Pikiran Rakyat
USD Jual 14.273,00 Beli 13.973,00 | Umumnya cerah, 23.2 ° C

Pemkot Tasikmalaya Kewalahan Atasi Tumpukan Sampah

Bambang Arifianto
Pengendara melintasi tumpukan sampah di Jalan Letnan Harun, Kota Tasikmalaya, Senin, 20 Mei 2019. Pemkot Tasikmalaya kesulitan mengatasi persoalan sampah karena keterbatasan armada pengangkutan.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
Pengendara melintasi tumpukan sampah di Jalan Letnan Harun, Kota Tasikmalaya, Senin, 20 Mei 2019. Pemkot Tasikmalaya kesulitan mengatasi persoalan sampah karena keterbatasan armada pengangkutan.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

TASIKMALAYA, (PR).- Pemerintah Kota Tasikmalaya kesulitan mengatasi persoalan tumpukan sampah yang bertebaran di sejumlah ruas jalan lantaran keterbatasan armada pengangkutan. Di sisi lain, kesadaran masyarakat guna menjaga kebersihan dan tak membuang sampah sembarangan masih minim.

Pantauan "PR", Senin, 20 Mei 2019, tumpukan sampah masih bertebaran di beberapa ruas jalan Kota Tasikmalaya seperti Letnan Harun, Ibrahim Adjie dan Bantar. Di Jalan Letnan Harun, tumpukan sampah terlihat di tiga titik.

Kondisi tersebut masih sama dengan hasil pantauan "PR" pekan lalu. Tak ada perubahan berarti berupa pembersihan total di tiga titik itu yang berada di dekat kawasan Gedung Balai Kota, Pengadilan Agama Kota Tasikmalaya serta Jembatan Cimulu. Sampah-sampah tersebut masih bertumpuk di tepi Letnan Harun. Alih-alih bersih, sampah-sampah lain yang berceceran dengan jumlah kecil malah terlihat pula di jalan itu.

Hal serupa tampak di Jalan Letnan Ibrahim Adjie. Di sana, sampah memenuhi tepian jalan dekat perlintasan kereta api kawasan Indihiang. Keadaan di Jalan Bantar setali tiga uang. Ceceran sampah dengan mudah terlihat pengendara yang melintasinya.

Karla (31), petugas keamanan di Depo Pasar Ikan, Jalan Letnan Harun menyebut tak ada perubahan berupa pembersihan total di sana. Ia mengaku selama bertugas belum melihat adanya kegiatan pengangkutan di titik sampah paling dekat dengan tempatnya bekerja.

Pembersihan terakhir, tuturnya, pernah dilakukan beberapa bulan yang lalu. Ia mengaku, para pelaku buang sampah merupakan pengendara yang melintasi Letnan Harun.

Meski belum terdampak persoalan bau dan banyaknya lalat yang muncul, Karla tetap terganggu dengan kehadiran tumpukan sampah di Letnan Harun. "Terlihat kurang bagus," ujar Karla saat ditemui di tempatnya bekerja, Senin sore.

Pengakuan serupa disampaikan Dede (30), warga Kampung Panoongan, Kelurahan Sukamajukaler, Kecamatan Indihiang. Tepat di dekat warung Dede, sampah bertumpuk di sisi Jalan Letjen Ibrahim Adjie. Dede sempat melarang para pengendara sepeda motor yang membuang sampah di jalan tersebut. "Disorakkin," ujarnya terkait cara untuk menghalau para pembuang sampah.

Akan tetapi, praktik itu tetap mereka ulangi. "Yang buang sampah itu kadang malam kadang subuh," ucapnya. Kendati sampah yang dibuang hanya satu-dua plastik, lama kelamaan menumpuk karena seringnya aktivitas tersebut berlangsung. 

Menurut Dede, tumpukan itu tak dibersihkan petugas karena berada di luar jalur pengangkutan.

Tumpukan sampah di salah satu sudut jalan Kota Tasikmalaya, Senin, 20 Mei 2019.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Idealnya 60 Armada

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Tasikmalaya Ivan Dicksan mengaku telah meminta Dinas Lingkungan Hidup selaku institusi yang bertanggung jawab dalam persoalan sampah untuk melakukan pengangkutan. "Katanya akan mengoptimalkan armada yang ada," ucapnya. Ia menyatakan, armada pengangkutan sampah memang terbatas guna mengatasi penumpukan sampah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Dudi Mulyadi mengonfirmasi keterbatasan tersebut. "Kita itu idealnya 60 armada, kita punya 30," ujar Dudi.

Tak hanya terbatas, usia truk-truk pengangkut sampah Kota Tasikmalaya juga banyak yang tua. "Yang paling muda (umur kendaraannya) tahun 2014 ada empat," ucap Dudi.

Armada tersebut pun merupakan bantuan Pemerintah Provinsi Jabar. Keadaan itu menyulitkan Dinas LH melakukan pembersihan total tumpukan sampah. Apalagi, Dudi menyebut banyak tempat pembuangan sampah liar di tepi-tepi jalan. Selain mesti melakukan pengangkutan rutin, petugas juga mesti mengangkut sampah di TPS liar dengan keterbatasan armada.

Akibatnya, tak semua tempat-tempat sampah itu terjangkau petugas kebersihan. Dudi berharap, adanya penambahan armada pengangkutan baik dari Pemkot, Pemprov atau pemerintah pusat. 
Selama ini, tuturnya, permintaan DLH untuk menambah armada telah sering disampaikan kepada Pemkot. Akan tetapi, hal itu belum dikabulkan. Demikian pula anggota DPRD Kota Tasikmalaya yang belum mendorong agar persoalan keterbatasan armada teratasi.

Setidaknya, tutur Dudi, Pemkot bisa menyediakan satu truk  yang khusus menyisir dan mengangkut sampah-sampah di TPS liar. 
Persoalan lain yang mengemuka adalah minimnya kesadaran masyarakat untuk tak membuang sampah sembarangan. Dudi mencontohkan, sebagian warga yang berbelanja di Pasar Cikurubuk justru membuang sampahnya di tepi jalan wilayah Paseh dan Cieunteung.***

Bagikan: