Pikiran Rakyat
USD Jual 14.393,00 Beli 14.093,00 | Umumnya cerah, 27.9 ° C

Jumlah Perokok Pemula Terus Meningkat

Shofira Hanan
Rokok/REUTERS
Rokok/REUTERS

CIANJUR, (PR).- Jumlah perokok di Kabupaten Cianjur terus meningkat setiap tahunnya. Bahkan, perokok pemula di usia sekolah dasar dan menengah pertama yaitu pada 10-14 tahun diketahui mulai banyak bermunculan di wilayah Cianjur.

Hal tersebut, tidak lain dipengaruhi oleh mudahnya akses untuk mendapatkan rokok di berbagai lokasi. Tidak ada peraturan mengikat yang membuat penjual rokok membatasi penjualan, begitu pula dengan perokok pemula yang hingga saat ini tidak takut untuk mulai merokok secara aktif.

Sayangnya, Dinas Kesehatan Cianjur belum bisa menyajikan data karena saat ini masih perlu dilakukan pendataan ulang terkait jumlah perokok di Cianjur. Namun berdasarkan data terdahulu dalam Riskesdas Provinsi Jawa Barat, Cianjur pernah menjadi kabupaten dengan persentase perokok tertinggi di Jawa Barat, yakni dengan prevalensi perokok tertinggi sebesar 39,2 persen

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur Neneng Efa Fatimah mengatakan, berdasarkan data terdahulu jumlah perokok memang terus meningkat.

”Rata-rata perokok berada pada usia produktif. Bahkan akhir-akhir ini malah perokok pemula di usia belasan tahun sudah mulai banyak ditemukan,” kata Efa, ditemui di Pendopo Cianjur, Senin, 20 Mei 2019.

Ia mengatakan, kondisi tersebut sangat memprihatinkan meskipun Cianjur sebenarnya sudah memiliki Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sejak 2015 lalu. Efa mengaku, penerapannya kurang greget dan bahkan kurang digalakkan di tingkat pemerintahan maupun masyarakat.

Menurut dia, komitmen untuk mengurangi jumlah perokok di Cianjur pun memang perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak. Tidak jauh-jauh berbicara pada masyarakat, Efa menilai semuanya harus dimulai dari lingkungan pemerintah setempat.

”Jadi memang harus secara bertahap, kita mulai dari imbauan agar saling menghargai mereka yang tidak merokok. Dan ini dilakukan oleh bupati, kepala dinas, dan pegawai pemerintahan lainnya, untuk menjadi teladan bagi masyarakat,” ujar dia.

Untuk mendukung semua upaya tersebut, seluruh pihak pun berkomitmen dan mendeklarasikan diri untuk menjadikan Cianjur bebas rokok. Salah satunya dengan memastikan sarana atau fasilitas publik bisa bebas dari rokok.

Efa menyebutkan, kawasan tanpa rokok diberlakukan di perkantoran, sekolah, lokasi kesehatan, lokasi ibadah, dan ruang terbuka yang banyak diakses masyarakat.

”Upaya ini harus konsisten, apalagi untuk mencapai 100 persen. Karena bisa dikatakan sulit ya, apalagi sampai sekarang masih ada kawasan khusus merokok yang seharusnya tidak ada kalau mau mencapai 100 persen bebas rokok,” ucapnya.

Namun, besar harapan agar masyarakat tergerak untuk mau berpartisipasi dalam menciptakan Cianjur sehat tanpa rokok. Ia menegaskan, semakin lama hal itu akan dibutuhkan karena hingga saat ini rokok menjadi salah satu alasan rusaknya indikator keluarga sehat.

Ia menjelaskan, hampir di seluruh puskesmas hanya ada 10-20 persen keluarga sehat. Sisanya, tergolong sebagai keluarga tidak sehat karena ada perokok di dalam keluarganya.

Dengan kata lain, sesedikit apapun jumlah perokok maka itu tetap merusak kondisi kesehatan karena dampaknya yang juga besar bagi individu lain.***

Bagikan: