Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya cerah, 24 ° C

Empat Bulan Pertama di 2019, Kasus Kekerasan pada Anak di Majalengka Melebihi Jumlah Kasus Sepanjang 2018

Tim Pikiran Rakyat
ILUSTRASI kekerasan terhadap anak.*/DOK PR
ILUSTRASI kekerasan terhadap anak.*/DOK PR

MAJALENGKA, (PR).- Angka kekerasan terhadap anak di Kabupaten Majalengka tahun ini meningkat tajam dibanding tahun lalu di periode yang sama. Peningkatannya bahkan lebih dari 100 persen dengan kasus yang paling banyak adalah kekerasan seksual.

Menurut Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana Kabupaten Majalengka, Rieswan Graha, angka kekerasan terhadap anak sejak Januari 2019 hingga April 2019 telah mencapai 18 kasus.

Rieswan yang didampingi Kepala Bidang Perlindungan Anak, Yuyun Yuhana, mengatakan, angka itu meningkat cukup tajam dibading tahun lalu di periode yang sama. Pada periode yang sama, jumlah sebanyak tujuh kasus dan sepanjang tahun 2018 mencapai 16 kasus.

“Tahun lalu, jumlah kekerasan selama setahun 16 kasus. Sekarang, hingga April 2019 sudah mencapai 18 kasus jadi sangat tinggi dan tentu harus terus berupaya untuk ditekan,” kata Rieswan seperti dilaporkan Tati Purnawati untuk Kabar Cirebon.

Kasus kekerasan ini rata-rata dialami anak-anak di bawah usia 15 tahun. Hampir 100 persen dari kasus itu merupakan kekerasan seksual. Para pelakunya adalah orang-orang dekat korban, bahkan banyak kasus yang dilakukan oleh keluarganya sendiri, seperti paman, ayah tiri, hingga kakek dan tetangga. Sebagian, ada yang menjadi korban akibat media sosial.

“Disebut korban media sosial karena berawal dari komunikasi di media sosial. Komunikasi mereka terus intens hingga akhirnya melakukan pertemuan di dunia nyata, hingga terjadilah aksi kekerasan seperti yang kasusnya terjadi di Kecamatan Jatitujuh beberapa waktu lalu,” ungkapnya.

Dari kasus yang terungkap, mayoritas korban tinggal bersama dengan nenek dan atau kakeknya setelah orang tua mereka meninggal atau bercerai. Ada pula yang ibunya pergi bekerja menjadi buruh migran.

ILUSTRASI kekerasan seksual.*/ DOK.PIKIRAN RAKYAT

Upaya untuk menekan angka kekerasan butuh dukungan semua pihak

Upaya untuk menekan angka kekerasan, menurut Rieswan, membutuhkan dukungan banyak pihak. Tidak hanya pemerintah, tapi juga dukungan keluarga, tetangga, sahabat,  sekolah, guru agama di sekitar rumah, dan semua pihak lainnya.

Bagi keluarga yang memiliki anak remaja, kata dia, jsupaya tidak membebaskan anaknya untuk terus beraktivitas di media sosial. Bila anak menggunakan media sosial, orang tua harus memeriksa konten yang dilihatnya sehingga  benar-benar terawasi.

Sementara, untuk pemulihan prikologis para korban, ia mengatakan bahwa pemerintah menyediakan psikolog agar traumatik mereka hilang. Ia pun mengimbau kepada siapapun yang menjadi korban aksi kekerasan atau melihatnya supaya segera melaporkan kasusnya ke DP3AKB atau langsung ke kepolisian.***

Bagikan: