Pikiran Rakyat
USD Jual 14.540,00 Beli 14.240,00 | Umumnya berawan, 28 ° C

Berbekal Ilmu Kias dan Pangasal, RG Cabuli 20 Gadis

Tim Pikiran Rakyat
KAPOLRES Garut AKBP Budi Satria Wiguna dan Ketua P2TP2A Garut, Diah Kurniasari saat ekspos kasus pencabulan yang dilakukan tersangka RG dengan jumlah korban 20 orang yang semuanya gadis di bawah umur.*/AEP HENDY/KABAR PRIANGAN
KAPOLRES Garut AKBP Budi Satria Wiguna dan Ketua P2TP2A Garut, Diah Kurniasari saat ekspos kasus pencabulan yang dilakukan tersangka RG dengan jumlah korban 20 orang yang semuanya gadis di bawah umur.*/AEP HENDY/KABAR PRIANGAN

GARUT, (PR).- Perbuatan bejat yang dilakukan seorang warga Kecamatan Cisewu yang telah merusak kehormatan begitu banyak gadis di bawah umur kini berbuah pahit. RG (26), kini harus berurusan dengan polisi sehingga ia tak bisa lagi leluasa memperdayai para gadis untuk dijadikan korban nafsu bejatnya.

RG pun kini harus mendekam di sel tahanan Mapolres Garut untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya serta menjalani pemeriksaan. Penyesalan yang kini dirasakannya pun kini tak berguna lagi karena hukuman berat sudah menantinya.

"Dari hasil pengakuan kepada petugas pemeriksa, RG menyebutkan telah mencabuli 20 gadis. Namun dari jumlah tersebut ada 8 orang yang benar-benar disetubuhinya sedangkan yang lainnya hanya diraba-raba dan digesek-gesek," ujar Kapolres Garut, AKBP Budi Satria Wiguna saat menggelar ekspos kasus pencabulan yang dilakukan tersangka RG di Mapolres Garut, Rabu 15 Mei 2019.
   
Para gadis korban pencabulan yang dilakukan RG, tutur Budi, semuanya masih di bawah umur dengan usia rata-rata antara 14-16 tahun. Dalam aksinya, RG menggunakan modus berpura-pura menjadi dukun yang bisa membantu menghilangkan kesialan.

Tersangka pun sengaja mencari korban yang tengah dilanda kegalauan karena berbagai masalah yang sedang dihadapinya, mulai dari permasalah asmara, ekonomi, serta yang lainnya melalui media sosial Facebook. Kemudian tersangka menawarkan jasa untuk membantu menghilangkan kesialan para korbannya dengan dalih ia mempunyai ilmu.

"Kepada para korbannya, tersangka mengakui mempunyai dua cara ampuh untuk mengobati mereka yakni dengan ilmu kias dan pangasal. Kias bertujuan untuk menghilangkan kesialan dan pangasal agar kejiwaan korban seperti terlahir kembali," kata Budi.

Ritual pengobatan

Dikatakan Budi, para korbannya tersebut kemudian diajaknya bertemu untuk melakukan ritual pengobatan. Dalam ritual pengobatan itu ada keharusan bagi yang mengobati maupun yang akan diobati untuk membuka baju hingga benar-benar telanjang yang diakhiri dengan perbuatan intim layaknya suami isteri.

Padahal menurut Budi, ritual tersebut hanya akal-akalan yang dilakukan tersangka agar bisa menikmati kemolekan tubuh para korbannya. Hal ini terus berulang terhadap korban lainnya hingga akhirnya mencapai 20 orang. 

"Pengakuan tersangka terkait jumlah korban yang telah dicabulinya ini berubah-ubah dari semula hanya 10 orang dan sehari kemudian bertambah menjadi 15 orang. Berdasarkan hasil pemeriksaan terakhir, pengakuan tersangka berubah kembali menjadi 20  orang korban," ucap Budi kepada wartawan Kabar Priangan, Aep Hendy.

Untuk menimbulkan rasa percaya para korbannya, tutur Budi, tersangka pun mengaku dirinya merupakan guru ngaji dan biasa melakukan pengobatan terhadap berbagai penyakit termasuk berbagai permasalahan yang tegah dihadapi. Padahal keseharinnya tersangka ini hanya sebagai buruh serabutan.

Menurut Kapolres, pelaku menjalankan aksi pencabulan terhadap para korbannya di sejumlah tempat berbeda. Hal itu tergantung pada kesepakatan untuk melakukan pertemuan dengan para korbannya. 

Terpedaya

Pengungkapan kasus ini, kata Budi, berawal dari adanya laporan salah satu korban yang mengaku terpedaya oleh tersangka RG. Polisi pun melakukan investigasi untuk mengungkap kasus ini dan ternyata bukan hanya satu atau dua orang gadis di bawah umur yang telah menjadi korban kebuasan nafsu bejat tersangka RG.

"Kita masih terus melakukan pengembangan kasus guna lebih mengungkapnya. Kita pun menyarankan kepada para korban atau pihak keluarga korban kejahatan seksual tersangka RG ini untuk melapor ke polisi agar kasusnya bisa ditangani dengan tuntas," ujarnya.

Lebih jauh Budi menerangkan, selain memeriksa tersangka RG, pihaknya juga telah meminta keterangan dari sejumlah saksi dalam kasus ini. 

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut, Diah Kurniasari mengaku sangat prihatin dengan terjadinya pencabulan yang memakn begitu banyak korban ini. Apalagi para korban semuanya masih di bawah umur. 

"Kita minta kepada Kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini dan kepada pihak berwenang diharapkan memberikan hukuman seberat-beratnya terhadap pelaku. Sedangkan kita akan lebih fokus dalam hala pendampingan para korban," kata Diah singkat.***  
 

Bagikan: