Pikiran Rakyat
USD Jual 14.118,00 Beli 14.216,00 | Sebagian cerah, 29.9 ° C

Cianjur Berlimpah Hasil Bumi, Tapi 70 Persen Kebutuhan Warga Ditopang Pasokan Impor

Shofira Hanan
ILUSTRASI.*/ANTARA
ILUSTRASI.*/ANTARA

CIANJUR, (PR).- Pemerintah daerah terus mengupayakan agar pasokan sayur mayur lokal tidak habis dijual keluar kota. Hal itu dikarenakan, saat ini Cianjur dinilai memiliki persediaan kebutuhan lokal, tapi tetap mengalami kekurangan, karena hasil bumi yang mayoritas dijual ke luar daerah.

Kepala Dinas Perdagangan Perindustrian dan KUMKM Cianjur Himam Haris mengatakan, selama ini 70 persen kebutuhan sayur mayur masih ditopang oleh pasokan impor. ”Karena pasokan dari petani kita itu lebih banyak dijual ke luar kota, seperti Jakarta. Harga beli yang tinggi dibandingkan di dalam kota, membuat mereka lebih mengutamakan pasokan ke luar,” ujar Himam, Jumat, 10 Mei 2019.

Kondisi tersebut seringkali terjadi, meskipun barang tersedia tapi pengendaliannya cenderung tidak terpantau. Apalagi, sistem jual beli dari petani, bandar, dan pedagang pun saat ini memang masih bersifat terbuka karena pembelian barang yang mayoritas dilakukan sendiri-sendiri.

Sebenarnya, dinas menginginkan agar sayur lokal dibeli dengan harga tinggi agar tidak terus dijual ke luar. Akan tetapi, diperlukan pengelola dalam sistem tersebut, yakni BUMD yang saat ini belum berjalan.

”Kan bisa langsung kita beli ke petani dan bandar besar, seperti yang di Pacet dan Cipanas. Jadi sayur kita itu tidak lantas ibaratnya lari terus untuk kebutuhan luar kota,” ucapnya.

Selain itu, Himam juga ingin mengupayakan solusi bersama Bulog dalam sistem perdagangan. Ia menjelaskan, bandar nantinya diharapkan bisa membeli kebutuhan ke Bulog. 
Kemudian Bulog yang akan mencari kebutuhan ke pusat untuk dipenuhi, hingga kemudian bisa berlanjut sampai ke tingkat pedagang.

”Tapi ya sayangnya sistem seperti itu belum berjalan. Soalnya, Bulog belum diberikan pengelolaan untuk impor sayur,” kata dia.

Oleh karena itu, Himam mencari alternatif lain dengan mengumpulkan bandar agar bisa bernegosiasi terkait harga dan pasokan sejumlah komoditas pasar.***

Bagikan: