Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian berawan, 17.7 ° C

Alih Fungsi Lahan Memicu Longsor Beruntun Karangjaya Tasikmalaya

Bambang Arifianto
WARGA mencari rute lain setelah jalan rusak dan tertimbun longsor di Kampung Pacargantung, Desa/Kecamatan Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Jumat, 3 Mei 2019. Alih fungsi lahan ikut andil menjadi penyebab longsor di Karangjaya.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
WARGA mencari rute lain setelah jalan rusak dan tertimbun longsor di Kampung Pacargantung, Desa/Kecamatan Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Jumat, 3 Mei 2019. Alih fungsi lahan ikut andil menjadi penyebab longsor di Karangjaya.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

SINGAPARNA, (PR).- Alih fungsi lahan diduga menjadi salah satu pemicu terjadinya longsor beruntun di Kecamatan Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya. Pemerintah mesti menghentikan alih fungsi kawasan hutan menjadi ladang atau kebun warga di perbukitan Karangjaya. 

Longsor beruntun terjadi di kawasan Karangjaya pada Kamis, 2 Mei 2019, dan Senin, 29 April 2019. Dalam kejadian pada Kamis di Kampung Pacargantung, Desa Karangjaya, seorang nenek tewas tertimbun longsoran tanah bukit yang menerjang pemukimannya.

Beberapa hari sebelumnya, longsor juga menerjang wilayah Karangjaya lain di Desa Karanglayung. Peristiwa itu membuat akses jalan sempat terputus.

Bencana yang terus terjadi itu bukan hanya karena faktor cuaca atau hujan yang terus turun. Peneliti geologi Tasikmalaya Irev Jundulloh menilai, ada perubahan jenis tanaman di Karangjaya. Wilayah berbukit tersebut sudah berubah dari hutan menjadi kebun warga.

Irev mencontokan, longsor yang terjadi di Karanglayung. Dalam surveynya, Irev menemukan perubahan jenis tanaman di sana. ‎"Di Karanglayung yang mengalami longsoran ditanami oleh cengkeh berumur enam bulan dan pohon salak serta kapulaga. Pohon pohon tersebut tidak memiliki akar kuat sebagai penahan tanah," kata Irev saat dihubungi, Minggu, 12 Mei 2019.

Hal serupa terjadi di Kampung Pacargantung, Desa Karangjaya. Menurut Irev, Karangjaya memiliki potensi longsor yang sangat tinggi. Seharusnya, lahan kritis di lereng terjal wilayah itu ditanami pohon batang keras yang diibaratkan sebagai paku penahan pergerakan tanah. 

Dari survey di Karanglayung, tutur Irev, banyak warga yang mengganti tanamannya dengan tanaman yang lebih menjanjikan seperti kapulaga dan cengkeh. "Tetapi masyarakat tidak tahu potensi longsor jika tidak ada kesesuaian tanaman dan lahan," ujarnya.

Khusus untuk kecamatan Karangjaya, tutur Irev, daerah longsor biasanya memiliki ketebalan tanah 2-5 meter. "Jadi untuk tanah dengan ketebalan 2-5 meter harus ditanami oleh tumbuhan batang keras supaya bisa menjadi penahan tanah," ujarnya.

Ia meminta Pemkab Tasikmalaya juga melakukan pemetaan detail terhadap wilayah rawan bencana di wilayahnya, termasuk Karangjaya. ‎ "Selama ini, pemetaan rawan bencana longsor berdasarkan penginderaan jauh saja tanpa adanya kajian langsung di lapangan," ujarnya.

Padahal dengan kajian yang langsung dilakukan di lapangan potensi bencana bisa lebih dipetakan dengan rinci.***

Bagikan: