalhurip-Simpang Susun Dawuan. Saat ini mereka dikenakan tarif Rp15.000 yang merata di Wilayah 4 (Cawang-Dawuan/Kalihurip/Cikampek).

"Pengendara di sekitar Kota Bukit Indah di dekat area Gerbang Tol Kalihurip yang menuju ke arah Bandung dan sekitarnya memiliki kecenderungan melewati Simpang Susun Dawuan," kata Irra. Artinya, pengendara itu masuk ke dalam ruas Jalan Tol Jakarta-Cikampek untuk mengakses Jalan Tol Cipularang dan Padaleunyi menuju arah Bandung.

Pihak Jasa Marga mengimbau warga Kota Bukit Indah untuk mengakses Jalan Tol Cipularang dan Padaleunyi melalui akses gerbang tol terdekat lainnya yang tidak masuk ke dalam wilayah Jalan Tol Jakarta-Cikampek. Yakni, memilih masuk melalui GT Sadang sehingga tidak terkena pentarifan merata Wilayah 3.

Menurut pengamatan pembangunan Yayat Supriatna, fungsi jalan tol memang untuk perjalanan jarak jauh di atas 9-15 kilometer. Sistem transaksi terbuka di jalan tol dinilai lebih menguntungkan pengendara jarak jauh sehingga biaya perjalanannya lebih murah.

"Tol itu merasionalkan cara berpikir masyarakat. Kalau dirasakan membebani jangan gunakan jalan tol. Gunakan jalan arteri (sebagai pengganti jalan tol)," kata Yayat. Permasalahannya kata dia adalah ketersediaan jalan arteri yang semakin padat oleh pengendara lokal. ***

 

Bagikan: