Pikiran Rakyat
USD Jual 14.540,00 Beli 14.240,00 | Umumnya berawan, 25.5 ° C

Buruh Tani Minim, Panen Padi Gunakan Alat Modern Lebih Hemat

Gelar Gandarasa
PETANI di Kecamatan Sliyeg menggunakan alat pertanian modern, beberapa waktu lalu. Minimnya ketersediaan tenaga bantuan membuat petani memakai alat tersebut.*/GELAR GANDARASA/PR
PETANI di Kecamatan Sliyeg menggunakan alat pertanian modern, beberapa waktu lalu. Minimnya ketersediaan tenaga bantuan membuat petani memakai alat tersebut.*/GELAR GANDARASA/PR

INDRAMAYU, (PR).- Petani di Kabupaten Indramayu terpaksa memanfaatkan teknologi pertanian dalam memanen sawah mereka. Pemanfaatan teknologi itu dilakukan mengingat kurangnya jumlah buruh tani saat ini. Kurangnya tenaga buruh tani imbas dari panen yang dilakukan secara serentak.

Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu Sutatang mengatakan, panen serentak membuat ketersediaan tenaga buruh tani semakin menipis. Hal itu terjadi karena tak imbangnya jumlah luasan panen dengan jumlah buruh yang ada. Apalagi kebanyakan usia parah buruh tani sudah tidak lagi muda. Hal itu diperparah dengan minimnya regenerasi. “Kita kekurangan buruh tani,” kata dia, Kamis 9 Mei 2019. 

Tak ayal saat ini tenaga buruh pertanian tengah menjadi incaran para pemilik lahan sawah. Jika beruntung mereka akan mendapatkan bantuan tenaga dari buruh tani. Namun jika tak kebagian mereka mau tak mau harus mencari cara lain supaya panen bisa terus berjalan.

Salah satu cara yang dilakukan guna menyikapi kurangnya buruh yakni dengan memanfaatkan alat pertanian modern. “Pakai mesin untuk memanen imbas dari kurangnya buruh,” ujarnya. 

Sutatang mengatakan, secara matematis biaya produksi penggunaan alat pertanian tak begitu jauh jika dibandingkan dengan buruh tani. Selilishnya dalam satu hektare lahan panen hanya Rp 600.000 saja. “Kalau pakai tenaga buruh per hektarenya Rp 4,6 juta. Kalau pakai mesin di angka Rp Rp 4 juta,” jelas dia.

Meski lebih murah, terkadang petani kurang begitu terbiasa menggunakan alat pertanian modern. Mereka pun masih terbiasa menggunakan jasa buruh tani untuk membantu melakukan panen raya. Dia mengatakan, jika sudah terbiasa bukan tak mungkin ke depannya para petani akan terbiasa dengan alat pertanian modern.

Petani asal Desa Tugu Iskak menuturkan, ongkos sewa menggunakan alat pertanian modern satu hektarenya dibandrol Rp 4 juta. Ada beberapa manfaat yang didapatkan dirinya saat menggunakan alat pertanian modern. Dia menilai, waktu proses panen menggunakan alat modern sangat cepat. “Satu bau dua jam. Kalau manual bisa empat sampai lima hari,” terang dia. Selain itu, menurutnya kualitas gabah hasil panen yang didapat lebih bagus. “Praktis kan digunakannya,” ujarnya.

Lain hal dengan apa yang diungkapkan oleh Tulad petani asal Lombang, Indramayu. Dia mengaku, masih enggan menggunakan alat pertanian modern. Sebab dia khawatir lahan pekerjaan para buruh tani akan tergusur. Jika begitu maka bisa menutup mata pencaharian sebagian warga yang bergantung pada profesi buruh tani. “Nanti para buruh bisa menganggur,” katanya.

Sementara itu, harga gabah di Kabupaten Indramayu saat ini masih terpantau normal. Satu kilogram gabah masih dihargai berkisar antara Rp 4.500- Rp 5.000. Tinggi rendahnya harga gabah sangat dipengaruhi oleh kualitas gabah milik para petani.***
 

Bagikan: