Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Langit umumnya cerah, 16.4 ° C

Taman Jasper Batu Beureum, Warisan Alam Tiada Dua dari Tasikmalaya

Bambang Arifianto
Batu jasper yang ditemukan di antara tumpukan batu-batu berwarna di tepi Sungai Cimedang, Kampung Pasirgintung, Desa Cibuniasih, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya. Taman batu tersebut merupakan jejak peristiwa kebumian Tasikmalaya selatan jutaan tahun lalu.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
Batu jasper yang ditemukan di antara tumpukan batu-batu berwarna di tepi Sungai Cimedang, Kampung Pasirgintung, Desa Cibuniasih, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya. Taman batu tersebut merupakan jejak peristiwa kebumian Tasikmalaya selatan jutaan tahun lalu.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

KABUPATEN Tasikmalaya memiliki taman bumi dengan formasi batuan yang unik dan khas di kawasan Sungai Cimedang, Kecamatan Pancatengah. Batu-batu tersebut memiliki warna yang mencolok mata hasil jejak terobosan magma gunung api purba yang meresap ke batuan  di selatan Tasikmalaya.

Namun, kekayaan dan keunikan tersebut belum dilirik pemerintah. Letaknya yang jauh dari pusat kota dengan akses jalan yang buruk, membuat formasi batuan khas tersebut tersembunyi dan belum dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi kebumian. Wartawan Pikiran Rakyat sempat menjelajahinya dan menggali cerita peristiwa alam yang menakjubkan itu.

Warga mengenalnya lokasi tersebut sebagai Batu Beureum atau batu merah. Letaknya di Kampung Pasirgintung, Desa Cibuniasih, Kecamatan Pancatengah. Butuh waktu sekitar 2-3 jam untuk tiba di sana dari Kota Tasikmalaya.

Perjalanan dimulai melalui jalan menuju arah selatan melalui Kawalu, Salopa, Cikatomas hingga berakhir di Pancatengah. Selepas menerobos, rimbunnya pohon dan semak yang menutupi badan jalan berlapis tanah, maka akan tiba di tepi Cimedang. Tak butuh lama, pemandangan memesona sudah menghadang mata. Ya, batu-batu raksasa berwarna merah dan kuning terhampar di tepi dan badan sungai.
 

Batu-batu berukuran kecil juga memiliki berbagai warna. Sebarannya bukan hanya di wilayah sungai. Berjalan mendaki sedikit ke arah pesawahan warga, batu-batu itu juga menyembul di pematang. Bahkan, ada pula batu-batu yang berserakan di halaman rumah warga.

Maesaroh (44), warga Pasirgintung menuturkan, batu-batu tersebut sempat ditambang beberapa tahun yang lalu. Dalam satu hari, tuturnya, 10 truk mengangkut batuan itu dengan batuan alat berat seperti backhoe.

Pelaku usaha penambangan, lanjutnya, merupakan warga negara asal Jepang yang dibantu penduduk lokal. Batu-batu besar tak luput diambil mereka dengan diderek menggunakan rantai. Kekayaan dan aset sejarah bentang alam Tasikmalaya selatan pun rusak dan lenyap karena aktivitas penambangan.

Kini,hanya sebagian formasi batuan khas yang masih tersisa di sana. Itu pun setelah Pemkab Tasikmalaya turun tangan. "Tidak boleh ditambang lagi dari Pemda Tasik dipelangan (diberi plang larangan)," ujar Maesaroh.

Pemkab bahkan berencana menjadikan kawasan batu bereum Sungai Cimedang itu sebagai lokasi wisata. Tetapi, rencana hanya sebatas rencana.

Penambang hengkang, pengembangan wisata masih tak kunjung digarap. Akses jalan pun semakin tertutup semak-semak serta tanpa ada sama sekali papan petunjuk. "Sekarang jalan rusak," ucap Maesaroh.

Menurutnya, taman batu bereum atau jasper tersebut sangat berpotensi menjadi destinasi wisata Kabupaten Tasikmalaya. Selain menjadi menjadi jejak peristiwa kebumian, warga juga bakal kecipratan rezeki dengan berdagang bagi pengunjung.

Saat ini, pengunjung terbilang sepi. Beberapa pengunjung hanya mahasiswa yang tengah kuliah kerja nyata di Pancatengah.
 

Sekretaris Jenderal Kelompok Riset Cekungan Bandung Sujatmiko menyatakan, keberadaan jasper atau batu mulia dengan jumlah besar sangat langka seperti di Pancatengah langka.‎ "Di dunia untuk mendapatkan  taman jasper itu sangat langka sekali. Apalagi di Indonesia, enggak ada yang sejenis (seperti) Tasik Selatan," ucapnya.

Sujatmiko bahkan menyebut taman jasper Pancatengah merupakan terbesar di dunia dari jumlah batuannya. "Itu sebetulnya heritage dari Tasikmalaya yang harus dimanfaatkan," ujarnya.

Ia menuturkan, batuan tersebut terbentuk ketika alira lava di bawah permukaan bumi tertimbun erosi atau mengalami sedimentasi. Kemudian terjadi pengangkatan ke permukaan dengan adanya terobosan magma yang mengadung larutan hidrotermal. Magma pun masuk/meresap ke dalam rekahan atau pori-paru batu‎.

Perbedaan warna batu terjadi larutan kimia hidrotermalnya. "Kalau yang orange itu biasanya (dari larutan) tembaga, mangan," ucpanya.

Sedangkan yang merah dari larutan oksidan besi. Proses terbentuknya batuan unik dan khas tersebut terjadi pada zaman miosen pada 20-25 juta tahun lalu saat Tasikmalaya selatan masih berada di dasar laut.

Sujatmiko sempat mengusulkan agar taman jasper Pancatengah menjadi geopark kepada Pemkab Tasikmalaya. Namun, usulan itu tak menuai respon.

Padahal jika berstatus geopark, formasi batuan unik itu bisa lebih terlindungi dan lestari. Generasi muda Tasikmalaya juga bisa belajar ilmu kebumian dengan menyaksikan langsung laboratorium alam batu bereum Pancatengah.***

Bagikan: