Pikiran Rakyat
USD Jual 14.106,00 Beli 13.806,00 | Umumnya berawan, 20.6 ° C

Kampung yang Bisa Menghemat Listrik Dapat Hadiah Rp 30 Juta

Hilmi Abdul Halim
TOKOH masyarakat Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyediakan hadiah Rp 30 juta bagi kampung yang bisa menghemat listrik.*/HILMI ABDUL HALIM/PR
TOKOH masyarakat Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyediakan hadiah Rp 30 juta bagi kampung yang bisa menghemat listrik.*/HILMI ABDUL HALIM/PR

IBADAH puasa pada bulan Ramadan memiliki aspek tradisi selain ajaran agama. Masyarakat Sunda di Jawa Barat biasa mengisi waktu puasanya dengan melakukan berbagai kegiatan positif bernilai interaktif, produktif hingga rekreatif.

Sejak dulu, masyarakat umumnya menghabiskan waktu pagi hingga siang hari dengan membaca Alquran dan bekerja. Selanjutnya, mereka melakukan permainan tradisional dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar menjelang berbuka puasa hingga malam setelah salat tarawih.

Namun, seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, kegiatan bersifat tradisional itu mulai ditinggalkan. Masyarakat khususnya generasi muda dinilai lebih memilih menyendiri dan bermain gawai dibandingkan melakukan kegiatan produktif maupun berinteraksi dengan orang lain secara langsung.

Salah seorang tokoh masyarakat Jawa Barat, Dedi Mulyadi merasa prihatin dengan kondisi tersebut. "Di bulan yang suci ini masih banyak hoaks atau kabar bohong yang berseliweran di dunia maya, masih saling berdebat soal politik yang justru dapat mengurangi pahala puasa kita," katanya, Senin 13 Mei 2019 malam.

Saat ditemui seusai mengisi kegiatan buka puasa di Kecamatan Pondoksalam Kabupaten Purwakarta, Dedi mendorong masyarakat untuk melestarikan kembali ke tradisi terdahulu. Seperti, ngadulag (menabuh bedug masjid), bebeledugan (menyalakan meriam kayu) dan saling berbagi makanan.

Hidup tanpa smartphone

Dedi bahkan menantang masyarakat di Kabupaten Purwakarta dan sekitarnya untuk tidak menggunakan listrik dan alat-alat elektronik selama tiga hari berturut-turut pada Ramadan kali ini. "Kampung yang kompak dan berhasil melakukannya saya kasih Rp 30 juta," katanya.

Mantan Bupati Purwakarta itu mengaku tidak bermain-main dengan tantangannya. Kampung yang berani melakukan tantangan tersebut diminta mendaftar langsung ke rumahnya dan akan dipantau oleh tim khusus untuk penilaian peserta.

"Coba anda rasakan sendiri bagaimana tenangnya hidup tanpa listrik dan smartphone sehari-hari. Pasti puasanya juga lebih khusyuk," ujar Dedi. Hal tersebut diakui telah dialaminya sendiri selama ini sehingga ia pun menyarankan masyarakat melakukan hal yang sama.

Tantangan itu pun disambut antusias oleh masyarakat di Kecamatan Pondoksalam. Bahkan, Kepala Desa Salammulya, Mulyana (34) akan mengumumkan kepada masyarakat di setiap kampung untuk mengikuti tantangan tersebut.

"Kami merasa tertantang untuk mengikutinya. Saya yakin masyarakat bisa walaupun sangat sulit karena sudah ketergantungan terhadap listrik dan handphone," kata Mulyana. Ia meyakini upaya tersebut memiliki banyak sisi positifnya.

Menurutnya, tradisi lama masyarakat setempat sudah hampir tidak ada. Contohnya, tradisi membangunkan warga menggunakan bedug keliling pada waktu jam santap sahur. Mulyana pun berkeinginan mengaktifkannya kembali di tengah masyarakat. (Hilmi Abdul Halim/PR)***

Bagikan: