Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Cerah berawan, 27.2 ° C

Sepi, Hari Buruh di Majalengka

Tim Pikiran Rakyat
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kabupaten Majalengka, Lili Sadeli,*/ TATI PURNAWATI/PR
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kabupaten Majalengka, Lili Sadeli,*/ TATI PURNAWATI/PR

MAJALENGKA,(PR).- Hari Buruh di Kabupaten Majalengka nyaris tak diisi dengan kegiatan khusus, sepi. Tidak ada aktivitas yang dilakukan buruh, tampaknya mereka lebih memilih libur kerja dan melakukan aktivitas masing-masing.

Padahal  di Kabupaten Majalengka ada sekitar 15 ribu tenaga kerja lokal yang bekerja di 30 industri besar di Kabupaten Majalengka. Mereka kebanyakan bekerja di industri garmen, alas kaki seperti sepatu dan kaus kaki, serta alat kesehatan.

“Jumlah tenaga kerja dan industri di Kabupaten Majalengka diperkirakan masih akan terus bertambah hingga 10 tahun ke depan. Terlebih Kabupaten Majalengka seperti yang dicanangkan Gubernur akan menjadi salah satu wilayah segitiga rebana dan Citarum Harum, yang mewajibkan sejumlah industri di sepanjang aliran sungai Citarum untuk pindah,” kata Lili Sadeli , Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kabupaten Majalengka, di saat memantau peringatan hari buruh, Rabu 1 Mei 2019.

Menurut Lili, perkembangan industri di Majalengka ini baru terjadi lima tahun terakhir, diperkirakan lima hingga 10 tahun ke depan industri masih akan terus berkembang di Majalengka. “Maka kemungkinanya tenaga kerja juga akan terus berkembang pesat,” ungkap Lili.

Sekarang, kata Lili, yang harus di jaga adalah membangun iklim kerja yang kondusif agar investor terus datang untuk berinvestasi di Majalengka.

Tenaga asing

Pada kesempatan yang sama Lili mengatakan, ada 70 tenaga kerja asing dari berbagai negara yang dipekerjakan di 30 perusahaan besar di Kabupaten Majalengka. Status pekerjaan mereka adalah tenaga ahli yang dibawa oleh pihak manajemen perusahaan, keberadaan mereka pun menjadi penyumbang Pendapatan Asli Daerah.

“Tenaga kerja asing yang ada di Kabupaten Majalengka ini tersebar di sejumlah pabrik, mereka ada yang berasal dari Korea yang rata-rata bekerja di pabrik garmen. Semuanya tenaga ahli yang mereka bawa memiliki keahlian khusus,” ungkap Lili Sadeli seperti dilaporkan Tati Purnawati, wartawan Kabar Cirebon.

Keberadaan tenaga asing ini dinilai wajar karena investor  yang menanamkan usahanya di Majalengka berasal dari luar, sehingga butuh tenaga ahli yang mereka percayai untuk bekerja sesuai keahlian yang dibutuhkan perusahaan. Para tenaga ahli ini mendampingi tenaga lokal atau tenaga kerja asal Indonesia untuk mentransformasikan  keahliannya. Dengan demikian setelah tenaga lokal mahir, tenaga asing akan kembali ke negaranya atau berpindah tempat kerja dimana perusahaan membuka industri baru.

“Para tenaga kerja asing ini tercatat secara resmi. Perusahaan tempat kerjanya dikenakan retribusi ini mempekerjakan tenaga kerja asing (IMTA). Mereka memiliki kewajiban membayar retribusi senilai 100 USD per bulan. Pembayarannya dilakukan langsung ke kas daerah bagi pekerja yang tercatat di daerah. Hanya kalau mereka tercatat sebagai tenaga kerja di provinsi dan hanya sewaktu-waktu datang ke pabrik yang ada di Majalengka maka retribusi masuk ke kas Pemprov Jabar,” ungkap Lili Sadeli.

Oleh karena itu, pemerintah Kabupaten Majalengka mendesak perusahaan agar tenaga kerja asing ini bisa tercacat sebagai pekerja yang ada di Kabupaten Majalengka agar retribusinya bisa menjadi sektor Pendapatan  Asli Daerah.***

 

Bagikan: