Pikiran Rakyat
USD Jual 14.285,00 Beli 14.187,00 | Langit umumnya cerah, 19.6 ° C

Sunjaya Jadi Bupati Cuma Beberapa Menit

Novianti Nurulliah
BUPATI Cirebon nonaktif Sunjaya Purwadisastra dikawal petugas usai mengikuti acara pelantikan Bupati Cirebon dan Wakil Bupati Cirebon Masa Jabatan 2019-2024, di Aula Barat Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat 17 Mei 2019. Usai dilantik, Sunjaya Purwadisastra langsung diberhentikan sementara dari jabatannya karena menjadi terdakwa kasus gratifikasi sampai proses hukum yang dijalaninya selesai dan memiliki kekuatan hukum tetap.*/ADE BAYU INDRA/PR
BUPATI Cirebon nonaktif Sunjaya Purwadisastra dikawal petugas usai mengikuti acara pelantikan Bupati Cirebon dan Wakil Bupati Cirebon Masa Jabatan 2019-2024, di Aula Barat Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat 17 Mei 2019. Usai dilantik, Sunjaya Purwadisastra langsung diberhentikan sementara dari jabatannya karena menjadi terdakwa kasus gratifikasi sampai proses hukum yang dijalaninya selesai dan memiliki kekuatan hukum tetap.*/ADE BAYU INDRA/PR

BANDUNG, (PR).- Terdakawa gratifikasi Sunjaya Purwadisastra hanya merasakan beberapa menit menjadi Bupati Cirebon untuk periode 2018-2024. Setelah dilantik bersama wakilnya Imron Rosyadi,  Sunjaya langsung diberhentikan sementara melalui keputusan Kemendagri yang saat itu dibacakan oleh Gubernur Jawa Barat Mochamad Ridwan Kamil di Aula Barat, Gedung Sate,  Jalan Diponegoro,  Kota Bandung,  Jumat 17 Mei 2019. 

Kemendagri melalui keputusan yang dibacakan Biro Kerja sama dan pemerintah Setda Jabat menunjuk Imron wakil bupati Cirebon sebagai pelaksana tugas (Plt).  Setelah prosesi pelantikan plt Bupati Cirebon tersebut langsung, Sunjaya sempat mendapatkan ucapan sesaat kemudian dilarikan dengan pengawasan ketat menjauh dari orang-orang yang mengantre memberikan ucapan selamat kepada pasangan Bupati dan wakil bupati terpilih itu. 

"ini bukan yang pertama (pelantikan bupati yang tengah bermasalah dengan hukum), kami ini sesuai prosedur, hak politiknya (Sunjaya) masih berlaku sebelum inkrah, baik peraturan kemendagri, hak politiknya karena waktu sudah selesai pilkadanya," kata Ridwan usai pelantikan.

Diakui Ridwan,  dalam prosesnya pihaknya telah menempuh konsultasi dengan KPK maupun kemendagri agar di Kabupaten Cirebon tidak ada kekosongan kekuasaan. Pihaknya sempat mengangkat penjabat dulu. Setelah waktunya memadai, konfusif, maka  hak politik Sunjaya diberikan dulu. Tapi setelah itu diberhentikan untuk melaksanakan proses hukum yang berlaku.

"Maka di hari yang sama, kekuasaan tidak kosong lagi, setelah pemberentian ini ada plt. Setelah ini ada satu prosedur lagi, kalau inkrah, plt harus dilantik lagi. Di sini plt jadi bupati," kata dia. 

Menurut Ridwan, pada proses pelantikan tersebut tidak dipungkiri ada ketidaknyamanan, tapi prosedur hukum dan aturan harus dilalui.

"Saya titip warga Cirebon untuk mendukung plt yang kalau inkrah jadi bupati definitif, fokus ke masa depan. Sebagai kawasan insaallah termaju, karena kawasan segitiga Rebana sudah saya rapatkan dengan menko ekonomi, insyaallah disetujui, kita rencanakan tahun ini, ngabret tahun depan, 5 juta tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi jabar meningkat dari 5 jadi 8 sampai 9 persen. Saya bilang kalau peluang ini jadi kenyataan oleh sebuah kepemimpinan," Ujar dia.

Lebih jauh,  pada Imron, Ridwan berpesan bahwa menjadi pemimpin tidak mudah
Karena harus jadi teladan sikap. Keputusan merupakan sebuah kewibaan dari pemimpin. Hakikat seorang pemimpin diukur dari keputusan. 

"Saya doakan Pak Imron selalu mengambil keputusan yang menyelesaikan masalah.Keputusan itu yang jadi wibawa pemimpinan. Hati-hati dengan bisikan. Saya titip, kekuasaan hanya alat bukan tujuan akhir," tutur dia.***
 

Bagikan: