Pikiran Rakyat
USD Jual 14.670,00 Beli 14.370,00 | Umumnya cerah, 24.4 ° C

AMF Terduga Teroris Asal Manonjaya Dikenal Ramah dan Suka Bersosialisasi

Bambang Arifianto
ILUSTRASI.*/DOK PR
ILUSTRASI.*/DOK PR

SINGAPARNA, (PR).- Penangkapan terduga teroris di Sragen, Jawa Tengah membuat sejumlah warga di Kampung Cikadu, RT 7 ,RW 2, Desa Cilangkap, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya kaget. Soalnya, salah satu terduga berasal dari wilayahnya.

Edi Juandi, Ketua RT 7 mengakui adanya warga Cikadu yang memiliki inisial AMF. Dalam keterangan kepolisian, AMF merupakan salah satu terduga teroris yang dicokok di Gemolong, Sragen pada Selasa, 14 Mei 2019 lalu.

Polisi juga menyebut, AMF yang memiliki nama alias Farel pernah mencoba dua kali berangkat ke Suriah melalui Turki. Akan tetapi, upaya tersebut gagal.

Edi mengatakan, AMF memang merupakan warga asli Cikadu. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi langsung dari kepolisian. Ia mengatakan, AMF merupakan putra pengurus pesantren di Cikadu. Latar belakangnya keluarganya pun berasal dan mengelola pesantren tersebut.

Ia mengaku terakhir bertemu AMF saat mengurus surat untuk pindah tempat tinggal di Jawa Tengah. AMF datang ke kediaman Edi setahun lalu terkait urusannya untuk pindah itu.

AMF memilih menetap di tempat istrinya berasal. Edi menilai, AMF terbilang warga yang ramah.

Ia tak sungkan menyapa warga lain saat bertemu. Selepas bersekolah SMP di Manonjaya, AMF melanjutkan pendidikannya di pesantren di luar Kabupaten Tasikmalaya. "Jarang, langka di sini," kata Junaedi saat ditemui di rumahnya, Kampung Cikadu, Kamis, 16 Mei 2019.

Kendati menuntut ilmu di luar tanah kelahiran, AMF masih menyempatkan diri menengok orang tuanya.

Kebiasaan pulang kampung AMF pun masih diingat warga Cikadu lain, Farid (48). Bahkan, AMF masih menyempatkan diri menjadi pengajar dalam kegiatan pendidikan latihan atau pesantren kilat SD, SMP yang digelar di pesantren itu saat Ramadan.

Ia pun tak keberatan bergabung dalam kegiatan sepak bola Agustusan di kampung halamannya. Tak heran, Edi dan Farid kaget dengan penangkapan AMF.  Mereka tak menyangka jika AMF diduga kepolisian terlibat aktivitas terorm

Menurut Farid, AMF sempat pula ikut membimbing para santri dalam kegiatan luar ruangan seperti lintas alam dan olahraga.

Pria 26 tahun tersebut, lanjutnya, dinilai berani. Ia mencontohkan  dalam kegiatan renungan malam. Para santri yang dibimbingnya mesti melintasi kebun yang dikeramatkan warga saat malam hari. "Jangan takut, takut mah ka Allah," kata Farid menirukan motivasi yang diberikan AMF kepada santri.

Tak ada yang mencurigakan dari perilaku AMF ketika berada di rumahnya. Meski lebih banyak berada di lingkungan pesantren, ia masih tetap berinteraksi dengan warga sekitar.

Kedatang orang tak dikenal 

Kendati demikian, Farid mengaku sempat kedatangan dua orang tak dikenal sekitar tiga tahun lalu. Mereka mengaku berasal dari insitusi antiteror dan menanyakan identitas warga bernama Farel di Cikadu. Tentu saja warga tak mengenal nama tersebut. Belakangan nama Farel disebut kepolisian sebagai nama alias AMF.

"PR" juga menyambangi Fahmi (48), kakak AMF. Fahmi membenarkan kesamaan inisial nama adiknya dengan yang dicokok kepolisian. Begitu pula dengan alamat yang disebut dalam keterangan kepolisian. Tetapi hingga kini belum ada konfirmasi langsung dari aparat Korps Bhayangkara yang datang langsung atau menghubunginya. ‎

"Saya ingin ada konfirmasi kalau memang betul keterkaitannnya apa itu, itu harapan saya, saya sebagai anak yang tertua ingin tahu apa yang terjadi," ucapnya. 
Ia khawatir, kasus tersebut dikait-kaitkan dengan keluarga dan pesantren yang dikelola keluarganya. Apalagi ibunda AMF juga memiliki persoalan kesehatan.

Dikatakannya, sudah hampir 1,6 tahun, AMF tidak pulang ke rumah. "Kita tidak tahu kegiatan dia apa, dengan siapa," ucap Fahmi. Sang adik hanya mengaku bekerja di penggilingan baso.

Setelah menikah, AMF memilih tinggal dengan istrinya di Semarang. Pihak keluarga, lanjut Fahmi, hanya tahu ia tinggal di Semarang dan sempat mengunjunginya di sana. 
Untuk komunikasi melalui telefon, pihak keluarga pun agak terkendala. "Kita selama ini hanya bisa dihubungi dia," tuturnya. Nomor telefon sang adik kerap tak aktif. AMF mengaku nomornya tak aktif karena sibuk bekerja.

Ia menambahkan, AMF memang sempat menuntut ilmu di pesantren di daerah Cirebon setelah lepas SMP di Manonjaya.

Terkait dugaan AMF mencoba masuk ke Suriah, Fahmi tak mengetahui. Namun, ia mendengar adiknya berencana sekolah ke Turki. Jika pun tak diterima sekolah, AMF hanya berwisata saja di Turki.

Fahmi tahu betul adiknya memang hobi bepergian dan mendaki gunung sejak sebelum menikah. Ia tak mempersoalkanya dan sempat berpesan agar AMF hati-hati dalam perjalanannya ke Turki. Hingga kini, Fahmi belum yakin dan berharap bukan adiknya yang dicokok polisi.***

Bagikan: