Pikiran Rakyat
USD Jual 14.273,00 Beli 13.973,00 | Umumnya cerah, 19.1 ° C

Sampah Impor Jadi Buruan Warga Tamanmekar

Dodo Rihanto
Warga Tamanmekar, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang, mengais sampah yang berasal dari luar negeri untuk dijual ke pengepul. Sampah tersebut merupakan sisa bahan baku kertas PT Pindo Deli 3 yang tidak terpakai.*/DODO RIHANTO/PR
Warga Tamanmekar, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang, mengais sampah yang berasal dari luar negeri untuk dijual ke pengepul. Sampah tersebut merupakan sisa bahan baku kertas PT Pindo Deli 3 yang tidak terpakai.*/DODO RIHANTO/PR

KARAWANG, (PR).- Kendati dianggap mencemari lingkungan, sampah sisa bahan baku kertas PT Pindo Deli 3, ternyata banyak diburu warga Desa Tamanmekar, Kecamatan Pangkalan. Mereka mengais rezeki dari tumpukan sampah milik anak perusahaan Sinar Mas yang berlokasi di Tamanmekar.

Warga memilah sampah yang bisa dijual kembali ke pengepul barang bekas. Dari kerja kerasnya itu warga bisa meraup uang ratusan ribu per hari.

Sampah yang diburu warga adalah sampah impor dari Amerika. Sampah itu konon didatangkan pihak PT Pindo Deli 3 sebagai bahan baku kertas cokelat (brown paper).

Hanya saja tidak semua sampah bisa diolah kembali menjadi kertas. Bahan-bahan plastik dan kaleng tidak bisa di-recycle, sehingga harus dibuang kembali ke lingkungan sekitar.

"Dari tumpukan sampah ini terkadang ditemukan juga uang dolar. Kerena itu pula warga yang mengais sampah impor ini semakin banyak," kata Alimin (42), salah seorang warga Desa Tamanmekar, di lokasi tumpukan sampah Pindo Deli 3, Senin, 20 Mei 2019.

Alimin menduga, isu adanya uang dolar di tumpukan sampah membuat warga tergiur untuk ikut mengais sampah tersebut. "Banyak yang penasaran, tapi saya tidak pernah menemukan uang dolar, yang ada cuma plastik dan kaleng saja," kata Alimin.

Dijelaskan juga, dirinya sudah tiga bulan mengais rezeki dari tumpukan sampah impor itu. Alimin bisa mengantongi Rp 1 juta dari satu truk sampah yang dijualnya kepada pengepul.

Sementara itu, salah seorang karyawan PT Pindo Deli 3 dari bagian produksi castcoat, Mei Yudi Pransuri menjelaskan, sampah itu sisa bahan baku pembuatan brown paper atau kertas cokelat. "Tumpukan sampah ini adalah buangan dari bahan baku brown paper. Ada kaleng, plastik, alumunium dan sejenisnya," kata Mei Yudi.

Dia menyatakan bakal menarik kembali tumpukan sampah ke dalam pabrik. Sebelumnya, sampah tersebut ditumpuk di luar pabrik untuk memberi kesempatan warga memanfaatkannya.

Mei Yudi mengaku telah bekerja sama dengan pihak ke tiga untuk memusnahkan sampah tersebut. Namun kenyataannya, pihak ke tiga yang ditunjuknya tidak pernah memusnakan sampah-sampah tersebut.

"Kami sudah menunjuk vendor. Tetapi nyatanya tidak dimusnahkan. Makanya kami ambil kembali sebagai upaya menangani permasalahan sampah ini," kata Mei Yudi. 

Dari penelusuran PR,  sampah impor didatangkan seiring dengan adanya perubahan produksi di pabrik tersebut. Mulanya pabrik itu memproduksi 900 ribu ton kertas putih per tahun menjadi 300 ribu ton per tahun. 

Perubahan itu membuat pihak PT Pindo Deli 3 mengajukan Adendun Analisis dampak lingkungan (Andal) ke Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Karawang.

Dalam dokumen adendum Andal itu disebutkan, Pindo Deli 3 membutuhkan 10.800 ton pulp impor dengan tipe mixed paper, atau campuran kardus, koran dan majalah. Ribuan ton pulp itu kemudian menghasilkan 11,11 persen sampah plastik setiap bulan. 

Namun, dari total bahan baku (sampah-Red) yang didatangkan dari luar negeri itu, hanya 60 persen yang bisa didaur ulang. Sisanya berceceran dan berserakan di lahan warga. 

Bahkan diduga sampah berceceran hingga ke aliran Sungai Cibeet. Akibatnya, 10 hingga 15 persen sampah tersebut berpotenai mencemari daerah aliran sungai Cibeet yang merupakan anak Sungai Citarum.***

Bagikan: